Lekra, Organ Kebudayaan PKI yang Suka Mengolok-olok Tuhan

Penyair Taufiq Ismail juga membela Hamka. Tuduhan ASP motifnya bukan sastra. Tapi politik, kata Taufiq Ismail.

 

Tiga Isu Lekra

 

Ada tiga isu penting yang ditonjolkan Lekra-PKI dalam mementaskan kesenian rakyatnya. Pertama, mengajak masyarakat untuk tidak mempercayai Tuhan. Kedua, mengajak masyarakat untuk menyita tanah-tanah yang dimiliki tuan tanah, kiai haji, dan yayasan milik Islam. Dan ketiga menghancurkan kredibilitas para sastrawan dan seniman Islam.

Dalam mengajak masyarakat untuk tidak mempercayai Tuhan, misalnya, Lekra mengkoordinasi pementasan ketoprak di Jateng dan DIY, serta ludruk di Jatim dengan lakon bertema “ateisme” yang membuat orang-orang beragama meradang.

Lakon Patine Gusti Allah, misalnya, menjadi salah satu judul pementasan ludruk dan ketoprak paling favorit dan sering dipertontonkan di masyarakat—meski sangat dibenci umat Islam.

Tak hanya itu. Para seniman Lekra juga mendatangi sekolah sekolah untuk menyebarkan paham ateisme PKI. Orang-orang Lekra yang jadi guru, juga aktif menanamkan pikiran ateis kepada murid-muridnya.

Cara Guru PKI Ajarkan Atesime

 

Sebagai contoh, dalam sebuah pelajaran di SD, seorang guru minta kepada muridnya berdoa kepada Tuhan untuk minta permen.

“Anak-anak ayo pejamkan mata minta permen pada Tuhan.”

“Buka mata kalian, ada tidak permennya?”

“Tidak ada Bu Guru”

“Sekarang coba tutup mata, bilang ‘Bu Guru minta permen’”

Guru tersebut memasukkan permen ke tangan anak-anak yang menengadah.

“Buka mata kalian, ada nggak permennya?”

“Ada Bu Guru.”

“Artinya apa?”

Anak-anak diam.

“Berarti Tuhan tidak ada,” lanjut sang Guru.

Begitulah cara PKI menanamkan nilai ateis pada anak-anak.

Reaksi Lembaga Kebudayaan Islam

 

Umat Islam tentu saja tidak diam terhadap kelakuan Lekra yang menjijikkan dunia seni tersebut. Nahdlatul Ulama (NU), misalnya, melalui Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia) yang didirikan tahun 1950, meng-counter gerakan budaya PKI yang mempromosikan ideologi atheism) dengan membuat film-film religi yang bagus.

Sutradara film Usmar Ismail aktif membuat film dan drama di Lesbumi untuk mengimbangi kegiatan seni dan budaya dari Lekra.

Gerakan kesenian Lesbumi tersebut membuat PKI meradang. Film-film religi karya seniman Lesbumi diboikot pertunjukannya di gedung-gedung bioskop yang dikuasai PKI. Bahkan sineas pro-PKI yang menguasai gedung-gedung pertunjukan mengedit film-film karya seniman Lesbumi tadi hingga unsur-unsur relijiusnya hilang.

Manifesto Kebudayaan

 

Film berjudul Kawat Berduri dan Tauhid, misalnya, diboikot pertunjukannya oleh PKI. Tak hanya itu. Lekra juga mengecam penandatangan Manikebu (Manifesto Kebudayaan).

Manikebu adalah konsep kebudayaan nasional yang dibentuk para penyair dan pengarang, 27 Agustus 1963. Manikebu yang dicetuskan HB Jassin, Wiratmo Soekito, dan Trisno Soemardjo bertujuan untuk meng-counter dominasi ideologi seni-sastra realisme sosial yang dipaksakan Lekra.

Arief Budiman adalah “anak muda” yang membuat draft counter Manikebu terhadap Lekra. Manikebu dan Lesbumi berkolaborasi untuk membendung ekspansi massif Lekra yang mendapat dukungan elit politik PKI.

