Indonesia Antisipasi Penyebaran Flu Burung dari China

Pemerintah Indonesia mulai mengantisipasi masuknya virus flu burung jenis baru (H7N9) yang sejak sepekan lalu melanda China. Virus tersebut lebih mematikan dibandingkan jenis lama, yaitu H5N1. Kesiagaan ditingkatkan karena potensi penularan lintas negara masih cukup besar.
Wakil Menteri Kesehatan, Ali Ghufron Mukti mengatakan, masuknya virus tersebut ke Indonesia sangat mungkin terjadi. Meski hingga kini belum ditemukan mutasi Virus H7N9 di tanah air.
“Kemungkinan itu ada, karena mobilitas global unggas dan manusia. Dulu virus flu burung H5N1 juga lebih dulu terjadi di China dibanding Indonesia,” kata Ali Ghufron , Rabu 10 April 2013.
Ghufron mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Dia justru meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan seluruh unggas, baik itu peliharaan maupun ternak, harus mendapatkan vaksin.
Antisipasi lain yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI, menurut Ghufron, adalah membuat surat edaran ke seluruh Dinas Kesehatan untuk melakukan pengetatan dan perhatian lebih terhadap keberadaan unggas. Upaya mencegah penyebaran jenis baru virus flu burung itu juga harus didukung pemerintah daerah dengan lebih aktif memantau kondisi di lapangan.
“Jika terjadi kasus unggas yang terinfeksi maka surveillance (pemantauan untuk pengumpulan data terus menerus) di sekitarnya dilakukan, juga kerjasama lintas sektor,” ujarnya.
Ghufron pun menegaskan, yang perlu mendapat perhatian lebih adalah yang berhubungan dengan kemungkinan kontak langsung dengan sumber penularan. “Seperti di bandar udara atau pelabuhan, khususnya dari China. Tentu juga peternakan dan tempat jual beli unggas.”
Indonesia sendiri sebenarnya sudah mampu membuat vaksin Flu Burung Unit Pengendali Penyakit Avian Influenza (UPPAI) Pusat Kementerian Pertanian pada Januari 2013 lalu mengumumkan telah menemukan vaksin flu burung jenis baru H5N1 clade 2.3.2. Vaksin atas varian baru itu didapat dari kajian Pusat Pemberdayaan Masyarakat Veteriner di Surabaya, dan vaksin itu rencananya dibagikan gratis ke para peternak.
Namun, sayangnya, menurut Ghufron, vaksin terbaru itu belum mampu menghalau virus H7N9.
Strain-nya berbeda. Untuk mengetahui apakah bisa digunakan untuk H7N9, kita memerlukan pengkajian evaluasi urgensinya terlebih dahulu,” ungkapnya.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan melalui Journal of Virology mengungkapkan bahwastrain H7 merupakan keluarga dari virus flu yang telah menyebabkan lebih dari 100 kasus infeksi pada manusia selama dekade terakhir. Tahun 2003, wabah H7N7 sempat menghantui Belanda dan menyebabkan 89 orang terinfeksi serta satu orang meninggal.
Huruf “H” dan “N” yang tertera pada nama virus mengacu pada hemagglutinin danneuraminidase, merupakan protein pada permukaan virus. Terdapat 16 jenis hemagglutinindan sembilan jenis neuraminidase.
Gejala-gejala yang ditimbulkan bila seseorang terinfeksi virus H7 yaitu mengalami infeksi saluran pernapasan berlanjut ke pneumonia. Di masa lalu, virus H7 juga dapat menyebabkan konjungtivitas atau infeksi mata, namun tidak menular antar-orang per orang.
Korban virus H7N9 bertambah
Saat ini jumlah kasus penularan virus baru flu burung  mencapai 28 orang. Sementara laporan Komisi Perencanaan Keluarga dan Kesehatan China Nasional, menyatakan jumlah korban tewas akibat virus itu telah mencapai angka sembilan orang. Penderita diduga kuat terpapar virus flu burung karena kontak langsung dengan unggas. Belum ditemukan fakta ada penularan antarmanusia.
