free hit counters
 

Tulis Ulang Sejarah Nusantara: Nanggroe Atjeh Darussalam, Pemurtadan Pasca Tsunami (30)

Redaksi – Selasa, 5 Rabiul Akhir 1436 H / 27 Januari 2015 06:00 WIB

sp02-eSmiles-all-roundEramuslim.comUnaccompanied children (Anak-anak tak bertuan) adalah golongan yang paling rentan keselamatan hidupnya, dan paling sering dilanggar hak-haknya. Mereka berisiko tinggi untuk mengalami penelantaran, perundungan seksual, dan perlakuan salah lainnya. Di hari-hari pertama pasca tsunami, anak-anak yang tiba di lokasi pengungsian mengalami rasa kehilangan dan duka cita yang sangat besar serta disorientasi yang hebat.

Hal ini diperburuk lagi dengan kurangnya koordinasi penanggulangan bencana oleh pemerintah di semua lini dan aspek. Sangat tidak mengherankan kalau saat-saat seperti itu, seperti yang dikatakan Din Syamsuddin, pesawat kargo World Help bisa dengan leluasa membawa keluar 300 anak Aceh seperti yang diklaimnya.

Perampok Iman di Bumi Serambi Mekkah

Tidak salah jika dikatakan, setelah gempa dan gelombang tsunami menyerbu Aceh, maka Muslim Aceh yang sudah porak-poranda kembali diserbu oleh gerombolan agresor iman. Mereka adalah para misionaris dari berbagai negara di dunia, yang datang ke Aceh berkedok relawan kemanusiaan namun sekaligus membawa misi tersembunyi (The Hidden Agenda) untuk memurtadkan Muslim Aceh. Siapa saja dan bagaimana hal itu dilakukan? Inilah sekelumit kabar tentang bahaya yang telah dan sedang menimpa sebuah Nanggroe:

Riverside Baptist Church merupakan salah satu lembaga missionaris Amerika Serikat. Ketika tsunami melanda Aceh, lembaga ini segera mengutus Pendeta Drew Stephens bersama enam ahli medis lainnya untuk terbang ke Aceh dengan membawa obat-obatan dan makanan.

“Kami memberikan ini secara gratis, tak ada syarat,” ujar Pdt. Stephens yang dipercaya mengepalai rombongan ini. Walau demikian, ujar Stephens, pihaknya juga akan memperkenalkan sesuatu yang kami percayai, yakni tentang harapan besar Kristiani dan tujuan-tujuannya. “Kami ingin membangun sebuah jembatan dialogis bagi masyarakat dan budaya setempat,” tambahnya.

Harian Denver Post, 17 Januari 2005, memberitakan bahwa Penginjil Mark Koninski telah terbang dari Malaysia menuju Aceh demi menyelamatkan apa yang disebutnya, “Domba-domba sesat.” Dalam laporan tersebut, Mark menyatakan para korban bencana tsunami seperti yang dialami rakyat Aceh, Srilanka, India, Malaysia, dan Thailand selain memerlukan obat-obatan dan makanan, juga membutuhkan kehadiran Yesus Kristus.

“Tuhan Yesus sedang mencoba untuk membangkitkan masyarakat itu dan menolong mereka agar menyadari dengan sepenuh hati bahwa keselamatan sejati itu hanya ada di dalam Yesus,” paparnya.  Menurut Eric Gorski dari Denver Post, bagi banyak kaum penginjil, bekerja di daerah bencana merupakan kesempatan untuk memenuhi apa yang mereka tafsirkan sebagai “Janji Tuhan Yesus.”

Jerry Falwell, salah seorang pendeta fundamentalis AS yang juga kawan akrab Presiden George W Bush dan kerap menghina Islam, secara terang-terangan dan penuh percaya diri menegaskan pihaknya akan mengirim satu tim ke Aceh untuk menyebarkan iman Kristiani.

Pdt. Jerry Falwel

Pdt. Jerry Falwel

Dalam pesan Newsletter pekanan “Falwell Confidential” yang dikutip dari Juru Bicara CAIR (Lembaga Hubungan Islam-Amerika) Ibrahim Hooper, Falwell menyatakan bahwa Aceh membutuhkan bantuan medis dan nasehat pribadi. “Sebagian besar dari mereka adalah Muslim, dan mereka belum mendengar pesan dari Yesus Kristus,” ujar Falwell seraya mengatakan organisasinya juga akan menyebarkan Injil di seluruh Aceh.

Dalam situsnya, www.falwell.com, Falwell memuat kampanye penggalangan dana bagi misi besarnya itu. Secara pibadi, kepada Bush, Falwell meminta Gedung Putih mendukung kegiatannya di Aceh dan Asia Selatan. Seorang Muslim AS yang menerima e-mail dari Newsletter Falwell, kemudian segera menembuskannya ke CAIR. Hooper mengatakan, “Menurut statemen di http://www.falwell.com/ dan situse Universitas Liberty, sekolah itu sedang menyiapkan sebuah tim yang akan melakukan ekspedisi ke India, Sri Lanka dan negara-negara lainnya di Asia Selatan.”

Misi tim itu sebagaimana tertulis di situs tersebut adalah, “membagikan makanan dan kebutuhan medis, bersamaan dengan penyebaran ribuan injil dalam bahasa daerah akan menjadi tugas utama tim tersebut.” Misi itu beranggotakan para mahasiswa Universitas Liberty, sebuah universitas yang didirikan Falwell. Jerry Falwell sendiri pernah menyatakan Nabi Muhammad SAW adalah teroris dalam Majalah Newsweek, 14 Oktober 2002.

