free hit counters
 

Mengintip Jejak Freemasonry di Malang

Redaksi – Sabtu, 14 Rabiul Akhir 1438 H / 14 Januari 2017 09:00 WIB

Eramuslim.com – Sebagai salah satu kota yang banyak dihuni oleh masyarakat Eropa di awal perkembangannya, di Malang tentu saja berkembang berbagai komunitas. Banyak komunitas ini berawal dari satu hal yang sama seperti misal klub sepakbola Go Ahead Malang yang mulai berdiri sejak tahun 1897 atau kelompok-kelompok lain. Namun di antara kelompok dan komunitas yang tumbuh subur di kota Malang tersebut, terdapat sebuah kelompok yang selalu identik dengan rahasia dan diselimuti misteri yaitu Freemason.

Peninggalan dari kelompok Freemason ini sendiri masih dapat kita saksikan hari ini yaitu berupa hotel the Shalimar yang dahulu merupakan hotel Graha Cakra di jalan Cerme nomor 16. Pada awal pendiriannya, gedung ini merupakan loge atau loji yang dibangun untuk komunitas Freemason tersebut. Gedung ini dirancang oleh Ir. Mulder dan pertama diresmikan pada tahun 1933.

Gedung peninggalan freemason

Gedung peninggalan freemason

Ir. Mulder menggunakan gaya arsitektur Niewe Bowen pada bangunan ini. Ciri utama dari arsitektur jenis ini adalah bangunan berbentuk kubus dan memiliki atap yang lurus dan merupakan tren yang sedang banyak digemari dan digunakan pada saat itu. Di kota Malang sendiri, gaya ini juga digunakan pada beberapa bangunan yang masih ada hingga saat ini.

Walaupun sering disalahpahami sebagai gerakan zionisme atau konspirasi global dengan rahasia dan rencana keji, sesungguhnya Freemasonry atau di masa lalu biasa disebut Gerakan Kemasonan merupakan organisasi kemanusiaan internasional yang melakukan aksi sosial. Gedung yang dibangun di Malang sendiri dikenal sebagai loge nummer 89 Malang dan merupakan cabang dari organisasi ini di kota Malang.

Berdasar catatan sejarah, gedung ini tidak terlalu lama menjadi gedung yang digunakan oleh Gerakan Kemasonan karena pada masa penjajahan sempat digunakan sebagai societeit. Pada masa itu, societeit merupakan tempat bagi masyarakat kelas atas, khususnya Eropa untuk mendapatkan hiburan dan berkumpul dengan teman-teman.



Pada masa kemerdekaan, tepatnya sejak tahun 1964, gedung ini kembali dialihfungsikan dan menjadi gedung baru bagi Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Acara pembukaan ini sendiri dilakukan pada tanggal 11 september 1964 bertepatan pada perayaan hari radio XIX.

Pada tahun 1993, setelah RRI Malang pindah ke gedung baru di jalan Candi Panggung, bangunan ini mulai diubah menjadi hotel. Pada saa itu, hotel tersebut diberi nama sebagai Malang Inn. Namun pada tahun 1995, terjadi perubahan dan renovasi lagi dan membuat hotel bangunan ini berganti nama menjadi hotel Graha Cakra.

Saat ini, setelah mengalami renovasi kembali, bangunan ini berubah nama lagi menjadi the Shalimar hotel. Akan tetapi, nuansa bangunan khas Belanda dengan nuansa kolonialnya masih terdapat di berbagai sudut bangunan ini dan bahkan gaya yang sama juga digunakan pada bangunan tambahan di sampingnya.

Berada di tengah kota dengan arsitektur peninggalan Belanda yang khas dan cantik, tidak akan ada yang menyangka bahwa hotel cantik ini pada dulunya merupakan bekas gedung Gerakan Kemasonan. Waktu berlalu dan fungsi gedung ini terus berganti namun sejarah yang diukirnya menjadi salah satu jejak yang memperkaya kota Malang. (kl/mdk)

Laporan Khusus Terbaru

blog comments powered by Disqus