Wan Azizah, Perempuan yang Berkhidmat Pada Negeri dan Suami

Wan Azizah memutuskan berhenti sebagai dokter ketika suaminya, Anwar Ibrahim, ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia pada tahun 1993. Tak lama setelah suaminya dijebloskan ke penjara oleh rezim Mahathir Mohamad pada 1998, dia mendirikan Partai Keadilan Rakyat.

Peran tersebut dilakoni sambil mengurus dan membesarkan keenam anaknya. Lewat partai itu dia masuk parlemen pada 1999 hingga 2008. Tapi Wan Azizah tetap merasa sebagai istri ketimbang sepenuhnya politisi. Dia bekhidmat kepada negerinya, tapi bekhidmat kepada suami dirasakannya menjadi lebih utama. Pada akhir Juli 2008, Wan Azizah memutuskan mundur dari parlemen untuk memberi jalan bagi Anwar yang memenangkan pemilu pada 26 Agustus 2008.

Ketika Anwar kembali harus masuk penjara pasca putusan Mahkamah Agung pada 2015, dia kembali mengambil kendali partai dan memimpin gerakan oposisi terhadap pemerintah. Keputusan berat dibuatnya pada 2016 ketika harus berkompromi dengan diri dan keluarganya demi kepentingan yang lebih besar.

Ya, Wan Azizah akhirnya menerima permintaan Mahathir yang baru keluar dari Barisan Nasional (UMNO) untuk berkoalisi dengan Partai Keadilan Rakyat. Kedua pihak yang selama 18 tahun berbeda haluan itu kembali dipersatukan oleh kepentingan lebih besar: menumbangkan rezim Najib Razak yang mereka nilai korup.

Dia kembali harus bertindak realistis untuk memberi panggung lebih besar kepada Mahathir memimpin gerakan oposisi. Saat mengumumkan Mahathir sebagai calon perdana menteri dari kubu oposisi pada Januari lalu, Wan Azizah tampak berusaha keras menahan agar air matanya tak menetes, meski suaranya jelas bergetar dan nyaris tercekat.

“Saat ini saya pikir kita harus realistis. Anwar masih berada di penjara. Kita membutuhkan seseorang yang memiliki kredibilitas dan pengalaman untuk memimpin kita,” kata Wan Azizah kemudian kepada Channel News Asia. “Mahathir sepakat dengan kita mengenai agenda reformasi. Saya pun mengenalkan dia tanpa adanya perasaan yang kita alami saat kepemimpinannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Mahathir pun telah menunjukkan sikap lebih objektif dalam menilai sosok Anwar. Dia mengakui mantan anak didiknya itu telah diperlakukan tidak adil. “Saya pikir, pemerintah harusnya mendorong agar Raja memberikan pengampunan penuh pada Anwar,” ucap Mahathir seperti dilaporkan The Star, 7 Juli 2017.

***

Sebelum Mahathir menyambangi Anwar Ibrahim di sebuah persidangan, lalu saling lempar senyum dan berjabat tangan pada 3 September 2016, kedua istri mereka telah lebih dulu melakukannya. Ketika Wan Azizah menjalani opname di sebuah rumah sakit di Bukit Segambut, Dr Siti Hasmah Mohd Ali, istri Mahathir, datang membesuk.