free hit counters
 

Tulis Ulang Sejarah Nusantara: Kembalikan Aceh Sebagai Serambi Mekkah (TAMAT)

Redaksi – Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1436 H / 31 Januari 2015 06:05 WIB

banda-aceh-arch-468242-swEramuslim.com – Beberapa lembaga Kristen yang turut membangun Aceh kembali pasca tsunami adalah lembaga misionaris Church World Service (CWS) yang berencana melakukan rehabilitasi jangka panjang di Aceh dan Asosiasi sekolah-sekolah Kristen yang berencana membangun gedung-gedung sekolah.

CWS sendiri akan fokus pada pelayanan pendistribusian bantuan darurat ke lebih dari 12.000 orang terlantar di Banda Aceh dan Aceh Besar, penyediaan tim mobil kesehatan dan tim psikologis mental, serta pemasangan persedian air dan sanitasi di Meulaboh. CWS di Aceh ini dipimpin oleh Maurice Bloem, yang telah beroperasi selama lebih dari 20 tahun dan stafnya kebanyakan orang Indonesia.

“CWS Indonesia adalah program internasional kami yang terbesar,” ujar Bloem. Tim kesehatan CWS bahkan mengkoordinasikan kunjugan satu pekan sekali di beberapa daerah kunci dan telah membuka pelayanan kesehatan di lebih dari 20 desa.

Sedang Asosiasi sekolah-sekolah Kristen berniat akan membangun sekolah-sekolah di Aceh. Situs christiantoday.com  melaporkan bahwa lembaga ini (ACSI) yang berpusat di Colorado Springs, AS akan mulai membangun sekitar 70 gedung sekolah di Indonesia.

Menanggapi kinerja pemerintah dalam memulihkan Aceh, Direktur Hilal Merah, Dr. Hilmy Bakar Almascaty menyatakan, “Pembangunan yang dipelopori oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) di Aceh tidak tepat sasaran dan tidak jelas konsepnya. Hilmy mencontohkan kenapa LSM Katolik Church Relief Service (CRS) dibiarkan berencana membangun mesjid di enam tempat di daerah Aceh.

“Saat ini proposalnya sudah ada di Pemda,” papar Hilmy. Selain itu, menurutnya, konsep pembangunan yang dilakukan BRR tidak sesuai dengan agama dan budaya masyarakat Aceh yang pada dasarnya sangat membutuhkan bantuan yang sifatnya spiritual dan bukan semata materil.

“BRR tidak mengerti benar syariat dan budaya masyarakat Aceh. Ini sangat meresahkan masyarakat dan BRR juga sangat arogan dengan menganggap lembaganya sebagai rekomendasi AS,” jelas Hilmy.

Organisasi dan lembaga Islam sendiri, khususnya yang lokal, memang memiliki kepedulian terhadap masa depan Muslim Aceh. Beberapa organisasi Islam memang dengan intens dan serius turut memikirkan dan mengawal pembangunan kembali Aceh. Namun disebabkan keterbatasan dana dan sumber daya manusia, lembaga-lembaga Islam banyak yang sudah meninggalkan Bumi Serambi Mekkah dan dengan cepat melupakan nasib saudara-saudaranya yang terus-menerus berada dalam incaran perampok-perampok akidah.

Sejarah panjang kegemilangan negeri Islam bernama Nanggroe Aceh Darussalam tentu wajib kita jaga, hal ini tentunya harus menjadi perhatian tersendiri bagi lembaga-lembaga dan organisasi umat Islam yang begitu banyak tersebar di Indonesia.

Pembangunan kembali Aceh memang bukan semata pembangunan dalam bidang fisik, namun juga pembangunan dan pemulihan kembali kondisi psikis dari ratusan ribu korban tsunami. Setahun kinerja pemerintah SBY-JK dalam membangun kembali Aceh sangat mengecewakan. Para pengungsi masih saja kesulitan air, makanan pun masih seadanya, jika demikian janganlah dibayangkan sudah seperti apa pembangunan dan pemulihan yang dilakukan pemerintahan ini terhadap kondisi psikis ratusan ribu korban tsunami ini.

Aceh, Barat, dan Dunia Islam: Sebuah Renungan

Barat Kristen ternyata tidak hanya menggempur akidah orang Aceh di lapangan “bantuan kemanusiaan”, tetapi juga menggelar perang opini bagi masyarakat dunia. Sejumlah kantor berita Barat yang dikuasai jaringan Zionis-Yahudi memblow-up uluran tangan negara-negara Barat kepada para korban tsunami dan sama sekali tidak memuat bantuan yang berasal dari Dunia Islam seperti dari negara-negara kaya di Timur Tengah.

