free hit counters
 

Jumlah Perokok Remaja Meningkat Akibat Terpengaruh Iklan Rokok

zahid – Selasa, 28 Zulhijjah 1438 H / 19 September 2017 18:00 WIB

Eramuslim – Sebuah penelitian yang dilakukan pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) mengungkapkan banyak remaja menjadi perokok pemula akibat menjadi korban iklan rokok, dalam penelitian berjudul ‘Hubungan antara Status Merokok pada Pelajar dengan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Pulau Jawa’.

Ketua Umum PP IPM, Velandani Prakoso mengatakan, produksi rokok di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Badan Kebijakan Fiskal mencatat, terjadi kenaikan produksi rokok dari 344,52 miliar batang pada 2014 menjadi 348,12 miliar batang di tahun 2015.

“Para perokok remaja menjadi salah satu kelompok usia yang menyumbang tingginya angka (produksi rokok) tersebut,” ujar Prakoso kepada Republika, Selasa (19/9).

Prakoso menerangkan, remaja adalah perokok pemula yang terpengaruh citra buatan industri rokok melalui promosi dan iklan di berbagai media. Pelaku industri rokok memang menyasar para remaja karena akan ditargetkan menjadi konsumen loyal untuk produknya di masa depan.

Menurut hasil penelitian, para remaja juga mudah dipengaruhi dengan stimulan-stimulan media. Faktor yang mendorong remaja mengkonsumsi rokok adalah keterpanaan mereka dengan iklan, promosi dan sponsor rokok.

“Sebanyak 98,97 persen responden (yang menjadi objek penelitian) mengaku pernah melihat iklan rokok dari berbagai media. Sebanyak 31,64 persen responden menyatakan bahwa iklan rokok yang selama ini beredar menarik,” jelasnya.

Peneliti ‘Hubungan antara Status Merokok pada Pelajar dengan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Pulau Jawa’, Rifki Solihatun mengungkapkan, iklan menggunakan bahasa persuasif untuk menarik perhatian penonton agar mau mencoba dan mengkonsumsi produk yang diiklankannya. Iklan menjadi stimulan agar siapapun yang melihatnya tertarik dan mau mencobanya.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

loading...

Berita Nasional Terbaru

blog comments powered by Disqus