free hit counters
 

Catatan Perjalanan Wartawan BBC: Simbiosis Aneh Taliban-Kabul (Bag.II)

zahid – Selasa, 10 Syawwal 1438 H / 4 Juli 2017 16:30 WIB

Eramuslim – Berlanjut kebagian kedua perjalanan wartawan BBC melihat kehidupan masyarakat Afghanistan di wilayah yang kini dikuasai oleh pejuang Taliban. Dibagian kali ini kita akan terkejut menemukan bagaimana terjalinnya hubungan simbiosis yang menguntungkan antara pemerintah Kabul dengan Taliban, dimana keduanya adalah musuh yang kini sedang bertikai.

Simbiosis Aneh Taliban-Kabul

Sementara Taliban fokus mengurusi masalah kesehatan, standarisasi prosedur keselamatan, dan regulasi perdagangan di Sangin, ada banyak temuan lainnya yang cukup mengagetkan di wilayah ibukota Musa Qala. Meskipun secara de facto menjadi ibukota Taliban, sekolah-sekolah dan rumah sakit di Musa Qala ternyata masih dibiayai oleh pemerintah pusat Kabul.

“Baru-baru ini pemerintah selesai melakukan inspeksi, sekolah-sekolah kami di daftar secara resmi, dan gaji-gaji kami yang tidak dibayar selama setahun akhirnya cair,” ujar Abdul Rahim, Kabag Pendidikan di bawah pemerintah Kabul di Musa Qala. Menurutnya, Taliban tidak ada masalah dengan para penilik sekolah dari pemerintah, dan sistem tetap berjalan seperti biasanya.

Abdul Rahim melanjutkan, “Pemerintah memberi kita alat-alat perlengkapan sekolah dan banyak hal lainnya. Kami juga menerapkan kurikulum pemerintah, dan Taliban tidak ada masalah dengan itu semua. Selain itu ada juga sekolah yang digunakan untuk pendidikan dasar bagi anak-anak perempuan, dan setelahnya digunakan secara bergantian untuk sekolah bagi anak-anak laki-laki oleh Taliban.”

Menurutnya, tidak semuanya berjalan dengan mulus sesuai harapan. Data lembaga bantuan USAid menyatakan bahwa sekitar 40 persen siswa yang terdaftar di seluruh Afghanistan adalah pelajar putri. Namun di Musa Qala tidak demikian. Tidak ada anak perempuan yang berusia di atas 12 tahun bisa memperoleh pendidikan di sini. “Bukan karena Taliban, melainkan anak-anak perempuan seusia belasan tahun memang sudah tidak bersekolah karena wilayah ini merupakan daerah konservatif,” ujarnya.

Sementara bagi anak laki-laki, kebutuhan akan buku-buku dan alat sekolah lainnya masih kurang mencukupi. “Sekolah kami dikelola dengan baik, sebagaimana situasi keamanan di sini juga baik. Namun kami punya satu masalah, yaitu kami tidak cukup memiliki buku-buku pelajaran,” kata seorang siswa bernama Dadul-Haq.

Dadul-Haq melanjutkan, “Kadang seorang siswa tidak punya buku matematika, sementara siswa lainnya tidak punya buku pelajaran kimia, jadi tidak semua siswa punya buku-buku pelajaran yang sama.”

Ada perkembangan yang membuat wartawan BBC kembali terkejut terkait dengan pendidikan. Setidaknya, bahwa saat ini Taliban sedang bereksperimen dengan memberikan akses yang lebih besar terhadap pendidikan, paling tidak untuk anak laki-laki, dibandingkan dengan saat awal mereka berkuasa.

Di bawah Taliban sebelum 2001, tidak banyak anak laki-laki yang tinggal di desa-desa dan pedalaman yang ke sekolah. Namun pengalaman dari peristiwa Haji Saifullah si penjual biskuit di pasar Sangin, telah membuat masyarakat Afghanistan menyadari bahwa pendidikan dan melek-huruf ternyata sangat penting. Pendidikan tidak akan membuat seseorang menjadi kafir, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh para pendahulu mereka.

Sekarang nampaknya Taliban sudah menyadari bahwa mereka tidak bisa selamanya memerangi segala hal yang berbau modernitas, sehingga sebagian memilih memasukinya dengan cara mereka sendiri. Di antaranya adalah, bagaimana masyarakat di Helmand sudah mulai terbiasa dengan sistem penerangan listrik.

Seorang koordinator media Taliban bernama Assad Afghan kerap menggunakan sebuah peribahasa untuk menggambarkan fenomena tersebut. “Api barangkali telah membakar rumah kami, namun api itu juga telah membuat tembok rumah kami menjadi lebih kuat,” katanya. Barangkali maksudnya adalah, Taliban telah belajar dari masa lalu yang membuat mereka terisolasi dari dunia modern.

Banyak yang mengatakan bahwa Taliban berhasil memberikan keamanan, meskipun dengan mengekang kebebasan, di wilayah-wilayah pinggiran dan pedalaman yang mereka kuasai. Akan tetapi area-area yang mulanya menjadi zona pertempuran antara tentara dengan mujahidin selama bertahun-tahun kini tumbuh secara dramatis menjadi sentra ekonomi dan perdagangan.

Orang-orang mengatakan mereka lebih memilih sistem peradilan yang simpel nan cepat ala Taliban daripada sistem yang sama pada pemerintahan sebelumnya yang penuh dengan korupsi dan nepotisme-kronis. (Bbc/Yasin/Ram)

loading...

Laporan Khusus Terbaru

blog comments powered by Disqus