Agenda Menata Ulang Pemerintahan Dunia Baru

Selain lembaga-lembaga keuangan internasional utama, WB dan IMF, ada yang disebut bank pembangunan regional dan lembaga-lembaga keuangan serupa, menjaga dan memastikan negara-negara di daerah masing-masing tetap terkendali.

Pada akhirnya ekonomi atau utang-ekonominya yang mengendalikan segalanya. Bandit neoliberal Barat telah menciptakan suatu sistem, di mana pembangkangan politik dapat dihukum dengan penindasan ekonomi atau pencurian aset nasional di wilayah internasional. Denominator umum sistem adalah dolar AS (masih) yang ada di mana-mana.

Negara-negara yang berada dalam kendali mereka seolah menjadi kawanan domba yang taat kepada sang majikan, yang secara bertahap dan diam-diam mengambil alih aset negara-negara tersebut. Kita jangan-jangan belum menyadarinya. Ini taktik salami: Anda memotong irisan demi irisan kecil dan ketika salami hilang, Anda menyadari bahwa Anda tidak punya apa-apa lagi, bahwa kebebasan Anda, hak-hak sipil dan hak asasi Anda telah hilang. Saat itu sudah terlambat.

Taktik salami, juga dikenal dengan nama strategi potongan salami, adalah teknik memecah belah lewat ancaman dan persekutuan yang dilakukan untuk menjatuhkan oposisi. Dengan menggunakan taktik ini, panggung perpolitikan didominasi secara perlahan. Jika seorang penguasa berupaya menyingkirkan oposisi dengan kekerasan, hal tersebut akan menimbulkan perlawanan. Namun, dengan menggunakan “taktik salami”, suatu faksi politik dapat memicu perpecahan di tubuh partai politik lawan dan kemudian menghancurkan partai itu dari dalam tanpa menimbulkan protes dari mereka. Taktik ini berhasil jika pelakunya berhasil menyembunyikan agenda jangka panjang mereka dan tetap terlihat bekerjasama dan membantu.

Contoh kasusnya adalah Undang-Undang Patriot AS. Itu disiapkan jauh sebelum peristiwa 9/11. Setelah 9/11 “terjadi”, Undang-Undang Patriot disesah melalui Kongres dalam waktu singkat – untuk perlindungan masa depan rakyat – orang-orang menyerukannya karena takut – dan – bingo, Undang-Undang Patriot mengambil sekitar 90% kebebasan dan hal sipil penduduk Amerika.

 

Banyak negara di dunia telah menjadi budak dari kelompok elit dunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya negara yang terjerat dalam belitan utang yang terus menggunung. Bahkan kelompok elit tersebut mampu melakukan kontrol terkait kapan dan dalam kondisi bagaimana pandemi bisa “dijinakkan”, misalnya melalui pengurungan sosial atau kita biasa menyebutnya lockdown. Dan di atas semuanya, instrumen yang digunakan pun sangat cerdik, yaitu melalui persebaran musuh kecil-kecil yang tak terlihat, sebut saja misalnya virus corona (COVID-19), dan monster besar yang juga tak terlihat dan terasa nyata, yaitu ketakutan (fear). Itulah sejatinya yang melahirkan istilah baru, yaitu New Normal (Kenormalan Baru). Dalam konteks ini, semua orang harus, setidaknya memenuhi standard hidup ala New Normal, dengan tetap memakai masker, jaga jarak fisik dan seperangkat aturan lainnya.

Sebagaimana penulis ungkap bahwa saat ini sedang berlangsung tahap baru dalam evolusi kapitalisme global, yaitu sistem “Tata Kelola Global” yang dikendalikan oleh kepentingan finansial yang kuat termasuk yayasan korporasi dan lembaga think tank Washington mengawasi pengambilan keputusan di tingkat nasional dan global. Pemerintah nasional menjadi bawahan “Tata Kelola Global”. Konsep Pemerintah Dunia diangkat oleh mendiang David Rockefeller pada Pertemuan Bilderberger, Baden Jerman, Juni 1991, yang menyatakan “Kami berterima kasih kepada Washington Post, The New York Times, Time Magazine dan publikasi besar lainnya yang direkturnya telah menghadiri pertemuan kami dan menghormati janji kebijaksanaan mereka selama hampir 40 tahun. … Mustahil bagi kita untuk mengembangkan rencana kita bagi dunia jika kita menjadi sasaran sorotan publisitas selama tahun-tahun itu. Tetapi, dunia sekarang lebih canggih dan siap untuk berbaris menuju pemerintahan dunia. Kedaulatan supranasional dari elite intelektual dan bankir dunia tentunya lebih disukai daripada penentuan nasib sendiri secara nasional yang dipraktikkan di abad-abad lalu. ” (dikutip oleh Aspen Times, 15 Agustus 2011)

Dalam Memoirsnya David Rockefeller lebih lanjut menyatakan: “Sebagian bahkan percaya kami adalah bagian dari komplotan rahasia yang bekerja melawan kepentingan terbaik Amerika Serikat, mencirikan keluarga saya dan saya sebagai para ‘internasionalis’ dan berkonspirasi dengan yang lain di seluruh dunia untuk membangun struktur politik dan ekonomi global yang lebih terintegrasi, satu dunia jika Anda mau. Jika itu tuduhannya, saya bersalah, dan saya bangga karenanya.”