free hit counters
 

Özil dan Perkara Peranakan Muslim Turki

Redaksi – Rabu, 18 Zulqa'dah 1439 H / 1 Agustus 2018 18:05 WIB

Foto: DW

Eramuslim.com – MESUT Özil, playmaker Jerman, memutuskan pensiun membela timnas Jerman. Playmaker berdarah Turki itu sakit hati dan menumpahkan curhat-nya panjang lebar via akun Twitter pribadi, @MesutOzil1088, Minggu (22/7/2018).

Özil merasa dikambinghitamkan secara politis terkait kegagalan Jerman di Piala Dunia 2018. Fotonya bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan Ilkay Gündoğan, yang juga pemain Jerman berdarah Turki, di sebuah acara amal di London, Inggris pada 14 Mei 2018 diungkit oleh sejumlah fans, media Jerman, dan terutama Presiden DFB (Induk Sepakbola Jerman) Reinhard Grindel.

“Saya takkan lagi bermain untuk Jerman di level internasional, di mana saya mengalami rasisme dan sikap tidak hormat. Di mata Grindel dan para pendukungnya, saya hanya jadi orang Jerman saat kami menang, namun saya dianggap imigran saat kami kalah,” ketus Özil.

Banyak yang bersimpati, namun banyak pula yang ikut mengkritik Özil. Pengamat dan kolumnis sepakbola berdarah Jerman Timo Scheunemann memaparkan, kasus itu mestinya tak jadi besar kalau sedari awal Özil memberi klarifikasi.

“Foto itu dikritik pedas karena timing-nya sebelum pemilihan presiden Turki. Di Jerman banyak orang Turki sehingga Özil sengaja atau tidak, tentu membantu Erdoğan meraup suara di Jerman. Dalam pernyataannya, Özil membenarkan atau sama sekali tidak mengakui kesalahannya. Beda dengan Gündoğan. Alasan Özil tak melakukannya secara politis naif karena dari sisi sang politisi pasti menggunakan momen tersebut,” ujar sosok yang biasa disapa Coach Timo itu kepada Historia.

Meski manajer timnas Oliver Bierhoff dan pelatih Joachim Löw tak menanggapi isu foto itu secara serius sejak awal, sikap diam memicu keresahan di internal Die Mannshaft. “Mereka seharusnya bisa menyuruh Özil membuat pernyataan demi ketenangan dalam tim,” lanjutnya.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Laporan Khusus Terbaru

blog comments powered by Disqus