free hit counters
 

Eksekusi Saddam dan Keyakinan Zionis-Kristen Amerika Tentang Nubuatan “Millenium Sejahtera” (Bagian 2)

Rizki Ridyasmara – Senin, 24 Zulhijjah 1427 H / 15 Januari 2007 11:05 WIB

Kedekatan ‘religius’ antara Kristen Amerika dengan bangsa Israel terlihat secara menyolok satu dasawarsa terakhir. Namun yang tidak banyak diketahui orang, di masa awal berdirinya negara Amerika Serikat itu sendiri sesungguhnya memang direncanakan sebagai ‘perahu besar’ bagi kepentingan bangsa Yahudi. Ada bagian dalam sejarah awal Amerika yang selama ini tidak dipaparkan secara jujur kepada dunia.

Latar Belakang Colombus

Dalam buku “Knights Templar, Knights of Christ” (Rizki Ridyasmara; Alkautsar, 2006), latar belakang pendirian Amerika Serikat dibahas secara panjang lebar. Apa yang ada di dalam tulisan ini bersumber dari buku tersebut.

Cristoforo Colombo lahir di Genoa, Italia, tahun 1451. Dia terlahir dari keluarga Yahudi Italia-Spanyol yang memeluk Katolik (Marranos) bernama Dominico Colombo dan Suzanna Fontanarossa. Saat berusia 21 tahun, Colombo atau Colombus menjadi orang kepercayaan René d’Anjou, Grand Master Biara Sion (1418-1480). René sendiri berteman akrab dengan seorang Kabalis-Yahudi, bernama Jean de Saint Rémy, kakek Nostradamus.
Columbus menikah di tahun 1478 dengan Felipa Perestrello e Moniz, puteri tokoh Templar di Portugis, Bartolomeo Perestrello. Columbus sendiri anggota dari Ordo Knights of Christ, ordo pelarian Templar di Portugis. Demikian pula Vasco da Gama.

Dengan didanai pemodal Yahudi yang kala itu telah banyak memegang kendali perekonomian Eropa dan juga banyak yang menjadi pejabat tinggi di istana, Colombus memimpin satu ekspedisi yang terdiri dari tiga buah kapal laut bernama Nina, Pinta, dan Santa Maria. Ekspedisi Colombus berlayar di bawah bendera Salib-Templar. Beberapa orang Yahudi ikut dalam ekspedisi Columbus, antara lain Louis Torres, Alonzo de la Calle, Marco, Gabriel Sanchez, dan Bernal.

Pada 12 Oktober 1492, Columbus mendarat di Waiting Island, Bahama. Lalu ke pulau Kuba dan Hispaniola. Dan kembali ke Spanyol. Setahun kemudian, Oktober 1943 dengan 17 kapal Columbus kembali berlayar. Misinya kali ini adalah membangun tempat-tempat perdagangan dan koloni. Ikut dengannya beratus-ratus imigran Spanyol yang banyak di antaranya orang-orang ‘Marranos’ yang merasa tidak bebas menjalankan ritual keyakinan Yahudinya di Spanyol sehingga mereka memilih ‘tanah baru’.

Dalam ekspedisi kedua, Columbus ‘menemukan’ kepulauan Puerto Rico, Virgin Island, dan Antilla. Barulah pada pelayaran ketiga tahun 1498 Columbus mendarat di Amerika dan Trinidad.

Sesungguhnya, Columbus bukan orang Eropa pertama yang menjejakkan kaki di Amerika. Tahun 1269, Ksatria Templar dari Yerusalem telah berdagang dengan bangsa Indian sebagai penduduk asli Amerika dengan mengimpor perak dari Meksiko.

Setelah Amerika ‘ditemukan’, orang-orang Yahudi melakukan imigrasi besar-besaran ke Amerika Selatan, terutama Brazil. Louis Torres menetap di Kuba dan membuka perkebunan tembakau yang kemudian diekspor ke Eropa dan mancanegara sehingga sekarang ia dikenal sebagai ‘Bapak Tembakau’.

Tak lama kemudian terjadi perang antara Brazil dengan Belanda. Peperangan ini membuat kaum Yahudi di Brazil tidak merasa aman dan mereka kemudian pindah ke Nieuw Amsterdam, sebuah koloni Belanda yang terletak di Amerika Utara.

Di daerah baru ini imigran Yahudi tidak disukai penguasa setempat. Namun dengan keuletannya, imigran Yahudi akhirnya bisa mengendalikan Nieuw Amsterdam yang kemudian dinamakan mereka sebagai New Yerusalem, yang kemudian menjadi New York. Dari New York, imigran Yahudi kemudian mencengkeram kukunya ke seluruh bidang kehidupan bangsa Amerika.

Zionis-Kristen AS

Infiltrasi Yahudi ke dalam kehidupan bangsa Amerika yang berawal di sektor perekonomian kemudian menjalar ke seluruh lini kehidupan termasuk ke dalam sisi paling privat yakni religius.

Pemodal Yahudi menugaskan Cyrus E. Scofield untuk mengubah penafsiran Injil versi King James—Injil yang paling banyak dipakai di Barat—dengan menambahkan ratusan catatan kaki yang berisi dukungan penuh tanpa syarat kepada bangsa Israel.

Injil Scofield inilah yang kemudian menumbuh-kembangkan ideologi Kristen Amerika menjadi ideologi yang mendukung Israel tanpa syarat apa pun. Pemodal Yahudi tidak saja membuat Injil Scofield, tapi juga menyiapkan infrastrukturnya dengan mendirikan banyak klub pengkaji Injil dan dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian bermunculansejumlah gerakan Kristen evangelikal fundamentalis. Tokoh-tokohnya antara lain Pendeta Billy Graham, Jerry Falwel, Pat Robertson, dan sebagainya.

Menyusul kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari (4-7, 9-10 Juli 1967), ayah mertua Billy Graham, Nelson Bell, editor majalah Christianity Today, menyuarakan perasaan-perasaan banyak orang Kristen evangelis Amerika yang begitu antusias menyambut kemenangan Israel.

“Untuk pertama kalinya di dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun, Yerusalem kini sepenuhnya berada kembali dalam kekuasaan orang-orang Yahudi; fakta ini memberikan suatu kepercayaan yang diperbaharui dan tergairahkan kepada setiap orang yang mempelajari Alkitab bahwa Alkitab itu benar dan sah, ” demikian Bell.



Perang Enam Hari dilegitimasi dengan penjelasan teologis oleh Zionis Kristen, ketika mereka berkata, “Tuhan ingin memberikan kepada umat-Nya bagian dari tanah yang tidak mereka terima pada tahun 1948. Hasil dari Perang Enam Hari adalah bahwa Yudea dan Samaria, dan Kota Lama Yerusalem, ibu kota kerajaan Daud, dikembalikan kepada bangsa Yahudi yang mengklaim sebagai pemilik semula.”

Tahun 1976 Zionisme-Kristen masuk ke lingkaran elit Amerika. Dengan dukungan sayap fundamentalis Kristen Evangelis AS, Jimmy Carter jadi Presiden yang “terlahir baru sebagai seorang Kristen-Zionis.” Setahun kemudian, Menachem Begin dan Partai Likud yang juga berhaluan politik fundamentalis berkuasa di Israel. Dengan sendirinya terbangunlah suatu hubungan erat, hubungan ‘teologis’ antara keduanya.

Tahun 1978, Jimmy Carter menyatakan terus terang bahwa kepercayaan pro-Zionisnya telah banyak mempengaruhi kebijakan politik Timur Tengahnya. Namun lama-kelamaan, Carter menyadari bahwa Partai Likud terlalu jahat terhadap warga Arab Palestina. Untuk itu Carter mengusulkan agar dibentuk satu negara merdeka bagi orang-orang Arab di Palestina.

Dengan melunaknya sikap Carter, dukungan lobi Yahudi pun surut terhadapnya dan berbalik mengucilkannya. Mereka kemudian mengalihkan dukungan kepada Ronald Reagan dalam Pemilu 1980.•Rz (Bersambung).

Laporan Khusus Terbaru