Kasus ini pertama kali diumumkan China pada hari Minggu, 31 Maret 2013 lalu. Kemudian, pada Selasa 9 April 2013, Pemerintah China mengatakan krisis flu burung jenis baru ini belum menunjukkan tanda-tanda akan reda, setelah dua korban baru dari provinsi Anhui dan Jiangsi tewas siang itu. Ini kali pertama flu burung menyebabkan kematian di dua provinsi itu.
Virus tersebut diketahui juga menjangkiti burung merpati namun belum diketahui ikut menularkan ke manusia atau tidak.
Salah satu korban tewas Rabu, 3 April 2013 lalu, berusia 48 tahun dan bekerja sebagai pengirim ayam ternak.
Majalah Caixin Selasa kemarin mengatakan para peneliti di China berhasil mengidentifikasi virus H7N9 yang merupakan perpaduan genetik antara burung yang bermigrasi dari Korea Selatan, dan bebek dari provinsi Zhejiang. Belum ditemukan fakta ada penularan antarmanusia.
Badan administrasi obat dan makanan China telah menyetujui penggunaan obat suntik anti-influenza. Obat itu disebut Peramivir dan diproduksi oleh BioCryst, salah satu perusahaan bioteknologi dari Amerika Serikat.
Menyebar ke Taiwan
Otoritas Penanggulangan Penyakit Taiwan melaporkan, dalam 24 jam terakhir tercatat tujuh warga Taiwan diduga suspect Virus flu burung H7N9 telah dilarikan ke rumah sakit, Senin 8 April 2013. Berdasarkan hasil tes darah, empat di antaranya telah dinyatakan negatif mengidap flu burung.
“Sejak awal virus H7N9 dilaporkan mewabah di pulau Taiwan pada 3 April lalu, tercatat sudah 27 orang dilaporkan menderita gejala mirip pasien flu burung. Namun, 24 di antaranya dinyatakan negatif H7N9,” ungkap Chang Feng-yee, Kepala Otoritas Penanggulangan Penyakit Taiwan dalam sebuah konferensi pers.
Sayangnya, Feng-yee tidak memberikan rincian kondisi tiga orang yang masih menjalani perawatan dan tes di rumah sakit tersebut.
Sejak H7N9 mewabah di China, Pemerintah Taiwan telah meningkatkan pengawasan dan juga kebersihan unggas di sejumlah peternakan. Langkah itu dilakukan untuk mencegah mewabahnya virus tersebut.
Sementara di China sendiri, sebanyak 100 ribu burung merpati di pasar unggar Shanghai telah dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus ini. Pemda Kementerian Pertanian Shanghai juga meminta menunda sementara perdagangan unggas, khususnya burung merpati. Pemerintah China juga telah menutup sementara semua pasar unggas di negara tersebut. Pemerintah kota Shanghai juga menutup pertanian Huhai, tempat ditemukannya virus H7N9 pada seekor merpati.
Hingga saat ini, pemerintah China dan badan kesehatan dunia (WHO) mengaku masih belum menemukan sumber infeksi flu burung jenis baru ini. Mereka juga masih berpegang kepada fakta sebelumnya yang menyebut virus ini tidak dapat menular antar manusia.
“Walaupun kami belum menemukan sumber infeksi saat ini, tetapi hingga kini belum ditemukan bukti bahwa virus ini menular antar manusia,” ujar perwakilan WHO di China, Michael O’Leary.
Pemerintah China dan WHO berjanji akan terus memantau dari dekat untuk mengetahui perkembangan kasus ini. Pemantauan juga dilakukan terhadap 621 kontak terdekat dari para korban penderita virus itu. Sejauh ini mereka tidak tertular.
Flu Burung Virus H7N9  mengandung virus patogenik rendah yang tidak mudah menular ke manusia. Sebagian besar kasus kematian oleh flu burung disebabkan oleh virus H5N1, yang sempat “menghantui” populasi Asia sejak pada 2003.
(Viva/Dz)