free hit counters
 

Anis Matta: Pidato Prabowo Adalah Warning Pertarungan Cina – AS

Redaksi – Senin, 8 Rajab 1439 H / 26 Maret 2018 11:30 WIB

Eramuslim.com – Pidato Ketum Gerindra Prabowo Subianto mengutip kajian Indonesia bubar para 2030 menuai polemik. Belakangan, diketahui Prabowo mengutip sebuah novel berjudul ‘Ghost Fleet’ karya Peter W. Singer dan August Cole.

Buku Ghost Fleet merupakan novel berlatar belakang konflik global yang melibatkan China dan Amerika Serikat (AS). Dalam novel tersebut Indonesia dikabarkan runtuh. Tapi, tak jelas apakah musnah atau menjadi negara gagal.

Namun, pidato Prabowo itu disambut positif oleh mantan Presiden PKS Anis Matta. Anis menilai, pidato Prabowo harusnya bisa dijadikan peringatan kepada Indonesia.

“Yang lebih penting, apa yang harus kita lakukan mulai dari sekarang? Jika skenario berjalan linear, dan kita tidak melakukan apa-apa, maka kita akan menjadi pelanduk yang terinjak-injak, di antara dua gajah yang bertarung,” ujar Anis dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Minggu (25/3).

Anis mengatakan, pada tahun 2030 jika AS tidak melakukan interupsi, akan terjadi crossing line, persimpangan dimana China diprediksi akan menjadi kekuatan nomor 1 dunia mengalahkan AS. Baik dari sisi ekonomi, teknologi dan militer.



“Dua gajah besar itu akan bertarung memperebutkan hegemoninya atas dunia. Bagaimana kita meresponnya, menjadi sangat menentukan masa depan Indonesia,” kata salah satu kandidat capres PKS itu.

Anis menambahkan, yang lebih penting adalah Indonesia menyiapkan diri menjadi faktor ‘interupsi’ itu. Indonesia harus mampu memimpin dan menggalang negara-negara di ASEAN untuk menjadi kawasan yang lebih independen dan mampu mengartikulasikan kepentingannya sendiri.

Menurut Anis, ASEAN jangan terombang-ambing dalam tarik-menarik Amerika-China. Apalagi, jika China benar-benar menjadi kekuatan notor 1 dunia, maka dominasi Negeri Tirai Bambu itu di Asia akan mutlak.

“Bersama ASEAN, Indonesia harus menjadi pemain global, dan menjadi faktor ‘interupsi’ yang mencegah terjadinya perang antara dua kekuatan adidaya dunia tersebut. Sebab pada dasarnya masyarakat dunia tidak menginginkan terjadinya perang,” tutup Anis. (kl/merdeka)

Berita Nasional Terbaru