free hit counters
 

Pemilu dan Prospek Masa Depan Warga Muslim AS

Magdalena – Kamis, 9 Syawwal 1427 H / 2 November 2006 17:25 WIB

Sejumlah pengamat di AS menilai, keberadaan warga Muslim AS berperan besar dalam menentukan hasil pemilu yang bakal digelar di negeri Paman Sam itu, terutama di distrik-distrik yang populasi Muslimnya cukup besar. Di sisi lain, meski mengalami tekanan berat sepanjang pemerintahan Presiden George W. Bush, organisasi-organisasi Muslim di AS mendorong warga Muslim untuk tidak ‘golput’ dan tetap memberikan suaranya dalam pemilu.

Basis-Basis Warga Muslim

Direktur Eksekutif Muslim American Society Freedom Foundation, Mahdi Bray mengungkapkan, ada beberapa negara bagian yang cukup banyak populasi Muslimnya dan mereka tidak buta politik. Suara dari warga Muslim yang cukup besar, bisa membuat perbedaan.

"Negara-negara bagian itu antara lain, Virginia, New Jersey, Maryland, Texas, Florida, Arizona, California, Ohio, Pennsylvania, New York, Illinois dan Minnesota," papar Bray.

Ia menambahkan, kelesuan pemilih di kalangan masyarakat AS yang non Muslim membuat keberadaan pemilih dari kalangan warga Muslim sangat penting.

Hussam Ayloush, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relation (CAIR) cabang Los Angeles, sependapat dengan analisa Bray.

"Dalam porsi tertentu di negara ini, di mana Muslim Amerika terkonsentrasi misalnya di Dearborn, Michigan, mereka bisa menciptakan perbedaan dan perubahan politik sesuai keinginan mereka," kata Ayloush, seperti dikutip dari Islamonline.

Sejak peristiwa serangan 11 September, warga Muslim AS makin aktif dalam kegiatan politik dan sosial di negara itu. Survei terbaru yang dilakukan CAIR menunjukkan ada penurunan drastis dukungan warga Muslim terhadap Partai Republik dibandingkan tahun 2000 lalu.

"Perang di Irak dan Afghanistan, dukungan buta terhadap Israel terutama selama perang di Libanon baru-baru ini, pembatasan hak asasi dan perang terhadap terorisme, makin meningkatkan jumlah warga Muslim yang berpandangan bahwa itu adalah perang terhadap Islam. Belum lagi masalah Islamophobia, persoalan kritis yang sampai saat ini penyelesaiannya tidak memuaskan warga Muslim AS," jelas Ayloush.

"Isu-isu ini mendorong warga Muslim AS untuk secara aktif berpolitik," tambah Ayloush.

Survei yang dilakukan CAIR itu melibatkan 1.000 responden warga Muslim yang terdaftar sebagai pemilih, dengan teknik wawancara. Survei menunjukkan 85 persen responden mengaku memberikan suaranya secara rutin tiap pemilu.

Bray meyakini hasil survei yang menunjukkan bahwa warga Muslim AS punya motivasi tinggi untuk aktif secara politik.

"Mereka tahu, jika mereka tidak mau menjadi warga kelas dua di negara mereka sendiri, maka mereka tidak punya pilihan lain selain aktif dalam politik," ujar Bray.

Bray mengungkapkan, ada dua tujuan utama mendorong warga Muslim di AS untuk memberikan suaranya dalam pemilu. Pertama, untuk meningkatkan partisipasi politik dan sipil warga Muslim, tanpa memandang integritas keagamaannya. Kedua, mengubah posisi warga Muslim yang selama ini termarjinalkan di lembaga-lembaga politik AS ke arah yang lebih dinamis dan aktif, yang akan memperbaiki kondisi warga Muslim di AS dan warga Muslim di dunia pada akhirnya.

Warga Muslim Bebas Memilih

Jumlah warga Muslim di AS dipekirakan mencapai lima sampai tujuh juta jiwa. Lebih dari dua juta jiwa di antaranya sudah terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu mendatang. Masjid-masjid di AS, membuka loket pendaftaran pemilih untuk mendorong warga Muslim berpartisipasi dalam pemilu. Layanan pendaftaran pemilih juga disediakan melalui internet.

Kordinator Humas CAIR di California Selatan, Munira Syeda menyatakan, hanya sedikit pemilih dari kalangan warga Muslim yang tidak mau mendaftarkan diri sebagai pemilih.

"Walaupun CAIR adalah organisasi nonprofit dan tidak mengesahkan atau mengusulkan seorang kandidat, kami membantu mengatur pertemuan antara para politisi dengan konstituennya, atau mensponsori forum bagi para kandidat untuk mengemukakan pandangan-pandangannya tentang isu-isu terkait warga Muslim di AS," jelas Syeda.

Organisasi-organisasi Islam di AS, juga memanfaatkan khutbah sholat Jumat dan ceramah-ceramah seusai sholat untuk meningkatkan kesadaran warga Muslim bahwa suara mereka dalam pemilu sangat penting.

