free hit counters
 

Kerajaan Palsu, Antara Sindiran Pada Penguasa dan Pengalihan Isu

Redaksi – Selasa, 8 Jumadil Akhir 1441 H / 4 Februari 2020 07:30 WIB

Eramuslim.com – Belakangan ini muncul kerajaan-kerajaan fiktif dalam waktu berdekatan di Indonesia. Sebut saja yang menamakan diri sebagai Keraton Djipang di Blora, Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Sunda Empire di Jawa Barat hingga munculnya Negara Rakyat Nusantara. Kemunculan beberapa kerajaan palsu tersebut telah bikin geger warga.

Mereka memiliki raja dan ratu, seragam bahkan padepokan kerajaan segala. Lebih gilanya lagi, kerajaan-kerajaan ini langsung punya banyak pengikut yang secara suka rela ingin menjadi rakyatnya. Sebenarnya ini semua fenomena apa ?. Apakah ini sebuah sindiran atau pengalihan isu belaka ? Fenomena Apa Itu ? Munculnya kerajaan kerajaan palsu di Indonesia akhir akhir ini memang menimbukan tanda tanya, fenomena apa ?.

Terlebih lagi, orang yang ingin menjadi bagian kerajaan ini harus merogoh kocek jutaan rupiah. Uang tersebut (konon) digunakan untuk pengadaan baju kerajaan dan pembangunan infrastruktur kerajaan. Lantas, sang Raja mengklaim bahwa uang tersebut adalah “investasi” yang dapat memperbaiki penghidupan mereka. Ternyata, iuran dari korban inilah yang memampukan kerajaan kerajaan palsu itu untuk menunjukkan dirinya kepada publik.

Mereka bahkan ada yang mengadakan konperensi pers untuk menunjukkan keberadaannya. Akhirnya, konferensi pers inilah yang viral di media sosial. Membaca berita berita tentang munculnya kerajaan kerajaan palsu itu bisa membuat kita tertawa terpingkal pingkal. Kok masih ada di zaman modern sekarang ini seseorang mudah sekali ditipu dengan sesuatu yang boleh dikatakan tidak masuk akal dan mengada ada.

Pertanyaanpun muncul: Apakah manusia sekarang memang begitu mudah dibodohi?. Sampai ratusan orang mau mengikuti orang kerajaan kerajaan palsu ini?” Fenomena ini lucu dan miris dalam waktu yang sama. Mengapa orang begitu mudah ditipu dengan adanya kerajaan kerajaan palsu ini, ternyata salah satu alasannya, para pendiri kerajaan menggunakan semangat romantisme masa lalu.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Laporan Khusus Terbaru