free hit counters
 

Omnibus Law: Sosialisme Bagi Taipan, Kapitalisme Bagi Rakyat

Redaksi – Senin, 28 Jumadil Akhir 1441 H / 24 Februari 2020 12:00 WIB

Eramuslim.com -Pada acara debat terbuka untuk para calon presiden dari Partai Demokrat dua hari yang lalu (20/2) di Las Vegas, Amerika Serikat, calon presiden Bernie Sanders (78 tahun) mendengungkan sebuah frasa “Sosialisme bagi Orang yang sangat Kaya, dan Individualisme Kasar bagi Orang Miskin (Socialism for the very Rich and Rugged Individualism for the Poor”.

Frase ini digunakan Bernie Sanders untuk menyimpulkan kritiknya pada sistem ekonomi di Amerika Serikat sekaligus menyerang kandidat capres lain sesama Partai Demokrat, seperti Michael Bloomberg (77 tahun), yang merupakan salah satu orang terkaya di sana.

Dan jelas frase tersebut bukan sama sekali baru digunakan dalam dunia politik Negeri dengan produk domestik bruto (GDP) terbesar di Dunia tersebut. Dalam versi seperti yang dipopulerkan Michael Harrington pada tahun 1962 dalam bukunya yang berjudul “The Other America”, frasa aslinya adalah: Sosialisme bagi Orang Kaya dan Kapitalisme bagi Orang Miskin (Socialism for the Rich and Capitalism for the Poor). Kemudian sepanjang 50 tahun berselang, selain tentunya Bernie Sanders, berbagai intelektual, tokoh politik, ekonom, pejabat hingga aktivis politik di Amerika Serikat kerap menggunakan frasa tersebut dalam pidato atau tulisannya, sebut saja: Martin Luther King Jr., Noam Chomsky, Nouriel Roubini, Robert Bernard Rich (Menteri Tenaga Kerja AS 1993-1997), hingga Gerakan Sosial Occupy Wall Street.

Bernie Sanders menuding para orang kaya dan korporasi di Amerika Serikat sudah terlalu banyak diberikan kemudahan dalam bentuk: pertama, keringanan pajak (untuk pendapatan dan kepemilikan aset- seperti kondominium), bahkan Bernie menyebut tingkat besaran pajak (tax rate) rata-rata untuk orang-orang super kaya ternyata lebih rendah dari rate pajak kelas menengah; kedua, subsidi besar-besaran dari negara (dalam kasus Walmart dan kasus bailout Bank-Bank dan Asuransi Swasta saat Krisis Finansial 2008); kedua, keuntungan yang tidak wajar (contohnya dalam kasus korporasi Farmasi yang seenaknya menaikkan harga obat di Amerika Serikat hingga puluhan kali lipat dibandingkan untuk obat sejenis di negara-negara Eropa dan Inggris); dan keempat, bebas dari sanksi ketika mereka merusak lingkungan hidup demi mengejar profit jangka pendek.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Laporan Khusus Terbaru