free hit counters
 

Ekonomi Global Diambang Krisis?

Mashadi – Jumat, 5 Agustus 2011 13:33 WIB

Kekhawatiran bahwa ekonomi global dapat tergelincir kembali ke jurang resesi ditujukkan saat pasar uang jatuh, pada Kamis. Kondisi ini menimbulkan masalah ekonomi dan keuangan di secara global, serta memicu lingkaran setan bahwa risiko spiral, yang  di luar kendali pemerintah.

Di kawasan Atlantik (Amerika dan Eropa), tanda-tanda penting memburuknya kondisi ekonomi berkembang dengan cepat. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang sangat lambat, dan tarik-menarik berbagai kepentingan politik terkait dengan krisis utang, akibatnya mengancam Eropa, dan sekarang menyebabkan Spanyol dan Italia, yang merupakan dua kekuatan ekonomi benua terbesar eropa harus gulung tikar. Sesudah Yunani, tak lagi dapat ditolong. Ini benar-benar bencana yang terjadi sekarang.

Investor khawatir akan terjadi lagi resesi di Amerika Serikat, di mana negeri itu mengambil bagian terbesar dalam ekonomi global. Sinyal resesi itu diperlihatkan di mana indek saham Dow Jones Industrial Average turun 512 poin.

Mengapa pasar jatuh?

Investor semakin khawatir bahwa pemerintah terkemuka di dunia seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, terbebani oleh utang dan oleh krisis ekonomi terakhir, dan sudah tidak lagi memiliki sarana untuk menghadapi krisis yang muncul.

Stuasi yang berbahaya bergerak sangat cepat, di mana krisis utang menyebar di Eropa menciptakan resiko baru untuk Amerika Serikat. Sedangkan resesi AS membuat krisis fiskal Eropa bahkan lebih buruk. Dan bahaya krisis yang datang ini, mungkin akan semakin meningkatkan ekonomi Cina, sebagai kekuatan ekonomi yang baru, yang mampu memperlambat krisis perekonomian mereka untuk memerangi inflasi.

Investor begitu takut bahwa mereka pada dasarnya ingin mengambil uang mereka, dan mereka takut pemerintah AS tidak mampu membayar mereka.

Ini adalah zaman keuangan bergejolak, Bank of New York Mellon mengatakan akan bertanggung jawab terhadap deposan dalam jumlah besar untuk hak istimewa – biaya 0,13 persen pada deposito tunai lebih dari $ 50 juta.



Lembaga-lembaga besar telah menghindari pasar pinjaman jangka pendek di mana mereka biasanya tempat membayar tunai, bukan menempatkan dalam rekening bank – sebuah bank ingin menghalangi praktik serupa, karena mereka sudah memiliki deposito lebih dari yang mereka pikir bisa meminjamkan menguntungkan.

Bank Sentral dunia mengambil serangkaian tindakan untuk mengatasi gejolak di pasar. Bank Sentral Eropa pada hari Kamis kembali membeli obligasi negara-negara Eropa yang telah melarikan diri investor, membantu menopang nilai utang Irlandia dan Portugis. Bank of Japan melakukan intervensi untuk mencoba untuk menjaga nilai yen dari naik begitu tinggi sehingga akan merusak ekonomi Jepang sudah lemah.

Dan pada hari Rabu, Swiss National Bank melakukan langkah serupa, berusaha untuk membendung peningkatan tajam dalam nilai franc Swiss, dianggap sebagai perlindungan global di masa yang bergolak.

Saham jatuh di pasar Asia Jumat pagi. Indek Nikkei Jepang turun 225 poin atau 3,4 persen pada awal perdagangan, dan pasar di Hong Kong, Sydney dan Taiwan mengalami kerugian 4 persen atau lebih. (mh/tm)

Dunia Islam Terbaru