William Suhanda, misionaris lokal dari Light of Love for Aceh mengatakan pihaknya  telah mendistribusikan makanan di Banda Aceh dan berharap bisa membawa 50 anak Aceh untuk diasuh di panti asuhan Kristen di Jakarta.

Menanggapi banyaknya pemberitaan tentang upaya pemurtadan terhadap rakyat Aceh korban tsunami, membuat gerah banyak organisasi gereja asal Amerika. Compassion International (CI), bermarkas di Colorado Springs, AS, mengaku hanya menjalankan misi kemanusiaan. David Dahlin, Wakil Presiden Senior CI, jika penyebaran iman Kristiani dilakukan di Aceh, rakyat Aceh akan enggan untuk menerima bantuan.

“Sebab itu, kita tidak lakukan hal tersebut di Aceh,” kilahnya. Church of Scientology, AS, juga mengatakan, “Kami datang ke mari [Aceh] tidak untuk misi pengkristenan. Itu sangat tidak menyenangkan,” ujar Greg Churilov dari Church of Scientology.

Demikian juga yang dilakukan organisasi Kristen lainnya seperti World Vision, Catholic Relief Services, Church World Service, dan Samaritan’s Purse. Semuanya asal AS. Samaritan malah telah datang ke Ladong, 20 km dari Banda Aceh, membawa bantuan makanan dan obat-obatan. Benarkah demikian?

Penulis sendiri saat berada di Aceh sempat mendengar kabar dari seseorang yang bisa dipercaya bahwa Scientology juga membawa brosur-brosur tentang iman Kristiani di dalam tas-tas anggotanya. Kawan itu melihat langsung hal tersebut saat bertandang ke base-camp Scientology di depan Museum Aceh. Selain itu, Samaritans Purse merupakan organisasi misionaris yang dipimpin oleh Franklin Graham, pendeta fundamentalis AS yang sangat membenci Islam dan pro-Zionis-Israel. Percayakah kita akan segala dalihnya?

Gospel for Asia telah mengirimkan sekitar 100 ribu anggota kelompoknya ke tempat-tempat yang sulit dijangkau di kawasan bencana tsnumai di Asia. Mereka bekerja siang malam untuk memberikan bantuan makanan, air bersih, obat-obatan, pakaian, tempat berteduh, dan pelayanan rohani ‘Atas nama Yesus’ bagi para korban tsunami.

Harian Australia, International Herald Tribune (IHT) edisi 24 Januari 2005 memuat pernyataan tim dari The Antioch Community Church asal Waco-Texas, AS, yang berada di Aceh, yang berbunyi, “Provinsi Aceh siap untuk Jesus.”’ Kalimat ini diikuti kalimat, “Ini sebuah kesempatan, tempat itu (maksudnya Aceh, pen) tertutup selama lima tahun dan kaum misionaris di Indonesia menganggap itu sebagai tempat paling militan dan sulit untuk penyebaran Kristen. Sekarang, pintu telah terbuka lebar dan masyarakat di sana lapar.”

Selain IHT, harian ternama AS, New York Times, edisi 22 Januari 2005, juga memuat laporan serupa. Anak-anak korban bencana adalah sasaran utama mereka. Anak-anak itu diajari berdoa ala Kristen dan nanti akan dididik jadi Penginjil. Tim ini juga mengakui bahwa di Aceh, mereka menggunakan kelompok-kelompok kecil yang disebutnya “sel-sel gereja”, dengan tujuan untuk menarik anggota-anggota baru masuk ke kelompok itu.

Dr Tim McCall, anggota medis kelompok ini berkata, “Selain memberi pertolongan medis dan makanan, kita juga ikut mendoakan warga Aceh. Kita dengar cerita kepedihan mereka, kita menangis bersama, dan berdoa bersama mereka untuk mendapatkan harapan dalam Tuhan Yesus.” Pengakuan ini dimuat di situs resmi The Antioch pada bagian Indonesia Summary.

Ada 12 orang yang datang ke Aceh, lima di antaranya tenaga medis termasuk Tim sendiri. Menurut Tim, selama di Aceh, mereka dibantu 10 penduduk lokal dan dukungan helikopter Amerika. “Kita mendapat bantuan dari heli-heli AS untuk mengirim barang-barang ke desa dan sebaliknya,” tambah Tim. Mereka mendirikan pusat medis di dekat sebuah masjid. Komunitas Gereja Antioch termasuk kelompok Evangelis yang percaya perlunya campuran misi kemanusiaan dengan diskusi agama.



Pastor Scott Binnet asal AS yang mengambil posko di Gereja Hati Kudus, Banda Aceh, menyatakan bangga atas keberhasilan para misionaris untuk melayani warga Aceh. Pastor ini mengaku datang selalu setia mendatangi lokasi-lokasi terjadinya bencana alam di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini, seperti mendatangi korban gempa di Nabire Papua, dan mendatangi korban tanah longsor di Medan, Sumatera Utara.

“Saya datang hanya untuk menolong,” kilahnya. Yang mengejutkan, kepada sejumlah jurnalis yang menemuinya, Pastor Binnet juga mengakui saat itu telah ada sekitar 300-an anak-anak Aceh yang telah berada di sebuah sekolah Katolik di Medan. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

———————

Dapatkan App Eramuslim for Android KLIK DISINI.

Laporan Khusus Terbaru