free hit counters
 

Buku 'Aku Mau Ayah'

Muhammad Nuh – Selasa, 5 Zulhijjah 1430 H / 24 November 2009 16:03 WIB

Makna judul pada tulisan ini bukan menunjukkan bahwa seorang anak telah yatim. Tapi, lebih menunjukkan kerinduan seorang anak terhadap peran seorang ayah dalam keseharian mereka. Inilah mungkin ungkapan protes seorang anak terhadap ayahnya.

Protes anak terhadap ayahnya ini dituangkan seorang penulis inspiratif religius, Irwan Rinaldi dalam bukunya yang berjudul ‘Aku Mau Ayah’. Buku saku setebal 210 halaman ini sarat dengan autokritik terhadap sosok ayah dalam kehidupan anak-anaknya.

“Saya prihatin dengan kian minimnya peran ayah dalam keseharian anak-anak mereka. Ketika berangkat, anak-anak belum bangun tidur. Dan, ketika sang ayah pulang, anak-anak sudah tertidur,” ucap Irwan begitu prihatin.



Pada kurang lebih satu setengah jam, Irwan memaparkan kegundahannya terhadap sosok ayah dalam acara bedah buku ’Aku Mau Ayah’ di Jakarta, kemarin. ”Sudah begitu banyak anak yatim saat ini. Karena itu, jangan tambah anak-anak ’yatim’ dalam peran seorang ayah,” ujar penulis yang juga aktif dalam dunia akting ini.

Suami dari psikolog anak, Ery Sukresno ini pernah membitangi sebuah film ’Sang Murobbi’ yang menceritakan sosok seorang Ustadz Rahmat Abdullah dalam kancah dakwah Partai Keadilan Sejahtera.

Di antara judul-judul dalam buku itu, ada suatu ungkapan Irwan yang cukup menarik, ’Ayahku Seorang Politisi Busuk’. Inilah di antara judul yang mengambil sudut pandang seorang anak ketika lingkungan mereka memvonis ayah kebanggaan mereka ternyata dicap sebagai politisi busuk.

Dalam bukunya yang ketujuh ini, Irwan Rinaldi ingin menyampaikan pesan bahwa anak-anak adalah anugerah Allah yang begitu mahal. Jangan biarkan nilai tinggi ini menjadi susut karena kelengahan seorang yang bernama ’ayah’. Apa pun alasannya. Apakah karena atas nama bisnis, dakwah, partai, dan karir. mnh

Info Umat Terbaru

blog comments powered by Disqus