free hit counters
 

Masjid Dirusak, Jilbab Dilarang, Muslim Prancis Kian Tertekan

Redaksi – Selasa, 29 Sya'ban 1442 H / 13 April 2021 17:00 WIB

Masjid dicoret

Pejabat lokal di Kota Rennes, Prancis menyampaikan sebuah masjid di kota itu dindingnya dicoreti grafiti bernada Islamofobia.

Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin mengecam kejadian itu di saat umat Islam seluruh dunia hendak memasuki bulan suci Ramadan. Kejadian ini hanya berselang beberapa hari setelah penyerangan ke sebuah masjid di sebelah barat Prancis.

Pengurus dan anggota komunitas muslim di Kota Rennes menemukan grafiti itu pada Minggu pagi di dinding masjid dan bangunan Pusat Budaya Islam.

Coretan grafiti itu bernada menghina Islam dan Nabi Muhammad serta menyerukan dimulainya kembali Perang Salib. Mereka juga mendesak Katolik menjadi agama negara.

Kantor jaksa di Rennes kini sudah menggelar penyelidikan.

Muhammad Zaiduni, presiden dewan daerah muslim mengecam kata-kata grafiti itu.

“Kami adalah anak-anak bangsa dan kami menghadapi kebencian, kekerasan dan barbarisme,” kata dia kepada AFP, seperti dilansir laman Al Arabiya, Minggu (11/4).

Darmanin dalam cuitannya kemarin menyerukan solidaritas dan mengatakan dia akan mengunjungi masjid itu.

Wali Kota sosialis Natahlie Appere dan senator Valerie Boyer dari kubu aliran kanan mengecam aksi vandalisme di masjid itu.



Sebelumnya pada Kamis malam, pintu sebuah masjid di Kota Nantes hancur karena dibakar.

Sehari kemudian seorang pemuda 24 tahun didakwa mengancam sebuah masjid di Le Mans, juga di barat Prancis.

Abdullah Zakri, presiden Pemantau Nasional Terhadap Islamofobia, mengecam segala tindakan yang dia sebut anti-Islam tersebut.

“Sayangnya, pernyataan dari sejumlah politisi justru semakin memperburuk keadaan,” ujarnya kepada AFP. [Merdeka]

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Berita Terbaru