Padahal, pada kenyataannya di lapangan, jumlah bantuan yang kelihatan besar yang dikucurkan sejumlah negara-negara Barat yang dimotori Amerika Serikat lebih banyak masih merupakan janji atau komitmen. Itu pun dalam bentuk utang yang juga mempunyai bunga. Yang terealisasi cuma sebagiannya. Sangat beda dengan bantuan dana dari negara-negara Islam yang berbentuk hibah (hadiah) dan dalam nilai yang sesuai dengan yang dijanjikannya.

Dalam KTT Tsunami yang di gelar di Jakarta awal tahun 2005, negara-negara Barat telah sepakat untuk mengumpulkan pinjaman (baca: utang yang berbunga) sebesar US$ 4 M (dengan kurs Rp.10.000,- perdollar AS maka jumlahnya sekitar 40 triliun rupiah). Di antaranya dari AS US$130 juta (kemudian menjadi US$ 350 juta), Perancis US$ 29,5 juta, World Bank US$ 250 juta, dan yang terbesar dari Australia sebesar US$ 767 juta.

Sementara itu Inggris menjanjikan dana US$ 180 juta untuk semua negara korban Tsunami, tidak khusus untuk Indonesia.[1] Jumlah ini memang kelihatannya besar, tapi ini baru janji dan itu pun dalam bentuk utang berbunga.

Namun jika dibandingkan dengan jumlah utang Indonesia kepada negara-negara Barat tersebut, jumlah itu ternyata tidak ada apa-apanya. Jumlah utang Indonesia sekarang ini sekitar US$ 150 M (setara dengan 1,5 biliun rupiah atau 1.500.000.000.000.000 rupiah!). Pada tahun 2004 saja, negeri ini harus menyicil utang sejumlah US$ 14 M.[2]

Menanggapi hal ini, banyak pihak pesimis bahkan sinis dengan komitmen negara-negara Barat di atas. The Guardian edisi Januari 2005 memuat satu laporan berjudul ”Will Tsunami Aid Materialize?” yang memaparkan kesangsian sejumlah pihak bahwa jumlah pinjaman yang akan dikucurkan Barat akan sebesar itu.

Robert Smith, juru bicara Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), salah satu badan di bawah PBB yang konsern dalam menyikapi bencana tsunami di Asia Tenggara termasuk pihak yang sangsi dengan komitmen Barat mengingat pengalaman yang sudah-sudah di mana Barat lebih besar dalam omongan dan janji tapi realisasinya amatlah kecil (NATO = Not Action Only Talk).

Tepat setahun sebelum tsunami menghantam Aceh, sebuah gempa besar telah mengguncang Bam, Iran.. Seperti halnya di Aceh, menyikapi bencana di Iran sejumlah negara Barat kala itu menjanjikan bantuan sebesar US$ 1,1 M, tetapi realisasinya ternyata cuma sebesar US$ 17,5 juta atau tidak sampai 2 persennya!

Di Mozambique yang ketika itu habis diterjang banjir besar di tahun 2000 lalu, Barat menjanjikan bantuan sebesar US$ 400, namun yang terealisasi tidak sampai setengahnya.

Sementara itu, menyikapi tragedi Hurricane Mitch yang menyapu Honduras dan Nicaragua di tahun 1998 lalu yang mengakibatkan lebih dari sembilan ribu jiwa menemui ajal, Barat menjanjikan pinjaman sebesar lebih dari US$ 3,5 M, sementara World Bank, IMF, dan Uni Eropa berjanji akan patungan untuk mengucurkan pinjaman sebesar US$ 5,2 M. Tapi yang yang mengucur juga hanya 30 persennya.

Tapi yang benar-benar sial mungkin yang dialami oleh Gujarat (India), Bangladesh, dan Amerika Tengah, yang sekitar tahun  2002 mengalami bencana, dan seperti biasanya Barat berjanji akan memberikan bantuan namun sampai bertahun-tahun tak satu sen dollar pun yang mengucur.

Inilah kelakuan Barat sesungguhnya. Pada hakikatnya, Barat adalah bangsa pedagang yang kikir yang berprinsip: “Dengan modal sekecil-kecilnya, bahkan kalau mungkin tidak usah pakai modal, untuk merampok keuntungan sebesar-besarnya.” Inilah prinsip kapitalisme-imperialis.

Di lain sisi, media massa dunia sama sekali tidak memuat kiprah negara-negara Islam dalam memberikan bantuannya untuk korban tsunami. Bahkan sejumlah media Barat dan juga media-media Indonesia yang berkiblat ke Amerika memuat artikel dan berita yang mengkritik Dunia Arab yang dianggap bakhil dalam menyikapi nasib saudara-saudaranya di Aceh.  Benarkah demikian?

