free hit counters
 

Di Balik Bocornya Laporan Perang Afghanistan

Saad Saefullah – Selasa, 14 Sya'ban 1431 H / 27 Juli 2010 10:54 WIB

Kebocoran dokumen yang terjadi awal pekan ini, disinyalir telah membuat keraguan lebih dalam lagi tentang perang Afghanistan bagi Amerika Serikat. Kebocoran dokumen itu sendiri menyebabkan gesekan baru dengan Pakistan atas tuduhan sehubungan agen mata-mata dan menimbulkan pertanyaan di seluruh dunia tentang kemampuan Washington dalam melindungi rahasia militernya.

Gedung Putih menyebut kebocoran itu sebagai sesuatu yang "mengkhawatirkan."

Lebih dari 91.000 dokumen rahasia saat ini memang bocor, dan menjadi salah satu kebocoran terbesar dalam sejarah militer. Kebocoran itu memperlihatkan bahwa AS menjalani perang bukan hanya di luar negeri saja, tetapi juga di "rumah sendiri." Salah satu materi dokumen itu memperlihatkan penentangan perang di Kongres dan ini telah berjalan buntu.

Jajak pendapat menemukan bahwa mayoritas rakyat Amerika tidak lagi berpikir bahwa perang (Afghanistan) layak untuk diperjuangkan. Oposisi di pemerintahan Amerika melihat bahwa Afghanistan adalah sebuah rawa yang tak bisa dimenangkan.

Kaum Demokrat di Gedung Putih saat ini dipastikan tengah pusing tujuh keliling, karena dengan adanya keputusan meninggalkan pasukan dalam kesusahan di zona perang di luar negeri merupakan bunuh diri politik, sedangkan mereka akan menghadapi liburan politik selama enam pekan lamanya.



Pentagon juga melihat berbagai kerusakan di Afghanistan.

"Seseorang tidak sengaja atau sengaja memberikan daftar baru musuh mereka kepada Taliban,’" kata Jane Harman, yang mengatakan Gedung Putih menunjukkan kompromi akan Afghanistan.

Juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs menegaskan bahwa dokumen-dokumen itu sebenarnya ada pada periode sebelum Obama meningkatkan pasukan Amerika di Afghanistan, dan pemerintah membantah mereka akan menyebabkan perubahan kebijakan dalam perang melawan pejuang Taliban.

Namun, informasi dalam dokumen itu tidak mengungkapkan masalah dan solusi baru dalam upaya melawan perang. Para perwira militer, baik yang sekarang masih bertugas dan ataupun yang sudah pensiun, menggambarkan dokumen itu sebagai laporan yang hanya meliputi laporan taktis, termasuk dugaan tentang kemungkinan tersangka bom dan plot yang tidak bisa diverifikasi. (sa/yahoonews)

Dunia Islam Terbaru