free hit counters
 

Maraknya SMS Perceraian di Tajikistan

Al Furqan – Sabtu, 7 Syawwal 1430 H / 26 September 2009 08:00 WIB

Sebuah SMS pendek telah merobek-robek perkawinan Nodira yang telah bertahun-tahun ia jalani sepanjang kehidupannya .

"Saya terkejut setelah membaca SMS," kata Nodira (29 tahun) kepada (AFP) Jumat kemarin (25/9), .

Muslimah ini mendapat sebuah kejutan dalam hidupnya setelah menerima SMS perceraian dari suaminya, yang pergi ke Rusia tahun lalu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

"Saya langsung berpikir SMS ini adalah kesalahan atau ada seseorang yang membuat lelucon jahat," kata ibu muda yang sedang berduka tersebut.

"Saya berpikiran buruk dalam benakku, ingin rasanya menggantung diri atau menenggelamkan diri atau minum racun, daripada malu seperti ini."

Nodira menunggu suaminya selama bertahun-tahun, namun Nodira tidak pernah membayangkan bahwa pernikahannya akan berakhir dengan sebuah deklarasi pendek dari sebuah SMS perceraian dari suaminya.

"Apakah saya telah melakukan kesalahan?" tanya Nodira.

"Pertanyaan ini masih menyiksa saya."

Tajikistan, salah satu dari lima negara Asia Tengah bekas Uni Soviet, memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1991.

Negara Termiskin di Asia Tengah tersebut, telah berusaha memodernisasi diri sejak terjadinya perang saudara pada 1990-an, mendorong ribuan warga Tajik untuk mencari peluang pekerjaan yang lebih baik di luar negeri.

"Seluruh masalah terkait perceraian muncul dengan berawal banyaknya migrasi tenaga kerja di Tajikistan pada awal tahun 1990-an," kata Dorsultan Shonazirova, seorang pengacara yang mengkhususkan diri dalam isu-isu hak-hak perempuan.

Umat Muslim merupakan hampir 90 persen dari penduduk Tajikistan yang berjumlah 7,2 juta penduduk, menurut CIA factbook.

Dilema

Bagi perempuan Tajik , perceraian berarti awal dari sebuah dilema karena kurangnya dokumentasi perkawinan mereka.

"Tidak semua gadis mendaftarkan secara resmi perkawinan mereka," kata Shonazirova.

"Tapi dalam hal perceraian hukum harus melindungi hak-hak mereka untuk mendapatkan tunjangan bagi anak-anak dan rumah tangga mereka yang terbagi dua."

Shamsov Khalim (24 tahun) diceraikan setelah bentrok dengan keluarganya.

Marah padanya, suaminya menceraikannya melalui sebuah SMS, meninggalkannya begitu saja dirinya untuk merawat anaknya yang baru berumur sembilan bulan.

"Hal itu menakutkan di awal karena saya harus membesarkan anak tanpa ayahnya," kata Shamsov.

Setelah beberapa waktu, Shamsov mulai beradaptasi dengan kehidupan sebagai seorang perempuan yang diceraikan.

"Allah Maha Pengasih, saya punya tangan dan kaki, dan saya akan pergi bekerja sebagai penjaga halaman, jika itu memungkinkan.

"Saya tidak akan membiarkan anak perempuan saya menikah dini. Saya tidak akan membiarkan dia mengalami seperti apa yang saya alami.

"Saya akan memberikan dia pendidikan yang baik dan mendapatkan sebuah pekerjaan."(fq/iol)

loading...

Dunia Islam Terbaru

blog comments powered by Disqus