Apa yang Terjadi Kala Pesawat Mendarat di Air?

Pesawat yang digunakan Sriwijaya Air SJ 182 merupakan jenis Boeing 737-500 yang ditenagai dua mesin CFM56-3C1 buatan CMFI, perusahaan patungan Safran Aircraft Engine dari Prancis dengan GE Aviation dari Amerika Serikat. Dalam kartu keselamatan pesawat ini juga memungkinkan mampu mendarat di air.

Berhasil

Sebenarnya banyak kisah-kisah pilot yang berhasil mendaratkan pesawatnya di air bahkan menyelamatkan seluruh penumpang berikutnya awaknya. Salah satu kisah pesawat mendarat darurat di air bahkan pernah dibuat filmnya dengan judul “Sully” yang dibintangi aktor kenamaan Tom Hanks.

Film ini diangkat dari kisah nyata Kapten Chesley “Sully” Sullenberger yang terpaksa harus mendaratkan pesawat US Airways dengan nomor penerbangan 1549 yang dipilotinya di permukaan Sungai Hudson setelah

mesin mengalami kerusakan akibat bertabrakan dengan kawanan burung.

Keputusan Kapten Sully untuk mendaratkan pesawat di atas Sungai Hudson di Kota New York ini berhasil menyelamatkan 155 penumpang. Film ini menggambarkan bagaimana pilot harus bisa mengambil keputusan terbaik pada waktu yang tepat untuk menyelamatkan penumpangnya.

Bagi yang sudah pernah menonton film ini akan melihat bahwa setiap insiden pesawat udara selalu ada faktor manusia disamping teknologi. Sebagai sutradara Clint Eastwood berhasil mengangkat film ini menjadi tontonan yang menarik tanpa menambah atau mengurangi dari peristiwa sebenarnya.

Kisah keberhasilan mendarat di perairan juga terjadi di Indonesia. Tepatnya tanggal 16 Januari 2002, pesawat Boeing 737-300 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA421 terpaksa mendarat di anak sungai Bengawan Solo setelah kedua mesinnya mati akibat cuaca.

Pesawat dengan rute Lombok-Yogyakarta ketika itu membawa 54 penumpang dan enam awak kabin. Meskipun dalam peristiwa itu seluruh penumpang berhasil diselamatkan, akan tetapi salah seorang awak kabin Santi Anggraeni meninggal dunia, diduga terhisap keluar akibat ekor pesawat pecah saat saat pesawat mendarat darurat.

Pesawat yang dipiloti Kapten Abdul Rozak dan kopilot Haryadi Gunawan menghadapi cuaca buruk saat akan menurunkan ketinggian jelajah menuju Bandara Adisutijipto Yogyakarta. Kapten penerbangan atas persetujuan ATC saat itu memutuskan untuk sedikit menyimpang dari rute seharusnya.

Keputusan cepat itu diambil karena di depan pesawat terdapat awan yang mengandung hujan dan petir. Pilot lantas mencoba untuk terbang menembus awan badai itu. Sekitar 90 detik setelah memasuki awan, pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki namun mendadak kedua mesin mati dan kehilangan daya dorong.

Pilot dan Kopilot saat itu mencoba menghidupkan unit daya cadangan (auxiliary power unit/APU) agar mesin bisa kembali menyala. Namun upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil, hingga pesawat mencapai ketinggian 8.000 kaki pilot akhirnya memutuskan mendarat di anak sungai Bengawan Solo.