free hit counters
 

Ada Jalur Kepentingan Migas Cina, Membentang Diwilayah Rohingya

Redaksi – Kamis, 16 Zulhijjah 1438 H / 7 September 2017 08:30 WIB

Eramuslim.com -Pipa minyak mentah milik Myanmar mulai beroperasi tahun ini setelah bertahun-tahun mengalami penundanaan. Melalui jalur  barat daya Cina, pipa itu memungkinkan Myanmar untuk menjadi pemasok minyak terbesar kedua di dunia dan lebih cepat dari Timur Tengah serta Afrika.

Pada April lalu dilaporkan, sebuah kapal tanker Suezmax berukuran yang dapat menampung 140 ribu ton atau sekitar 1 juta barel minyak mentah mulai membongkar minyak untuk pipa itu di Pulau Made milik Myanmar. Sebelumnya, pipa itu dijadwalkan mulai beroperasi pada 2014. Hanya saja pada Maret, Presiden PetroChina Wang Dongjin mengatakan, jalur pipa beroperasi setelah pemerintah Myanmar setuju untuk menurunkan biaya transit.

Melalui jalur (link) tersebut pula, kini memungkinkan Cina mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah serta Afrika tanpa harus melewati Selat Malaka dan masuk ke Laut Cina Selatan. Jalur itu merupakan bagian dari rencana pembangunan Presiden Xi Jinping yakni ‘One Belt One Road’ yang membentang di seluruh Asia ke Afrika dan Eropa.

“Ini mungkin akan mengirim pesan ke negara-negara yang masih meragukan, apakah berpatisipasi dalam inisiatif tersebut adalah strategi nasional Cina yang terbaik sehingga membawa keuntungan ekonomi bagi partisipan,” ujar Profesor Hubungan Internasional dari Universitas Xiamen Fan Hongwei seperti dilansir South China Morning Post, Selasa, (5/9).

Sebelumnya, operasi percobaan dimulai pada 2015 di jaringan sepanjang 771 kilometer (Km) yang dirancang untuk membawa 22 juta ton minyak mentah dalam setahun. Dengan begitu, Myanmar bisa mengambil dua juta ton per tahun dari total minyak.

Manajer Riset Senior di Wood Mackenzie Suresh Sivanandam menilai, bagi Myanmar, mungkin manfaatnya sedikit di awal. Mereka hanya mendapatkan sedikit minyak dan beberapa pendapatan dari biaya penyimpanan serta perpipaan minyak, namun pengalaman dari Cina dalam membangun infrastruktur energi bisa menjadi keuntungan Myanmar di masa depan.

“Myanmar berkembang sangat cepat, dan bila semakin capat mungkin nanti mereka membutuhkan lebih banyak kilang minyak,” ujar Sivanandam. Menurutnya, proses membangun infrastruktur energi harus membantu mereka dalam jangka panjang untuk memenuhi meningkatnya permintaan domestik.

Sebelumnya, kapal tanker Suezmax United Dynamic tiba di Myanmar pada April lalu. Setelah memuat minyak dari terminal Baku-Tbilisi-Ceyhan di Turki pada 5 Maret.

Jaringan pipa tersebut berakhir di Provinsi Yunnan, Cina. Di sana, PetroChina juga sudah membangun kilang minyak dengan kapasitas untuk memproses 13 juta ton minyak mentah selama satu tahun. PetroChina pun telah membicarakan dengan Perusahaan Minyak Arab Saudi mengenai investasi pabrik yang mulai beroperasi pada Juni tersebut.

PetroChina juga sudah selesai membangun kilang di ibukota provinsi Kunming pada sekitar akhir 2016 dan telah menunggu pengiriman pipa. Menurut Sivanandam, diperlukan sekitar 12 juta barel minyak mentah untuk mengisi pipa sebelum pengiriman dimulai.

Sivanandam juga menilai, begitu kilang tersebut dimulai, PetroChina akan menjual produk di wilayah barat daya. Lalu menggusur bensin dan solar dari kilang di bagian tengah serta selatan negara itu yang meningkat menjadi rekor bulanan sebesar 2,85 juta ton pada November mendatang.

Maka pada April lalu, media China Daily melaporkan, Myanmar dan Cina sudah menandatangani kesepakatan mengenai pipa itu. Perlu diketahui, impor minyak mentah Cina naik hampir 14 persen tahun lalu, yang merupakan laju tahunan tercepat sejak 2010, bahkan menyentuh rekor pada Desember karena berhasil mengimpor 8,5 juta barel per hari.

Cina juga diberi pasokan oleh pipa gas alam paralel yang membentang melalui Myanmar ke Provinsi Yunnan dan dirancang untuk membawa 12 miliar meter kubik per tahun. Kemudian, induk perusahaan PetroChina yakni China National Petroleum Corporation juga sudah mulai mengimpor gas dari Myanmar sejak 2013.

Pengiriman mencapai 2,86 juta ton pada tahun lalu, data pabean turut menunjukkan aktivitas impor tersebut menyumbang sekitar lima persen dari total impor negara Cina.(kl/rol)

Resensi Buku : Telah Terbit, Digest 10, Untold History 2 , Penggelapan Sejarah Indonesia Hingga Reformasi

loading...

Laporan Khusus Terbaru

blog comments powered by Disqus