Yang sesungguhnya terjadi, Dunia Arab hanya terkesan lamban dalam menyikapi bencana tsunami ini, tapi sekali bergerak, mereka sungguh-sungguh mengulurkan tangannya dan membantu tanpa pamrih, mengucurkan uang dalam bentuk hibah (hadiah) dalam jumlah yang jauh lebih besar ketimbang Barat.

king-fahd_4Kelambanan pengucuran bantuan dari negeri-negeri Timur Tengah memang sangat beralasan karena sejak terjadinya kasus WTC, bank-bank internasional melakukan blokade terhadap dana segar dari Timur Tengah yang biasanya dikucurkan ke sejumlah negeri Muslim dunia. Jadi bukan disebabkan ketidak perdulian dari sesama Muslim. Ini AS pula yang jadi biang keroknya.

Awalnya Saudi Arabia hanya mengucurkan bantuan senilai US$ 10 juta dan negara-negara Arab lainnya di bawah nilai itu. Namun ketika mereka mengalang kegiatan Telethlon yang dimaksudkan untuk menggalang dana bagi solidaritas tsunami, maka dalam waktu singkat telah terkumpul dana sebesar US$ 83 juta. Ini baru permulaan.

Pada tanggal 12 Januari 2005, sekitar 17 duta besar dari negara-negara Islam berkumpul di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dalam pertemuan sekitar dua jam itu, mereka sepakat untuk membantu memulihkan kondisi Aceh pasca bencana dalam tindakan yang nyata.

Para duta besar yang hadir dalam pertemuan antara lain dari Malaysia, Turki, Pakistan, Arab Saudi, Tunisia, Aljazair, Bosnia, Lebanon, Afghanistan, Maroko, Jordania, Kuwait, Yaman, Uzbekistan dan Suriname.

Khusus di Saudi, nomor satu di negeri itu, Khadimul Haramain Al-Syarifain Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud dan Putra Mahkotanya memimpin acara penggalangan dana bagi para korban bencana tsunami. Dalam kegiatan penggalangan dana putaran ketiga yang memakan waktu hanya dua pekan, telah terhimpun dana cash sebesar US$ 800 juta atau senilai 8 triliun rupiah dengan kurs 10 ribu rupiah). Hibah ini jauh lebih besar ketimbang negara-negara Barat mana pun, apalagi ini bukan utang. Inilah faktanya.

Namun disebabkan hegemoni Barat terhadap pembentukan opini dunia, maka warga dunia termasuk Indonesia banyak yang termakan informasi-informasi salah yang menyudutkan Dunia Islam dan membangga-banggakan Barat dalam hal keperdulian mereka terhadap korban bencana tsunami.

Hal ini patut menjadi renungan kita bersama, bahwa penguasaan corong opini sangatlah penting dalam mendukung jihad semesta. Muslim Indonesia sebagai muslim terbesar dunia sudah saatnya memiliki harian yang bersifat nasional yang sungguh-sungguh membela aspirasi umat Islam dan menjadi pendukung utama gerakan menegakkan kalimat Allah SWT di Indonesia dan juga dunia. Sekarang ini belum ada satu pun harian di Indonesia yang memegang peranan seperti ini.

Betapa ironisnya, saat tiras harian-harian besar di AS mengalami penurunan karena masyarakatnya sudah beralih ke dalam portal berita di internet, maka Muslim Indonesia sampai sekarang belum satu memiliki harian yang benar-benar islami.

Berkaca pada sejarah Muslim Aceh yang begitu panjang, maka ada satu benang merah yang bisa ditarik, yakni upaya musuh-musuh Allah SWT tidak pernah berhenti untuk terus menerus menyerang umatan tauhid ini dalam berbagai cara dan strategi, walau menundukkan satu daerah mereka harus bekerja siang dan malam selama berabad-abad lamanya. Aceh dan sejarahnya merupakan satu bukti tak terbantahkan. Maha Benar Alah SWT yang berfirman dalam kitab-Nya yang Maha Mulia: “Wa lan tardhlo ankal Yahudu wa Nashoro hatta tatabian Milatahum”, Tidak akan berhenti kaum Yahudi dan Nasrani memerangimu sampai kamu menyerah dan tunduk pada kemauan mereka…(TAMAT/Rizki Ridyasmara)



——————

Dapatkan App Eramuslim for Android KLIK DISINI.

[1] Jawa Pos, 7 Januari 2005.

[2] BBC Online, 16 Agustus 2004.

Laporan Khusus Terbaru