free hit counters
 

Tulis Ulang Sejarah Nusantara: Nanggroe Atjeh Darussalam, Kisah Yosep Selevin (27)

Redaksi – Minggu, 25 Januari 2015 06:36 WIB

69300313-Jalan Salib1-6Eramuslim.com – Paska tsunami, di kalangan umat Kristen memang banyak beredar luas isu negatif yang mengatakan telah terjadi aksi penganiayaan yang dilakukan umat Islam atas warga Kristen di Aceh. Informasi ini antara lain beredar di Flores, Nusa Tenggara Timur. Yosep Selevin, putera Flores aktivis gereja yang bertahun-tahun tinggal di Aceh mendengar hal ini. Dengan tegas, Yosep menyatakan bahwa berita itu adalah sama sekali tidak benar.

Dalam situs Swaramuslim.net (18 April 2005), Yosep Selevin membeberkan kesaksiannya bahwa isu negatif tersebut adalah suatu kedustaan besar.

Bahkan pada tanggal 25 Maret 2005,  ketika Aceh dikunjungi Bishop Robert Lynch asal Florida-AS yang memimpin Peringatan Jalan Salib di Banda Aceh dalam memperingati Paskah bersama komunitas Katolik lainnya di Aceh. Kegiatan ini bisa berlangsung dengan bebas dan damai di Aceh.

Inilah bukti betapa Muslim Aceh memiliki toleransi yang teramat baik pada saudara-saudaranya yang lain agama. Coba bayangkan, apakah hal yang sama bisa terjadi di Timor Timur ketika masih bersatu dengan NKRI? Apakah umat Islam di Timor-Timur itu bisa mengadakan takbiran keliling dengan bebas, jika membangun masjid saja tidak boleh?

Anehnya, sehari setelah peringatan Paskah itu, gempa besar berkekuatan 8.7 Skala Richter mengguncang pulau Nias dan memporak-porandakan serta menewaskan ribuan penduduknya yang mayoritas Kristen. Padahal gempa besar dan tsunami di Aceh juga terjadi sehari paska peringatan Natal 25 Desember 2004. Adakah ini memiliki rahasia Ilahiah? Wallahu’alam.

Seratus hari lebih pasca-tsunami, wartawan portal berita Acehkita berjumpa untuk kedua kalinya dengan Yosep Selevin di pinggiran kota Banda Aceh. Dia bukan orang terkenal di Serambi Mekkah. Namun jamaah Gereja Hati Kudus Banda Aceh, khususnya para pemuda-dan pemudinya, pasti mengenal sosok pria ini. Yosep lahir 34 tahun lalu di Manggarai, Flores, NTT. Ia menjabat Koordinator Muda Mudi Kristen (Mudika) di Gereja Hati Kudus, Banda Aceh. Kalangan jurnalis yang meliput kegiatan gereja tiap 25 Desember atau hari-hari besar umat Kristiani lainnya, pasti mencari Yosep untuk menggali informasi serta tata tertib mengambil foto ketika kegiatan misa tengah dilangsungkan.

Tak hanya para jamaah gereja yang kenal Yosep. Para pemakai mobil eks Singapura dari Sabang juga. “Saya memang di-training di Singapura untuk membuka bengkel mobil eks Singapura di sini. Namun batal karena sulitnya birokrasi,” sebutnya tahun lalu di bengkelnya di Ulee Lheue, Banda Aceh.

Saat ditemui pertama kali pasca-tsunami akhir Januari 2005 lalu raut wajahnya menyimpan duka yang mendalam. “Istri dan bayi saya meninggal dalam mobil ketika menyelamatkan diri,” rintihnya membuka pembicaraan di sebuah warung kopi di Lambaro, Aceh Besar. Rumah toko (ruko) berlantai dua yang menjadi tempat tinggal sekaligus bengkel Yosep di Ulee-Lheue yang hanya berjarak satu kilometer dengan garis pantai kini rata dengan tanah.

Yosep mengenang malam menjelang bencana itu. Pada Sabtu malam, istrinya, Sri Ulina Purba (30) mengaku perasaannya tak enak. Tapi keluhan itu tak ditanggapi serius oleh Yosep. Apalagi, hari itu adalah Hari Raya Natal. Esok paginya, Minggu, 26 Desember 2004, Yosep dan keluarga bersiap-siap ke gereja. Namun sekitar pukul 08.00 WIB, gempa bumi berkekuatan 8,9 Skala Richter mengguncang Banda Aceh. “Segera saya keluarkan mobil-mobil yang di lantai satu dengan pertimbangan bila ruko runtuh mobil langganan selamat,” kenangnya.

Anaknya, Yoel Kristian, yang masih berusia 8 bulan, sudah dalam pelukan istrinya sambil berdiri di depan ruko. Yosep menyaksikan, sesaat setelah gempa mereda, banyak warga sekitar berlarian menuju pantai menyaksikan keajaiban alam yang belum pernah dilihatnya, yakni menyusutnya air laut sejauh ratusan meter. Keadaan ini tidak berlangsung lama, tiba-tiba Yosep melihat orang-orang yang tadinya berlari menuju pantai, kini berbalik seratus delapan puluh derajat berlari menjauh dari pantai sambil berteriak-teriak ketakutan, bahkan banyak yang menangis histeris. Di belakang orang-orang yang berlarian, dinding air hitam setinggi pohon kelapa tampak mengejar mereka. Sebuah tongkang amat besar, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung, seberat 3.600 ton yang diikatkan di pelabuhan Ulee Lheue melayang-layang di atas air dipermainkan gelombang. Yosep bergidik ngeri melihat ini semua. “Segera saya hidupkan sedan dan kabur ke arah kota,” kenangnya.