Meski upaya penyadaran yang dilakukan cukup agresif, organisasi-organisasi Muslim itu tidak mengarahkan para pemilih untuk mendukung partai tertentu.

"Karena ini bukan pemilihan presiden, tapi pemilu untuk memilih kandidat di tingkat lokal, negara bagian dan nasional, akan terkesan bodoh jika mendukung salah satu partai. Warga Muslim harus menentukan pilihannya berdasarkan isu-isu dan posisi kandidat bersangkutan," imbuh Bray.

Ayloush dari CAIR Los Angeles mengatakan, ia lebih melihat isu-isu, sikap dan prinsip-prinsip yang dilontarkan partai atau kandidat terkait dengan persoalan warga Muslim.

"Survei terakhir CAIR adalah contoh bagus yang menunjukkan bahwa Muslim Amerika memilih bukan karena beorientasi pada partainya tapi pada isu-isu yang dikedepankan partai bersangkutan," kata Ayloush.

Direktur Eksekutif CAIR pusat, Nihad Awad membantah tudingan bahwa survei yang dilakukan CAIR tidak akurat dan bahwa para kandidat seringkali mengabaikan warga Muslim.

"Banyak warga Muslim yang netral dan meyakini bahwa kedua partai tidak mewakili kepentingan mereka," kata Awad.

Survei CAIR juga menunjukkan bahwa 42 persen responden adalah orang Demokrat dan 17 persen pendukung Partai Republik, sedangkan 28 persen menyatakan tidak punya afiliasi dengan partai politik manapun.

Menurut Syeda, mereka yang tidak punya afiliasi politik bukan berarti tidak mau memilih atau terlibat dalam proses politik. "Tapi, ini merefleksikan bahwa lebih fokus pada isu-isu yang dilontarkan bukan pada partai politiknya," tandas Syeda.

Raid N. Tayeh, konsultan media dan politik di Washington sependapat dengan pandangan Syeda. Menurutnya, survei yang dilakukan CAIR menunjukkan bahwa pemilih di kalangan warga Muslim sama seperti pemilih di kalangan masyarakat AS pada umumnya. Beberapa di antara mereka suah menentukan sikap partai mana yang akan mereka dukung, sebagian pemilih menyatakan dirinya independen dan akan memilih kandidat yang dianggap mewakili kepentingan mereka, tanpa melihat afiliasi politiknya.

Lebih lanjut Tayeh mengingatkan, warga Muslim AS harus mencari tahu untuk memahami siapa yang akan mempengaruhi para kandidat dan "untuk siapa para kandidat memberikan loyalitasnya."

Belajar dari Pengalaman

Sejarah panjang Muslim di Amerika memberikan pengalaman berharga bagi mereka agar tidak salah pilih, karena pilihan mereka akan menentukan nasib mereka sendiri.

Pada tahun 2000, sebagian besar warga Muslim AS memberikan suara dan dukungannya pada Partai Republik yang mencalonkan George W. Bush sebagai presiden. Kenyataannya, kebijakan pemerintahan Bush banyak yang mengebiri hak-hak warga Muslim lewat kampanye perang melawan terorisnya.

Tahun 2004, dukungan warga Muslim beralih ke Partai Demokrat yang gencar mengkritik kebijakan anti Muslim yang diterapkan Bush.

Direktur Eksekutif Muslim American Society Freedom Foundation, Mahdi Bray menyebut dukungan warga Muslim pada tahun 2000 sebagai hal yang "naif", melihat pengalaman kelompok etnis dan kelompok agama minoritas di AS.

"Pelajaran terpenting bagi warga Muslim Amerika adalah mengingat kembali bahwa ada kekuatan eksternal yang tidak terprediksi dan di luar kontrol siapapun," tambah Ayloush.

Sejumlah pengamat di AS berpendapat, warga Muslim tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena telah mendukung Bush pada tahun 2000.



"Saya pikir warga Muslim tidak perlu merasa bersalah telah mendukung Bush. Dukungan itu merupakan keputusan yang benar pada saat itu. Al-Gore tidak tertarik dengan suara kita, tapi Bush tertarik," ujar Tayeh.

Setelah pemilihan itu, sambung Tayeh, tak seorangpun yang menduga bakal terjadi peristiwa 11 September dan sikap serta kebijakan Bush akan berubah drastis setelah peristiwa itu.

Pada akhirnya, Hussam Ayloush, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relation (CAIR) cabang Los Angeles kembali menegaskan bahwa warga Muslim AS harus terus melangkah ke depan dan tetap fokus pada isu-isu yang akan mempengaruhi kehidupan, negara mereka dan seluruh dunia.

"Mereka harus memanfaatkan kekuatan politik mereka untuk mengantar mereka yang benar-benar menjunjung nilai-nilai negeri ini, ke kantor pemerintahan," tandas Ayloush. (ln/iol)

Laporan Khusus Terbaru