Abdul Karim: Mencari Berkah Ramadhan dengan Berjualan Peci

Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang dirasakan oleh umat Islam adalah sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Bersemangat dalam berusaha terutama pada bulan Ramadhan itu ditunjukan oleh Abdul Karim (27 tahun), penjual peci di depan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Peluang emas untuk mendapatkan untung yang berlipat di bulan Ramadhan, tidak dilewatkannya begitu saja.

Dia mengakui, pada malam bulan puasa Masjid Istiqlal ramai dibanjiri oleh jamaah yang hendak melakukan sholat tarawih, sehingga kesempatan itu tak boleh terlewatkan.

"Saya satu bulan penuh akan berjualan di sini, selama malam bulan puasa, kalau biasanya saya hanya memanfaatkan waktu sholat Jum’at, kalau sekarang bisa tiap hari," ujar pria lajang yang berdomilisi di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur.

Abdul Karim mengaku, keputusannya untuk memilih berjualan peci ini, disebabkan karena kesulitan mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan seperti di Pabrik ataupun tempat lain. Meski demikian dirinya merasa bangga karena dari hasil keringatnya ia bisa membantu kedua orang tuannya.

"Dari pada nganggur mendingan jualan setidak-tidaknya, ada pemasukan tiap hari, lumayan buat membantu orang tua, dan persiapan pulang mudik lebaran," tandasnya.

Ia menceritakan, dari hasil penjualan peci atau kopiah dalam sehari bisa menghasilkan uang sebesar 200 ribu rupiah, dengan keuntungan separuh dari hasil yang diterimanya.

Pada umumnya masyarakat terutama kaum pria memang sudah tidak asing dengan peci atau kopiah atau dengan nama lainnya songkok. Bentuk dasar peci ini awalnya hanya berwarna hitam dan hanya dipakai oleh kaum pria ketika sholat, namun dalam perkembangannya mulai beragam karena tiap-tiap daerah di Indonesia mempunyai ciri khas sendiri, seperti halnya peci Kalimantan berbeda dengan peci dari Jawa Barat. Kemudian peci-peci itu berkembang dengan nama-nama yang unik dan bentuk yang lebih bervariasi.

Peci yang dijual oleh Abdul Karim ini ada 6 varian, antara lain peci Taliban Panjang, peci Banjar, Peci Rajut Jaring, peci Batok, peci al-Ghozi, dan peci Garut. Masing-masing jenis ini berbeda bentuknya, serta memiliki keunggulan tersendiri. Misalnya saja peci Garut, sangat praktis untuk dibawa kemana-mana, karena bisa dilipat.

Abdul Karim menjelaskan, setiap jenis harganya berbeda-beda mulai dari 5.000 rupiah sampai 15.000 rupiah. Untuk peci taliban panjang harganya 15 ribu rupiah, sedangkan untuk peci Banjar, peci al-Ghozi dan peci batok harga satuannya 10 ribu rupiah, dan yang paling murah adalah peci Garut harga satuannya hanya 5 ribu rupiah saja.

"Saya mendapatkan peci-peci ini ada yang ambil langsung dari konveksi, adapula yang beli dari toko grosir, tapi kalau dari toko grosir harganya sudah lebih mahal untuk satu kodinya," tandas Karim.

Karim mengaku, walaupun tempat tinggalnya dekat dengan pasar yang besar, dirinya lebih cenderung senang berjualan diareal kawasan Masjid, karena lebih cocok dengan barang yang dijualnya.

"Kalau pasar Kramat Jati itu kan pasar sayur, makanya saya milih jualan di masjid-masjid besar, seperti masjid Al-Azhar Kalimalang, Al-Azhar Blok M, dan Masjid Istiqlal," jelasnya.

Ia mengaku untuk mendapatkan tempat yang strategis didepan pintu masuk Masjid Istiqlal, tidak dipungut biaya, hanya membayar sewa tempat dan uang kebersihan sebesar seribu rupiah satu hari, Dan untuk Ramadhan kali ini Abdul Karim berjualan sampai pukul 21.00 malam. (novel)