free hit counters
 

200 Tahun, “Pasar Baru” Terus Melaju

Redaksi – Rabu, 28 Jumadil Awwal 1442 H / 13 Januari 2021 14:15 WIB

Eramuslim.com – Memasuki usia 200 tahun Pasar Baru dihadapkan pada tantangan baru untuk bertahan bernama pandemi.

*

Perdagangan di pasar mungkin salah satu aktivitas tertua manusia. Di Nusantara, catatan tentang itu terlihat dalam relief Karmawibhangga panil 1 di Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Relief candi dari abad ke-10 M itu menggambarkan ramainya suasana pasar. Berbagai macam orang dan jenis barang bersua di pasar.

Suasana Pasar Baru tempo dulu. (Fernando Randy/Historia.id).

Seiring waktu, pasar berkembang di berbagai tempat. Sebagian di antaranya masih bertahan berabad lamanya. Di Jakarta, pasar semacam itu terletak kawasan di Jakarta Pusat. Bernama Pasar Baru, pasar ini merupakan pasar tertiga tertua di Jakarta setelah Pasar Senen dan Tanah Abang.

Pasar ini mempertemukan orang-orang dari berbagai ras di Batavia. Mulai warga Tionghoa, India, Eropa, sampai Melayu berdagang di Pasar Baru

Suasana Pasar Baru tempo dulu. (Fernando Randy/Historia.id).
Lee Ie Seng salah satu toko tertua di Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id).

Memasuki usianya yang sudah 200 tahun, tempat yang dulu bernama Passer Baroe ini terus menghadapi berbagai tantangan. Munculnya berbagai tempat belanja baru hingga bencana kebakaran yang berulang kali menimpa adalah sebagian dari percikan yang terjadi di sana.

Namun, itu semua nyatanya masih mampu diatasi oleh daerah yang ujung selatannya berbatasan langsung dengan Gedung Kesenian Jakarta tersebut.

Suasana Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id).
Aktivitas di Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id).
Para pengunjung saat berbelanja di Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id).
Berbagai pedagang di Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id).

Tantangan terberat bagi Pasar Baru sekarang adalah Covid-19. Sama seperti kawasan belanja lain, toko-toko di Pasar Baru mulai sepi pengunjung. Tukang bajaj yang biasa mangkal di sana pun kehilangan penumpang.



“Wah sepi sekali saat ini, baik akhir pekan maupun hari biasa. Lihat saja toko itu sudah tutup tidak bisa bertahan lagi,” ujar Rohman (63), salah satu tukang bajaj yang telah puluhan tahun mangkal di Pasar Baru.

“Bukan hanya itu, sekarang para tukang bajaj seperti saya pun susah mencari penumpang. Dulu siang begini sudah bisa bawa 7-8 penumpang. Sekarang sehari 2 penumpang saja sudah bagus,” lanjutnya.

Suasana Pasar Baru saat ini. (Fernando Randy/Historia.id).
Para pedagang di Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id).

Melihat kondisi Pasar Baru terkini memang bukan seperti biasanya. Namun, keyakinan agar tempat itu tetap bertahan masih terus ada. Salah satu faktornya adalah pengalaman para pedagang di sana yang telah puluhan tahun diterjang berbagai kendala, tapi mereka terus mampu beradaptasi dan hidup hingga saat ini.[Historia]

Penulis: Fernando Randy

Pedagang buah di kawasan Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id).
Berbagai barang yang dijual di kawasan Pasar Baru. (Fernando Randy/Historia.id).

Historia Terbaru