free hit counters
 

Teroris OPM Tantang Polri/TNI Perang, 10.000 Warga Minta Dievakuasi Dari Wamena

Redaksi – Sabtu, 4 Safar 1441 H / 5 Oktober 2019 19:11 WIB

“Setelah itu kedua pelaku melarikan diri ke arah Kali Nakimo atas Bandara Ilaga,” tuturnya.

Eni pun terkejut, saat melihat di bawah meja kasir dalam kios suaminya sudah tergeletak dengan bersimbah darah.

Eni Safitri, wanita berusia 20 tahun, tidak menyangka bila suara tembakan yang didengarnya itu telah merenggut nyawa suaminya Caharuddin (25).

Saat peristiwa tragis terjadi pada Sabtu (28/9/2019), Eni sedang menidurkan anaknya Avia Salima yang baru berusia 1,8 tahun.

Dia sempat mendengar suara tembakan, namun dikiranya bunyi tembakan biasa yang sering didengarnya di Ilaga, Kabupaten Puncak.

Eni sendiri baru mendiami Ilaga selama 8 bulan.

Sedangkan suaminya Caharuddin sudah sekitar 4 tahun menjaga Kios Onyong, di dekat Bandara Aminggaru, Distrik Ilaga.

“Saya kira itu bunyi biasa. Saat waktu itu sedang tidurkan anak saya dalam kamar,” kata Eni ditemui di Kamar Jenazah RSUD Mimika, Minggu (29/9/2019).

Eni kemudian keluar dari dalam kamar.

Dia sempat menanyakan suaminya di mana, namun warga yang berada dekat kios hanya terdiam.

Eni pun terkejut, saat melihat di bawah meja kasir dalam kios suaminya sudah tergeletak dengan bersimbah darah.

Eni mengaku, setelah mendengar cerita para saksi, kedua terduga pelaku yang menembak mati suaminya itu sudah pernah berbelanja di kios sebelumnya.

“Orang itu biasa datang belanja. Tapi saya tidak sempat lihat karena waktu saya keluar mereka sudah pergi,” katanya.

Minggu sore, jenazah Caharuddin, telah diterbangkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk dimakamkan di kampung halamannya di Desa Walenreng, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone.

Jenazah Caharuddin sebelumnya pada Minggu pagi diterbangkan dari Ilaga ke Timika menggunakan pesawat milik maskapai Dimonim Air.

Selanjutnya, dibawa ke Kamar Jenazah RSUD Mimika untuk dikafani dan dishalatkan di Masjid Agung Babussalam, Jalan KH. Dewantara, Kota Timika.

Sebelumnya, pada Sabtu (28/9/2019) sekitar pukul 12.30 WIT, Caharuddin meninggal setelah ditembak oleh KKB pimpinan Lekakak Telenggen.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Polisi Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, dari keterangan masyarakat disebutkan bahwa melihat adanya dua orang menggunakan celana pendek dengan ciri-ciri menggunakan penutup kepala hitam, tinggi sekitar 160 cm, dan berbadan kekar serta brewokan.

Satu di antara mereka menggunakan sepatu lumpur.

Para pelaku kemudian mengeluarkan pistol dan menembak korban.

“Mereka mengeluarkan pistol lalu mengarahkan kepada korban, serta melakukan penembakan yang mengenai kepala Korban hingga meninggal dunia,” kata Kombes Kamal saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu sore.

Setelah menembak korban, kedua pelaku lalu menyampaikan kepada masyarakat yang hendak berbelanja di kios bahwa mereka berdua adalah adik dari Lekakak Telenggen.

“Setelah itu kedua pelaku melarikan diri ke arah Kali Nakimo atas Bandara Ilaga,” tuturnya.

Ribuan Orang Dievakuasi

Komandan Lanud Silas Papare Jayapura Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso menyebutkan, hingga kini jumlah warga yang mendaftar mencapai 10.000 orang.

“Sekarang yang daftar sudah sekitar 10.000. Ada 2.670 yang sudah diangkut ke Jayapura,” ujar Bowo di Jayapura, Minggu (29/9/2019) seperti dikutip dari Kompas.om.

Dari data yang dimiliki Kodim 1702/Jayawijaya, tercatat ada 6.784 orang di Wamena yang kini tengah mengungsi.



Mereka seluruhnya sudah mendaftar untuk dievakuasi ke Jayapura.

Namun, jumlah tersebut diperkirakan akan terus berubah, karena ada arus pengungsian baru dari kabupaten di sekitar Jayawijaya.

“Dari pos-pos di sekitar pegunungan sekarang banyak menuju ke Wamena. Memang sempat ada isu bahwa di Tolikara akan terjadi gejolak juga, sehingga mereka banyak yang merapat ke Wamena,” kata Bowo.

Bowo menyebutkan, kini sudah ada dua unit pesawat Hercules yang digunakan untuk mengevakuasi warga dari Wamena ke Jayapura.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Berita Nasional Terbaru