free hit counters
 

35 Juta Warga AS Tidak Suka dengan Yahudi

Rizki Ridyasmara – Jumat, 2 November 2007 08:49 WIB

Sebuah hasil survei berskala nasional baru saja dirilis Anti-Defamation League (ADL), sebuah lembaga Zionis-Yahudi di Amerika Serikat yang gencar membela kepentingan Israel. Hasil survei yang dilansir per 1 November kemarin menemukan fakta bahwa sikap Anti-Semit di kalangan warga AS meningkat tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini ditulis harian Jerusalem Post, 2 November 2007.

Yang dikatakan anti Semit oleh kelompok-kelompok jaringan Zionis di AS adalah segala hal yang dirasa memojokkan Yahudi, baik dalam bidang politis, seni, budaya, wacana ilmiah, bahkan dalam humor sekali pun.

Survei yang bertema “The 2007 Survey of American Attitudes Towards Jews in America” mengajukan wawancara pertelepon yang dipilih secara acak terhadap 2. 000 orang dewasa Amerika sejak tangggal 6 hingga 19 Oktober lalu. Hasilnya sungguh mengejutkan, sekitar 15% warga Amerika ternyata menunjukkan sikap kurang bersahabat dengan Yahudi. Angka ini mendekati jumlah 35 juta orang dan menunjukkan grafik naik sebesar 1% dari tahun 2005. Padahal di tahun 1998, jumlah orang Amerika yang tidak simpati pada Yahudi berhasil ditekan hingga tinggal 12% dari sebelumnya yang mencapai 20% di tahun 1992.

“Kami sangat konsern dengan temuan ini. Kami juga sangat sedih karena rasa toleransi yang ada pada warga Amerika belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kami harus bekerja ekstra keras kembali agar orang Amerika bisa lebih bersahabat dengan kami, ” ujar Avraham H. Foxman, Direktur Nasional ADL. "Merupakan suatu hal yang sangat memukul kami, ada sekitar 35 orang di Amerika ini yang ternyata memandang orang-orang Yahudi sebagai musuh. Ini angka yang tidak kecil, ” tambahnya.

Walau demikian, survei tersebut juga menunjukkan bahwa lebih dari 31% orang Amerika melihat orang-orang Yahudi Amerika lebih loyal kepada Israel ketimbang kepada AS. Bahkan banyak yang meyakini bahwa orang-orang Yahudi merupakan musuh Yesus Kristus karena bertangungjawab atas disalibnya Yesus. Gambaran ini menurut Foxman antara lain dipengaruhi oleh stereotipe yang dihasilkan dari film ‘Passion of Christ’ garapan sutradara anti-Yahudi, Mel Gibson. Mel Gibson sendiri berulangkali menyatakan dirinya tidak suka dengan Yahudi.

Dari angka tersebut, 29% orang-orang AS keturunan Hispanik secara tegas menyatakan tidak suka dengan orang-orang Yahudi. Sebanyak 15% orang Hispanik kelahiran AS juga bersikap demikian.

“Kami yakin bahwa sikap anti-Semit tengah tumbuh dengan cepat di Amerika. Ini merupakan tantangan bagi kami. Kami harus lebih giat lagi memperkenalkan budaya Yahudi dan segala hal tentangnya yang sesungguhnya cinta perdamaian dan anti kekerasan, ” kilah Foxman seraya menyatakan akan membuat program-program pengenalan Yahudi di sekolah-sekolah AS secara intensif.



Neturei Karta

Ada yang unik tentang Yahudi di Amerika. Di Chicago, salah satu basis kaum Yahudi di Amerika, terdapat perkumpulan orang-orang Yahudi Ortodoks Neturei Karta yang secara tegas menyatakan sebagai kalangan yang anti dan memerangi Zionisme. Rabbi Yisroil Dovid Weiss, pemimpin Neturei Karta yang mengklaim memiliki pengikut sekitar 60. 000 orang di AS, menyatakan bahwa Zionisme dan Talmud merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai ajaran Nabi Musa a. S.

ADL sendiri pernah menyatakan bahwa kelompok Neturei Karta merupakan kelompok orang-orang bodoh yang tidak memiliki rasa nasionalisme dan menuding lebih dekat kepada musuh-musuh Yahudi. Walau demikian, organisasi ini terus tumbuh dan menjadi salah satu duri dalam daging bagi perjuangan kepentingan Zionisme di Amerika Serikat.

Di Gedung Putih sendiri, walau orang-orang Israel tengah menguasai pusat pemerintahan AS, di kalangan akar rumput telah banyak warga AS non-Yahudi yang mulai curiga dan bersikap menjauh dari kalangan Zionis. Bahkan sejumlah pengamat dan pakar, seperti John Kaminski dan sebagainya, menyatakan Bush merupakan seorang presiden yang paranoid, sakit jiwa, dan harus ditangkap karena bertanggungjawab atas tewasnya ribuan orang di Menara Kembar WTC dalam peristiwa 11 September 2001. (Rizki)

Laporan Khusus Terbaru