free hit counters
 

Membaca Geostrategi Cina di Jalur Sutra (8)

Redaksi – Rabu, 3 Sya'ban 1440 H / 10 April 2019 09:00 WIB

Kendala utama dalam implementasi SoP adalah bercokolnya kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) —Armada ke 7 Amerika— di Singapura. Artinya, jika kelak terjadi friksi terbuka antara AS versus Cina sesuai ramalan Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia) dan hari ini, agaknya tren geopolitik global kencang mengarah ke arah sana. Seandainya meletus friksi, kemungkinan besar akan terjadi sumbatan signifikan pada jalur SoP, khususnya di Selat Malaka karena hampir 82-an persen jalur energi Cina melintas di selat (Malaka) tersibuk kedua di dunia setelah Hormuz. Ini resiko yang kelak dihadapi oleh Cina. Dan bagi pemimpin visioner yang paham geopolitik semacam Xi Jinping, niscaya ia mencari upaya untuk meletakkan risk appetite pada level yang paling minimal dan dapat diatasi jika terjadi gangguan di jalur energy security Cina.

Menghadapi kemungkinan tersebut, agaknya Jinping membidani program apa yang kini disebut OBOR. Ya selain sebagai penyempurnaan kebijakan SoP, bahkan lebih hebat kapasitas dari sisi ruang maupun jangkauan. OBOR juga didukung pendanaan besar.

Tidak boleh disangkal, bahwa selat-selat (perairan) di Indonesia merupakan lintasan urgen lagi strategis bagi OBOR. Kenapa begitu, seandainya meletus konflik terbuka antara Cina melawan AS, lalu Selat Malaka diblokade oleh Armada ke 7 AS maka alternatif jalur paling efektif menuju Samudera Hindia, Laut Arab dll dalam rangka mengamankan jalur energy security ialah Selat Sunda (ALKI I), Selat Lombok (ALKI II), dst.

Mungkin inilah jawaban sementara, kenapa Cina mengincar pelabuhan-pelabuhan di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan Bali. Ya selain perairan Indonesia merupakan Sealane of Communication (SLOC), jalur pelayaran global yang tak kunjung sepi, juga apabila menguasai keempat infrastruktur pelabuhan di atas sesuai rencana OBOR maka ibarat menguasai SLOC dan lintasan pelayaran internasional di ALKI I, ALKI II dan ALKI III.



Ada asumsi beredar di dunia geopolitik, “Siapa menguasai SLOC akan menentukan pasar, sebaliknya, terganggunya keamanan SLOC akan membuat keadaan pasar menjadi tidak menentu”.

(Bersambung ke 9)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

(Sumber)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Laporan Khusus Terbaru