Rezim Komunis RRC Bantah Tweet Sterilisasi Paksa Muslimah Uighur

Padahal, kamp-kamp tersebut adalah penjara bagi Uighur. Menurut penelitian Zenz, otoritas China akan menahan perempuan yang tidak mengikuti aturan pemasangan paksa alat kontrasepsi IUD (alat pencegah kehamilan), sterilisasi, bahkan aborsi.

“Kami pertama kali mengira bahwa penahanan dan penegakan ketat keluarga berencana sangat menekan tingkat pertumbuhan penduduk di wilayah Uighur,” kata Zenz kepada ABC News pada bulan Juni.

“Tapi kemudian saya dikejutkan ketika saya mencoba menggali lebih dalam, dan menemukan rencana untuk mengurangi kelahiran alami atau pertumbuhan populasi alami mendekati nol pada tahun 2020,” kata Zenz.

Meski sempat dibantah, tampaknya pemerintah China saat ini setuju dengan penelitian Zenz. Bahwa angka kelahiran di Xinjiang menurun dari 1,6 persen pada 2017 menjadi 1 persen pada 2018 dan tingkat pertumbuhan penduduk alami turun dari 1,1 persen menjadi 0,6 persen.

Sebuah artikel yang ditweet Kedutaan Besar China di Amerika Serikat, membandingkan pertumbuhan populasi Uighur dengan mayoritas Han. Etnis Han China merupakan kelompok etnis utama negara itu.

Pemerintah China mengklaim, bahwa selama bertahun-tahun telah terjadi pertumbuhan secara tidak proporsional yang menguntungkan orang Uighur.

Yakni ketika populasi (Uighur) tumbuh 10,2 juta pada 2010 menjadi 12,7 juta pada 2018, meningkat lebih dari 25 persen. “Sedangkan populasi orang Han di wilayah tersebut meningkat hanya 2 persen menjadi 9 juta pada periode yang sama,” tulisnya.

Namun demikian China tetap dengan tegas menyangkal tuduhan sterilisasi paksa. China bahkan memanggil Adrian Zenz dan penelitiannya secara langsung, yang menyatakan bahwa penurunan populasi sebagian besar adalah hasil dari tindakan keras negara tersebut terhadap terorisme dan bukan karena sterilisasi paksa terhadap perempuan Uighur.

“Dalam proses pemberantasan ekstremisme, pikiran perempuan Uighur dibebaskan dan kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi dipromosikan, menjadikan mereka bukan lagi sebagai mesin pembuat bayi, perempuan telah berjuang untuk menjadi sehat, percaya diri dan mandiri,” menurut studi baru pemerintah.

Laporan berita bulan lalu mengindikasikan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk mengklasifikasikan tindakan China di Xinjiang sebagai genosida.

Departemen Luar Negeri tidak akan mengkonfirmasi laporan ini, tetapi seorang juru bicara mengatakan departemen tersebut “sangat prihatin tentang kampanye represi mengerikan Republik Rakyat China di Xinjiang terhadap orang Uighur dan anggota kelompok minoritas Muslim lainnya.” (rol)

Sumber: https://abcnews.go.com/International/chinese-embassy-tweet-uighurs-birth-rate-draws-instant/story?id=75118569