free hit counters
 

Perang Nuklir di Depan Mata, Menguak Kekuatan Nuklir AS dan Israel (Bagian 1)

Magdalena – Selasa, 10 Sya'ban 1427 H / 5 September 2006 12:19 WIB

Sepak terjang AS terhadap persoalan nuklir Iran, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa negara adidaya itu sangat peduli dengan keamanan dunia yang terancam dengan adanya persenjataan nuklir. Tudingan AS bahwa program nuklir Iran berbahaya karena akan digunakan untuk membuat senjata nuklir, membuat dunia internasional tutup mata dan lengah, bahwa AS sendiri sebenarnya sedang mengembangkan program nuklirnya dan menargetkan hasil ratusan hulu ledak nuklir tiap tahunnya.

Begitu juga dengan sekutu dekatnya Israel, program nuklir negara ini bahkan tidak pernah diributkan AS seperti AS meributkan program nuklir Iran. Sejumlah sumber menyebutkan program nuklir AS dan Israel, jelas-jelas ditujukan untuk pertahanan yang artinya cenderung digunakan untuk membuat senjata pemusnah massal bukan untuk tujuan damai.

Artikel ‘Perang Nuklir di Ambang Mata, Mengungkap Kekuatan Nuklir AS dan Israel’ ini, mencoba mengungkap sejauh mana AS dan Israel sudah mengembangkan kekuatan nuklirnya, apa agenda tersembunyi mereka, termasuk kisah dramatis seorang ilmuwan nuklir Israel membongkar skandal nuklir negaranya. Karena panjangnya artikel ini, maka kami akan menyajikannya secara bersambung setiap hari. Semoga memberi pencerahan bagi kita semua, bahwa ada ancaman besar bagi umat manusia bernama nuklir, jika penggunaannya diselewengkan dan berada ditangan pihak-pihak yang salah dan berambisi untuk menguasai dunia. Akhir kata, selamat membaca…..

Program Nuklir AS, Targetnya 500 Hulu Ledak Nuklir per Tahun

Jika dihitung-hitung, tak ada negara yang begitu besar menyumbangkan kerusakan dan kehancuran kehidupan manusia seperti Amerika. Salah satu sumbangannya adalah, selain perang, pembangunan fasilitas nuklir terbesar di dunia.

Sejak peristiwa 11 September, Amerika seolah harus mengamankan dirinya seaman mungkin. Paman Sam harus memberangus setiap kemungkinan yang bisa mengancam dirinya. Persenjataan pun dikembangkan sekuat mungkin dan secanggih-canggihnya. Dan nuklir menjadi salah satu pilihan yang tak bisa dihindarkan.

Sebuah tempat di wilayah Nevada hingga terusan sungai Savannah di South Carolina bisa jadi kini adalah daerah paling berbahaya. Pasalnya, nama daerah ini disebut-sebut akan menjadi kompleks percobaan senjata nuklir yang mulai digencarkan kembali oleh Presiden Goerge W. Bush.

Proposal yang diajukan oleh Bush pada kongres Amerika tersebut tak
tanggung-tangung besarnya. Senilai 320 juta dolar Amerika atau sama dengan hampir 280 milyar rupiah, dianggarkan untuk pembangunan sumber plutonium baru. Ini belum termasuk 40 juta dolar yang ditujukan untuk pembangunan pabrik yang diharapkan akan menghasilkan 500 rudal berhulu ledak nuklir setiap tahunnya. Ditambah dana sebesar 135 juta dolar untuk produksi tritium, salah satu bahan nuklir yang sudah lebih dari dua dekade terakhir tak lagi diproduksi oleh dunia.



Menurut salah seorang pengamat teknologi nuklir yang juga seorang ilmuwan, Robert Civiak, pemerintahan Amerika setidak-tidaknya akan mengeluarkan dana sebesar 2,5 trilyun dolar mulai tahun 2001 hingga tahun 2008 untuk program nuklirnya.

“Setidaknya pemerintah Amerika, dengan dana sebesar itu, ingin memproduksi 500 pucuk hulu ledak nuklir setiap tahunnya,” ujar Civiak menganalisa.

Lebih lanjut Civiak mengatakan, jika hal itu terjadi, maka Amerika telah
melanggar Perjanjian Moskow yang berisi tentang pembatasan jumlah produksi senjata nuklir dengan Rusia. Perjanjian Moskow yang telah disepakati dengan Rusia tersebut telah menghancurkan sekitar 60% senjata nuklir di seluruh dunia. (na-hn)

Selanjutnya: Kebijakan Nuklir AS: Menyerang Daripada Diserang

Laporan Khusus Terbaru