free hit counters
 

Metode CIA Susupi Dunia Sastra Terkuak

Redaksi – Kamis, 16 Sya'ban 1439 H / 3 Mei 2018 10:30 WIB

Eramuslim.com – Buku bertajuk ‘Finks’ menambah deretan bukti baru, bahwa raksasa sastra seperti Baldwin, Márquez, atau Hemingway dibujuk menjadi agen AS dalam Perang Dingin ranah kebudayaan.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Sekian tahun lalu, terungkap fakta bahwa pada 1966 Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) memiliki hubungan dengan publikasi sastra The Paris Review dan lusinan majalah kebudayaan lainnya. Sejumlah editor hancur reputasinya bersama penerbitan yang mereka punya. Sementara itu penerbitan dan penulis lain yang selamat ngeles, lalu menyatakan kerja sama dengan CIA itu sekadar kekhilafan masa muda. Sebagian lagi malah membela CIA sebagai satuan “tanpa kekerasan dan terhormat” yang mencoba berbuat baik.

Melalui buku mencerahkan bertajuk Finks: How the CIA Tricked the World’s Best Writers, penulis Joel Whitney membongkar mitos bahwa tindakan agensi intelijen ini di ranah kebudayaan sebagai upaya bermoral. Dia sekaligus mengungkap daftar panjang berisi penulis-penulis yang terlibat aktif mengubah citra Amerika menjadi lebih positif, terutama di negara-negara yang sudah dibikin rusuh dengan kudeta, pembunuhan, dan intervensi Amerika lainnya. Penggambaran positif itu dilakukan, salah satunya, melalui karya sastra.

CIA mengembangkan beberapa proyek rahasia, misalnya pendanaan penulis muda yang sedang naik daun dan membuat strategi propaganda budaya menggandeng pelopor kesusastraan dari seluruh penjuru dunia. Penerima dananya mulai dari Libanon, Uganda, India hingga Amerika Latin. Lembaga intelijen ini menggerogoti proses demokrasi di setiap negara sasaran, atas dalih mendukung upaya warga memberantas Komunisme.

CIA juga mendirikan Congress for Cultural Freedoms (CCF). CCF membangun strategi editorial untuk setiap tokoh kesusastraan terpilih, mendukung mereka mengatur dan menguasai pembicaraan soal isu kebudayaan di negara-negara yang segmen pembaca bukunya menolak perspektif pro-Amerika. Salah satu pendiri Paris Review, Peter Matthiessen, adalah agen CIA. Matthiessen menjual wawancara berbayar bernuansa pro-demokrasi kepada majalah mitra di Jerman, Jepang, dan lainnya.

Kasus lain misalnya adalah Mundo Nuevo yang dibuat untuk menawarkan perspektif kiri-moderat. Tujuannya demi mencuri hati dan kepercayaan pembaca di Amerika Latin yang sebetulnya cenderung mendukung sosialisme. Karya-karya sastra yang terbit di Mundo Nuevo secara khusus meredam perspektif radikal selama Revolusi Kuba. Terkadang CIA juga menyediakan editor untuk menerbitkan buku spesifik pro-demokrasi; intel AS itu sesekali bekerja langsung dengan penulis membentuk diskursus anti-komunis lewat karya-karya yang bicara soal humanisme universal. Melalui upaya-upaya ini, CFF menunggangi kerja intelektual paling progresif kurun 1960-1970-an demi membendung meluasnya simpati pada Uni Soviet. Temuan serupa di Indonesia sudah muncul, melalui buku yang ditulis oleh Wijaya Herlambang bertajuk Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Laporan Khusus Terbaru

blog comments powered by Disqus