free hit counters
 

Perang Nuklir di Ambang Mata, Mengungkap Kekuatan Nuklir AS dan Israel (Bagian 2)

Magdalena – Rabu, 11 Sya'ban 1427 H / 6 September 2006 17:33 WIB

Kebijakan Nuklir AS: Menyerang Daripada Diserang

Percobaan nuklir sebenarnya telah dilarang oleh dunia internasional sejak tahun 1992. Bahkan, pascaPerang Dingin, sebagian besar fasilitas produksi nuklir besar di dunia telah ditutup. Salah satu yang dimiliki oleh Amerika di Rocky Falts, Denver misalnya telah resmi dibekukan. Begitu juga beberapa fasilitas nuklir milik Uni Soviet. Namun menurut kabar yang beredar, sejak peristiwa September 2001 pemerintahan Bush telah mengaktifkan kembali, bahkan mengeluarkan izin percobaan nuklir bawah tanah beberapa waktu lalu. Tuduhan ini ditampik oleh salah seorang pejabat Badan Keamanan Nuklir Amerika, Linton Brooks.

Meski menampik, pihak Badan Keamanan Nuklir Amerika mengakui bahwa saat ini sedang digodok kembali ide-ide pengembangan nuklir. “Masa depan tak pernah bisa diprediksi, dan kami harus siap memberikan respon yang cukup,” ujar Brooks dalam wawancaranya dengan The Cronicle.

Ia menegaskan bahwa rencana pengembangan nuklir ini tak pernah melanggar kesepakatan dalam Perjanjian Moskow. Menurut Brooks fasilitas yang dibangun tersebut hanya untuk merawat dan memelihara senjata nuklir yang sudah ada saja.

Pada era pemerintahan Presiden Bill Clinton, budget pengeluaran untuk
persenjataan nuklir Amerika mencapai angka yang paling rendah dan tak ada percobaan nuklir yang dilakukan. Dalam sebuah laporannya, majalah Atomic Scientist menyebutkan, badan atom Amerika hanya menghabiskan hari-harinya untuk merawat dan memelihara potensi nuklir yang mereka miliki, tanpa pengembangan sedikitpun.

Sebelum Perjanjian Moskow, Amerika Serikat mempunyai tak kurang dari 10.650 hulu ledak nuklir. Lewat perjanjian tersebut, jumlah nuklir Amerika berkurang menjadi hanya 2.200 hulu ledak saja. Memasuki tahun 2012 nuklir Amerika diharapkan hanya 1.700 hulu ledak saja. Tapi sepertinya, rencana tersebut akan gagal total di bawah pemerintahan George Bush yang mencoba membangun kembali, bahkan lebih besar fasilitas nuklir yang dimiliki oleh Amerika.



Penandatanganan izin proyek nuklir pertama terjadi pada Januari tahun ini. Dalam kebijakan baru yang yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan, Pentagon disebutkan, Amerika tak bisa hanya memelihara senjata nuklir dan melakukan balasan jika terjadi serangan. Tapi lebih jauh dari itu, militer Amerika harus membangun fasilitas nuklir untuk kebijakan pre-emptive, menyerang daripada diserang oleh negara-negara yang dianggap berbahaya.

Tak hanya membangun nuklir, Pentagon juga menyiapkan perangkat lain yakni pembangunan bunker nuklir untuk generasi mendatang. Anggota Senat Amerika di Komisi Pelayanan Persenjataan, awal Mei lalu menyetujui proposal penelitian senilai 15,5 juta dolar untuk persiapan pembangunan bunker anti nuklir.

Tak jelas sebesar apa potensi nuklir yang kini dimiliki oleh Amerika
Serikat. Namun, pada tahun 1999, Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa Amerika saat itu mempunyai 12.000 plutonium yang tersimpan aman di Plantex, sebuah pabrik kimia yang berada di Amarillo, Texas. Tak hanya itu, disebutkan pula di lembaga penelitian Oak Ridge Reservation di Tennessee, sekitar 200 ton uranium telah diproduksi. Diperkirakan, Amerika saat ini memiliki lebih dari angka yang pernah tercatat dalam majalah Atomic Scientist pada tahun 1999 tersebut. (na-hn/dari berbagai sumber)

Selanjutnya: Terungkapnya Proyek Senjata Nuklir Israel

Laporan Khusus Terbaru