Aliansi Manikebu dengan organisasi Islam dan militer, tulis Goenawan Mohamad, salah seorang aktivis Manikebu, adalah sebuah hal yang niscaya saat itu untuk menghadang hegemoni Lekra.

“Mungkin suatu kecenderungan yang normal untuk beraliansi di antara mereka yang dimusuhi atau memusuhi PKI,” tulis Gunawan dalam artikelnya, Afair Manikebu 1963-1964.

M Habib Chirzin, tokoh Muhammadiyah dan angggota Komnas HAM (2002-2007) menyatakan, ekspansi Lekra yang massif kemudian mendapat counter dari organisasi-organisasi Islam.

Setelah NU membentuk Lesbumi, HMI mendirikan HSBI (Himpunan Seniman dan Budayawan Islam) dengan tokoh-tokohnya yang sangat terkenal seperti Chairul Umam dan Arifin C Noor.

Sementara Muhammadiyah membuat Ikatan Seniman Budayawan Muhammadiyah (ISBM). Para tokoh ISBM yang terkenal antara lain Mohamad Diponegoro, Azwar AN, dan Yunan Helmi Nasution.

Dalam memperingati ulang tahun HMI (lahir 5 Februari 1947) ke 17, tahun 1964, yang diselenggarakan di Yogyakarta, misalnya, HMI menyelenggarakan bakti sosial dan pertunjukan drama di Sukabumi dan Bandung.

Saat itu, saya (Amidhan) menjadi pimpinan rombongan tim HMI yang berjumlah sekitar 30 orang. Yang menarik, HSBI-HMI menampilkan drama berjudul Setan di depan peserta Seskoad (Sekolah Komando Angkatan Darat) di Bandung, disaksikan langsung Mayjen Sudirman, Komandan Seskoad saat itu.

Drama Setan karya Mohamad Diponegoro ini, mengisahkan Nabi Ibrahim (diperankan Samhari Baswedan, paman Anies Baswedan, Gubernur DKI) yang dibakar Raja Namrud, sedang digoda setan (diperankan Widiati, putri Pak Syaebani, tokoh Islam Yogya, istri Menpan Era SBY Taufik Efendi) agar imannya luntur. Dan Ibrahim berhasil menepis godaan setan itu.

Mungkin karena puas dengan pertunjukan drama itu, Mayjen Sudirman memberi “sangu” kepada tim drama HMI sebesar Rp 350.000. Jumlah yang besar sekali bila dikurskan dengan emas saat itu.

Pak AR Ikut Hadang Lekra

 

Sementara di Semarang, dai terkenal asal Yogya, Abdurrazaq Fachruddin—kemudian terkenal dengan sebutan Pak AR—yang saat itu bertugas sebagai Kepala Kantor Penerangan Agama Jawa Tengah (1959-1964), bersama Pangdam Diponegoro Mayjen Sarbini dan Jaksa Tinggi Bustanil Arifin membentuk Pengajian Padi.

Tujuannya untuk meng-counter agitasi PKI dan Lekra yang memprovokasi rakyat melalui ketoprak agar tidak mempercayai Tuhan. Dengan bantuan dana pengusaha kaya Semarang, Haji Sulhan, Pengajian Padi mampu mengcounter kampanye ateisme yang sering dipentaskan dalam pertunjukan ketoprak di Semarang dan sekitarnya.

PKI dan Lekra pun kesal. Akibatnya Pak AR, kata Abdullah Affandi, aktivis perlawanan rakyat terhadap PKI di Yogya, tercatat sebagai target pembunuhan.

Mengetahui itu, Pak AR pun ke mana-mana selalu dijaga oleh para pendekar silat dari Tapak Suci Muhammadiyah. “Tiap malam rumah Pak AR dijaga para pesilat Tapak Suci untuk mengantisipasi kedatangan penculik dari PKI,” tutur Sukriyanto, putra Pak AR.