free hit counters
 

Detik-Detik Terakhir Mubarak

Mashadi – Sabtu, 22 Safar 1432 H / 29 Januari 2011 19:49 WIB

Hari-hari menjelang berakhirnya rezim Mubarak, semakin nampak, keluarganya secara diam-diam meninggalkan ibukota Cairo. Kantor Pusat Partai NDP telah dibakar massa. Mubarak tidak banyak pilihan lagi.

Satu-satunya yang menjadi taruhan hanya kesetiaan militer. Militer menjadi pilar kekuasaan, sejak kudeta tahun 1952. Di mana rezim militer mengambil alih kekuasaan di Mesir dari monarkhi secara bergantian, mulai dari Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, dan kemudian Hosni Mubarak.

Tetapi, militer mulai ragu-ragu untuk berhadapan terus dengan massa rakyat, seperti yang nampak, di beberapa kota di Mesir, mereka bersikap familiar dengan rakyat, seperti Alexandria. Mereka tidak mau mengambil bagian aksi kekerasan melawan rakyat. Para analis mengatakan, jika aksi protes ini terus berlangsung hingga lima hari, atau sepekan, maka Mubarak akan hengkang. Meninggalkan Cairo.

Mubarak sudah panik, karena mengerahkan seluruh kekuatan militernya, yang berjumlah 450.000 pasukan, memenuhi jalan-jalan di seantero Mesir. Menurut mantan Dubes AS di Cairo, Edward Walker, pengerahan pasukan militer yang dilakukan oleh Mubarak, hanya menunjukkan semakin paniknya rezim itu, dan justru akan semakin membahayakan kekuasaannya.

Sementara itu, Anaknya Gamal dan isterinya serta keluarganya sudah terlebih dahulu hengkang dari Cairo, menuju London, dan sekarang konon, meminta suaka di AS. Tak ada lagi yang dapat diharapkan oleh Mubarak untuk bertahan. AS menjadi tempat pilihan para diktator untuk mendapatkan tempat berlindung.

Media-media yang ada Cairo semuanya mendukung aksi ‘revolusi’ yang dilakukan rakyat Mesir, tidak ada yang bersikap negatif. Tidak ada yang menjuluki aksi yang dilakukan oleh rakyat itu sebagai tindakan teroris. Di tengah-tengah blokade yang dilakukan pemerintah terhadap media, seperti internet, telpon cell, tweeter, dan lainnya, tetapi gaung gerakan ‘revolusi’ di Mesir, semakin menggema dan rakyat terus bergerak menghadapi kekuatan militer.

Barack Obama, yang merupakan mitra  Mubarak, mengisyaratkan dukungan adanya perubahan. Tidak ada situasi yang sekarang berlangsung di Mesir, yang dapat membenarkan Obama secara ekplisit tetap berada di belakang Mubarak, dan memberikan dukungan keberlangsungan rezim diktator, yang sudah ditolak rakyatnya.

Diam-diam Dubes AS di Cairo Margareth Scoby, mengatur kepergian Mubarak, dan sekarang sedang melakukan dialog dengan para tokoh partai NDP, dan mencari pengganti Mubarak, yang sudah tidak lagi dikehendaki rakyatnya.

Nampaknya, AS menyadari situasi ini, dan Scoby sedang melangsungkan negosiasi dengan Partai NDP, partainya Hosni Mubarak dan kalangan oposisi, mencari pengganti Mubarak, dan yang dapat menjamin kepentingan AS. (mn/nwk)

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus