free hit counters
 

Fenomena Iran dan Hizbullah (Bag.2)

Rizki Ridyasmara – Minggu, 16 September 2007 08:10 WIB

Dalam tulisan kedua ini, kita akan mencoba untuk melihat siapa sebenarnya Khomeini. Tokoh yang sangat dipuja oleh rakyat Syiah Imamiyah Iran dan juga Hizbullah dengan Syed Hassan Nasrallahnya ini memiliki banyak kontradiksi di dalam perjalanan hidup dan tindak-tanduknya.

Di sini bukan pada tempatnya kita menuturkan riwayat perjalanan tokoh yang satu ini secara detil, juga paham Syiahnya. Begitu banyak literatur yang memuat hal itu. Ada yang menyanjungnya setara Rasulullah SAW, tapi ada pula yang mencacinya, sebagaimana kelaziman warga Syiah mencaci-maki para Shahabat Rasulullah seperti Abu Bakar r. A., Umar bin Khattab r. A., dan Ustman bin Affan r. A.

Di sini kita hanya melihat sisi-sisi seorang Khomeini dari sejumlah pandangan, sikapnya, dan juga tulisan-tulisannya. Inilah di antaranya:

Menindas Ayatollah Hasan Thabathab

Khomeini merupakan tokoh pencetus teori “walayatul faqih” di mana banyak orang beranggapan teori ini berasal dari Syiah Imamiyah, suatu aliran Syiah yang dipegang mayoritas rakyat Iran. Namun sesungguhnya teori ini tidak sama dengan aliran Syiah Imamiyah. Karena menentang teori ini, maka Ayatollah Hasan Thabathab yang tinggal di Qum diperangi oleh Khomeini, seperti dilarang menggunakan pesawat telepon, dilarang menemui sahabatnya, saluran air dan listrik ke rumahnya di putus, juga tidak boleh menjalani pengobatan di rumah sakit jika dia menderita sakit.

Hasan Thabathab menentang teori “Khomeinism” ini yang dianggapnya dapat menjadikan Khomeini seorang diktatur, sebagai wali Allah. Saya tidak dapat menerima hal itu. Itu merupakan penunggangan aliran Syiah dan kediktatoran tidak ada dalam agama ini. ”

“Saya berpesan kepada semua ulama dan para cendekiawan bahwa segala apa yang terjadi di Iran dengan ‘Revolusi Islam’nya sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dan malah banyak bertentangan dengan nash-nash Qur’an yang sampai pada kita. Apa yang diperbuat Khomeini dengan pejabat-pejabatnya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Islam, ” tandas Ayatollah Hasan Thabathab (Naqdu Walayatil Faqih-Muhammad Maalullah, hal 27 & 28, 30 & 31)

Dikecam Dr. Musa Al-Musavi

Teori ‘Khomeinisme” atau “Walayatul faqih” juga mendapat kecaman dari Dr. Musa Al-Musavi, seorang cendekiawan Syiah Iran. Musavi berpendapat, “Walayatul faqih adalah satu bid’ah yang meyakini bahwa penguasa-penguasa merupakan wakil-wakil Imam Mahdi di zaman Ghaibah Kubra (Keghaiban Besar). Ide ini sesungguhnya berasal dari pemikiran huluhiyyah (inkarnasi) yang terdapat dalam dogma Kristiani yang meyakini bahwa Allah telah menjelma di dalam diri Al-Masih dan Al-Masih pula telah menjelma di dalam Paus. ”

Dr. Musavi juga mengatakan, “Konsep walayatul faqih bertentangan dengan nash al-Quran dan barangsiapa secara sengaja dan jelas menentang nash Allah, maka dia telah keluar dari Islam. ” (hal 73)

Membunuh Gurunya sendiri

Sementara Ayatollah Syariat Madari, guru Khomeini yang telah menganugerahkan istilah “Ayatollah” kepada Khomeini, di mana beliau juga seorang tokoh ulama Syiah yang ternama, ternyata juga menentang konsep yang diusung Khomeini. Akibatnya, setelah berkuasa, Khomeini mengirimkan 10. 000 tentaranya (!) untuk menyerang dan membunuh gurunya ini. Ayatollah Syariat Madari sependapat dengan ulama Syiah Iran lainnya yang membatasi kekuasaan faqih dalam bidang-bidang tertentu saja dan sama sekali tidak bisa mengklaim sebagai wakil dari Ratu Adil atau Imam Mahdi. (Dr. Musa Al-Musavi-At Tsauratuu Al-Baaisah, hal. 51),

Walayatul faqih secara ringkas berarti bahwa seorang penguasa yang faqih bertindak sebagai wakil dari Imam Mahdi dalam memerintah rakyatnya yang sudah putus asa karena Imam Mahdi yang sejati tidak dating-datang juga. Jadi menurut konsep yang juga dikenal sebagai ‘Khomeinisme’ ini, seorang penguasa merupakan seorang ‘pejabat pelaksana’ Imam Mahdi (Khomeini, Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal 74).
Konsep inilah yang ditentang banyak ulama Syiah Iran sendiri. Menurut Syiah, setiap negara yang ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahdi adalah tidak sah walau pemimpinnya berada di atas jalan yang benar. Al-Kulaini meriwayatkan dari Abi Bashir dari Abi Abdillah (Jaafar Shadiq) bahawa beliau berkata, “Setiap orang yang menjulang bendera sebelum Qaaim (Al-Mahdi) adalah taghut yang disembah selain dari Allah SWT. ” (Ar Raudhah Min Al-Kafi, hal 295). Jadi, menurut ulama Syiah ini, Khomeini adalah thagut.

Ini dkuatkan oleh pensyarah kitab Al-Kafi, Maula Muhammad Soleh Al-Maazan Daraani (wafat 1080 H) di dalam syarahnya terhadap kitab Al-Kafi yang dianggap sebagai syarah Al-Kafi yang muktamad menyebutkan bahawa, “walaupun orang yang memimpinnya itu menyeru kepada kebenaran” (Syarah Al-Kafi, jilid 2, hal 371)

Khomeinisme

Ajaran dan`trend’ yang dibawa Khomeini merupakan satu pecahan baru dari aliran Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah. Sebab itu dinamakan “Khomeinism”. Namun walau demikian, secara keseluruhan, Khomeini tetap berpegang teguh dengan aqidah dan ajaran Syiah yang diterima di kalangan Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah secara turun temurun. Tidak ada perbedaan aqidah dan ajaran Syiah antara Khomeini dengan yang lainnya. Hanya saja, Khomeini telah membawa konsep taqqiyah (berbohong demi kepentingannya) dengan seluas-luasnya sampai ke peringkat negara dan politik internasional.

Selain taqiyyah, Syiah Imamiyah juga meyakini secara akidah bahwa para Imam Dua Belas itu manusia yang maksum (terpelihara dari dosa besar dan kecil), sederajat dengan Rasulullah SAW. Khomeini berkata, ” Kita tidak dapat menggambarkan para Imam itu lupa dan lalai. ” (Al-hukumah Al-Islamiyyah, hal 91)

Syiah juga percaya bahwa al-Quran yang ada sekarang ini telah diselewengkan oleh para Shahabat Nabi selain Imam Ali r. A.). Ni`matullah Al-Jazaairi di dalam kitabnya Al-Anwar An Nu`maniyyah mengatakan “Sesungguhnya Al-Quran sebagaimana telah diturunkan tidaklah ditulis kecuali oleh Amirul Mukminin (Alia. A. S.) dengan wasiat daripada Nabi s. A. W. Maka selepas kewafatan Rasulullah s. A. W. Sayyidina Ali sibuk mengumpulkannya selama enam bulan. Setelah dia mengumpulkannya seperti ia diturunkan (kepada Rasulullah s. A. W.) dia lalu membawa Al-Quran itu kepada orang-orang yang telah berlaku curang setelah kewafatan Rasulullah s. A. W. (maksudnya Abu Bakar r. A., Umar r. A., dan Ustman r. A. (Al-Anwar An Nu’maniyyah jilid 2, hal 360).

Dalam bukunya “Kasyful Asrar” (hal 114) Khomeini secara implisit mengatakan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang telah diselewengkan karena tidak memuat nama para Imam Dua Belas. “Abu Bakar dan Umar telah banyak menyalahi hukum-hukum Allah. Mereka berdua telah banyak mempermainkan hukum-hukum Tuhan. Mereka telah menghalalkan dan mengharamkan dari pihak diri-sendiri. Mereka berdua telah melakukan kezaliman terhadap Fatimah dan anak cucunya” (Kasyful Asrar, hal 110).



Khomeini juga merupakan salah satu dari enam ulama Syiah yang telah mensahkan dan merestui kitab “Tuhfatul Awam” yang mengandungi doa supaya Allah melaknat Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan pengikut-pengikutnya. Doa itu antara lain berbunyi: “Ya Allah! Laknatilah dua berhala quraisy, dua jiblnya, dua taghutnya, dua orang yang malang dari kalangan mereka, dan dua orang anak perempuan mereka. Mereka berdua telah melanggar perintahMu, mengingkari wahyuMu, menolak kurniaanMu, dan durhaka kepada RasulMu. Mereka berdua telah mengubah agamaMU dan menyelewengkan KitabMu, mereka berdua telah menyintai musuh-musuhMu, menolak nikmat-nikmatMu dan telah menghentikan hukum-hukumMu ……. ”dan seterusnya. Dua orang itu adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Tentang Mut’ah, nikah sementara, Khomeini menulis bahwa Mut’ah boleh dilakukan dengan perempuan Yahudi, Nasrani, Majusi, juga dengan para pelacur (Khomeini, Tahrirul Wasilah, jilid 2 hal. 292).

Inilah sebagian pemaparan tentang Khomeini dan Syiahnya. Adalah ironis, Imam Jaafar As Shiddiq sendiri yang dianggap oleh golongan Syiah sebagai Imam Maksum mereka yang keenam pernah berkata, dan dikutip kata-katanya itu tokoh ulama Syiah, Syeikh At Thusi di dalam kitabnya “Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal” (sebuah kitab Syiah) yang menyatakan, ” Tidak ada satu pun ayat yang diturunkan oleh Allah tentang golongan munafiqin melainkan kandungan ayat itu pasti ada pada orang yang menganut faham Syiah. ” (Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal, hal. 1).

Dalam tulisan ketiga kita akan mengulas tentang Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang berada di balik kelahiran paham Syiah ini.(bersambung/rz)

Laporan Khusus Terbaru