free hit counters
 

CoViD19 Mutasi! Serangan Senyap: Ribuan Positif CoViD19 Tanpa Gejala Infeksi

Redaksi – Jumat, 24 April 2020 07:30 WIB

Eramuslim.com – Fakta mengenai infeksi virus corona tanpa gejala diungkapkan oleh Perdana Menteri China Li Keqiang. Dia meminta pemerintah memprioritaskan pelacakan pembawa virus corona atau carrier yang tidak memiliki gejala apapun.

Dalam kurun beberapa hari terakhir, awalnya China melaporkan adanya 130 pasien terinfeksi virus Corona yang tidak menunjukkan gejala. Orang-orang yang terdeteksi positif tetapi tanpa gejala, berpotensi menyebarkan virus kepada orang lain, karena mereka terlihat cukup sehat.

Sementara itu, para ilmuwan belum mendapatkan proporsi orang-orang terinfeksi tanpa gejala. Namun, para ilmuwan menduga jumlahnya cukup besar dan menjadi alasan virus ini menjadi pandemi global.

Ternyata, Ribuan Orang Terinfeksi Tanpa Gejala!

Secara total, pada Selasa 31/3/2020 waktu setempat, seperti dilansir Bloomberg pada Rabu 1/4/2020, Cina melaporkan adanya 1.541 pasien Covid-19 tanpa gejala infeksi!

Tapi tidak dijelaskan lebih lanjut apakah orang-orang itu dalam karantina medis atau termasuk orang-orang yang telah pulih dan dibebaskan.

Mengutip Bloomberg, di China, orang yang dinyatakan positif tetapi tidak memiliki gejala, tidak tercatat sebagai kasus terkonfirmasi. Ini bertentangan dengan praktik di negara-negara lain, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura.

Pemerintah Cina mencatat 1.541 kasus COVID-19 yang tidak disertai gejala sama sekali. Dari jumlah itu, sebanyak 205 diantaranya telah dipastikan kasus impor atau penularan dari luar negeri.



Untuk pertama kalinya data tersebut diungkapkan oleh Komisi Kesehatan Nasional China (NHC), pada Selasa 31 Maret 2020. Mereka melakukannya setelah mendapat desakan dari masyarakat agar lembaga tertinggi kesehatan itu transparan tentang data orang tanpa gejala.

Seperti diketahui, penularan oleh orang-orang yang terinfeksi virus corona CoViD19 namun tak sakit, diduga telah menjadi motor wabah COVID-19 di Cina. Di negara inilah, epidemi pertama terjadi, tepatnya di Provinsi Hubei, sebelum virus penyebab pneumnia akut itu mewabahke seluruh penjuru dunia.

Selama ini, Pemerintah Cina tidak mempublikasikan jumlah mereka. Caixin Global menulis, NHC berjanji selanjutnya akan mencantumkan data tanpa gejala tersebut dalam laporan harian epidemi.

Sementara itu dalam keterangan tertulis Perdana Menteri Cina Li Keqiang yang diterima ANTARA, pada Rabu 1 April 2020, menekankan pentingnya upaya pengendalian virus lebih ketat lagi, meskipun jumlah gejala infeksi berhasil dikendalikan.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Laporan Khusus Terbaru