free hit counters
 

Perang Nuklir di Ambang Mata, Mengungkap Kekuatan Nuklir AS dan Israel (bagian 6)

Magdalena – Rabu, 18 Sya'ban 1427 H / 13 September 2006 16:35 WIB

Vanunu Kembali ke Bui

Setelah menjalani masa hukumannya selama 12 tahun di penjara Israel, pada akhir April 2004, Mordechai Vanunu dibebaskan. Tapi ternyata ia tak bisa lama menikmati kebebasannya. Hanya dalam waktu kurang dari delapan bulan, Shin Bet, polisi rahasia Israel, atas perintah pemerintah menangkapnya kembali. Padahal, sebelum ditangkap Vanunu tak bisa juga disebut bebas sepenuhnya. Ia harus tinggal di sebuah apartemen yang dijaga, tak boleh melakukan pembicaraan dengan orang asing atau wartawan, dan tak boleh keluar dari Israel dalam waktu yang tak pernah ditentukan.

Vanunu, yang kini berusia 50 tahun, ditangkap di sebuah gereja di Jerussalem saat ia sedang beribadah. “Dia dicurigai membuka informasi rahasia pada pihak-pihak yang tidak berkompeten. Dia juga dicurigai telah melakukan pelanggaran atas pembebasannya,” ujar jurubicara kepolisian Israel, Gil Kleiman.

Apa yang dibongkar oleh Vanunu? Sebenarnya sudah tidak ada lagi. Semua rahasia tentang nuklir Israel telah ia buka 18 tahun silam. Tapi pemerintah Israel mencurigai ia mendapat informasi baru yang jika dibuka akan membahayakan posisi pemerintah Israel.

Ketidakadilan yang dirasakan oleh Vanunu berniatnya meninggalkan Israel. Tapi pengadilan tinggi Israel tak mengizinkannya meninggalkan negara Yahudi tersebut. Vanunu juga telah mengirimkan surat ke pemerintahan Swedia untuk mendapatkan suaka politik. Tapi lobi Yahudi terlalu kuat untuk membuatnya berhasil mendapatkan suaka politik.

“Saya tidak suka dengan Israel. Saya tidak ingin hidup di Israel. Saya ingin bebas dan pergi meninggalkan negeri ini,” ujar Vanunu kepada media saat penangkapannya.

Menurut Mordechai Vanunu, sejak peristiwa pembongkaran rahasia nuklir tahun 1986 itu, Israel tak lagi menghargainya sebagai seorang manusia.



“Israel menganggap saya sebagai seorang pengkhianat, dan sejak itu saya tidak pernah dihargai lagi. Kebebasan menyatakan pendapat dan bicara saya dilarang dan kemerdekaan saya untuk bergerak pun dikekang,” ungkap Vanunu.

Karena itu pula, ia berniat untuk mencari kewarganegaraan yang baru, jika bebas untuk kedua kalinya, nanti. Salah satu negara yang ia harap mau mengakuinya sebagai warga negara adalah Palestina. (na-hn/dari berbagai sumber)

Selanjutnya: Kata Vanunu, Israel Negara Paling Kejam

Laporan Khusus Terbaru