Di kiri kanan jalan, ribuan warga menyelamatkan diri dengan mobil, sepeda motor, atau berlarian dengan kaki terlanjang. Sasaran mereka hanya satu yakni menuju tengah kota. Di tengah perjalanan, isterinya meminta kepada Yosep untuk memberi tumpangan kepada warga. Menurutya, masih ada tempat kosong di kursi belakang, mengapa tidak memberikan tumpangan kepada warga yang membutuhkan. Lalu, empat ibu-ibu duduk berdesak-desakan di jok belakang. Tentu saja, waktu pun semakin tersita karena harus berhenti menaikkan penumpang.

Sementara itu, jalan semakin macet. Lalulintas tak terkendali lagi. Semua orang ingin secepatnya mencapai kota. “Di jembatan dekat rumah Pangdam, mobil tak bisa bergerak lagi karena macet, maka saya belok ke kanan, ke Punge,” lanjut Yosep. Dia tak menyangka tsunami juga menyeruak dari arah Kampus Universitas Iskandar Muda, Surien. Tak pelak lagi, tujuh jiwa dalam sedan merah itu pun digulung-gulung tsunami. Entah berapa kali sedan merah eks Singapura itu jungkir-balik digulung tsunami bercampur lumpur, hingga akhirnya terparkir di bawah pohon asam di sebuah perkarangan rumah warga.

“Saya bisa keluar dari mobil setelah memecahkan kaca depan,” kata Yosep yang sudah 15 tahun tinggal di Banda Aceh ini. Sebaliknya, sang isteri, bayinya, dan empat warga yang diberikan tumpangan telah menghembuskan nafas terakhir di jok masing-masing. Mobil itu terdampar di belakang terminal Setui. Yosep lantas meminta bantuan beberapa warga sekitar untuk mengevakuasi jenazah isteri dan anaknya ke trotoar Jalan Teuku Umar. “Saat itu saya melihat banyak jenazah dijejerkan di atas trotoar. Saya benar-benar bingung, mau bawa ke mana jenazah istri dan anak saya. Keadaan kacau benar,” katanya.

Tanpa terasa hari sudah sore, sebentar lagi gelap karena listrik padam. Yosep berpacu dengan waktu. Ia bingung hendak kemana membawa dua jenazah orang yang sangat dikasihinya itu. Di saat itulah, Yosep memperhatikan warga menempatkan deretan jenazah di Masjid Kupiah Meukeutob (di depan Terminal Bus Setui), Banda Aceh. Masjid ini khas karena bagian kubahnya didesain seperti topi tradisional Aceh. Bersama warga yang membantunya, Yosep mengusung jenazah isteri dan anaknya ke dalam masjid. Tak ada yang protes ketika Yosep meletakan dua jenazah itu di dalam masjid yang berdampingan dengan jenazah-jenazah lain.

“Warga tahu saya Kristen. Namun mereka tidak protes ketika saya inapkan jenazah isteri dan anak di sana di masjid,” ujarnya terharu. Malamnya, Yosep mencari sisa-sisa makanan untuk mengganjal perut. Maklum saja, sejak siang, perut belum diisi. Tak hanya dia, warga lain pun mengais sisa-sisa bungkus-bungkus mi instan yang digiring arus tsunami. Lalu esok harinya, dua buah hatinya dikuburkan di Mata Ie, Aceh Besar, melalui bantuan orang tua angkatnya yang tinggal di sana.

“Malam itu, saya tidur di samping jenazah isteri saya. Warga lain pun demikian juga,” ungkapnya terbata-bata.

Sebulan lebih usai tsunami, pria peramah yang mempekerjakan sejumlah pemuda Aceh di bengkelnya itu mudik ke kampungnya di Kabupaten Manggarai, Flores, NTT. Dua pekan di kampungnya, Yosep kembali ke Aceh.

Di Flores, Yosep seolah-olah menjadi jurubicara bagi warga Aceh. Yosep sangat marah karena beredar rumor di tanah kelahirannya bahwa umat Kristen di Aceh dianiaya dan pastur telah dibunuh. Yosep sendiri bingung kenapa isu murahan seperti ini bisa sampai ke tanah kelahirannya.



“Di radio dan koran setempat, hal tersebut saya singgung berulang kali bahwa isu itu bohong. Saya menjadi bukti bagaimana toleransi beragama di sana tak ada masalah,” tegasnya bersemangat.

Saat ditanya wartawan Acehkita kenapa masih mau tinggal di Aceh padahal tidak ada lagi keluarga atau tempat usaha di sini? Dengan cepat Yosep mengatakan bahwa di Aceh dirinya memperoleh iklim kerja yang pas, warga yang ramah serta mau menerima pendatang seperti dirinya. Paska-tsunami pun, tak ada satu pemilik mobil pun yang minta ganti rugi karena mobilnya hilang di bengkelnya karena mereka paham bahwa ini semua di luar keadaan normal. Bahkan sebulan paska-tsunami, Yosep menerima banyak tawaran untuk memperbaiki mobil korban tsunami, namun ditolaknya karena masih trauma. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

————————

Dapatkan App Eramuslim for Android KLIK DISINI.

Laporan Khusus Terbaru