free hit counters
 

B2: Batak dan Babi

Redaksi – Rabu, 16 Jumadil Akhir 1441 H / 12 Februari 2020 08:30 WIB

Eramuslim.com – Binatang yang identik sebagai makanan (selain daging anjing) bagi suku Batak itu kini terancam dimusnahkan. Ada apa dengan binatang bertaring itu??

*

Keberadaan babi di kota Medan sedang dipermasalahkan. Ribuan massa yang mengatasnamakan gerakan #savebabi menggelar unjuk rasa menolak isu pemusnahan babi. Gagasan ini muncul setelah wabah virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dan Hog Cholera (Kolera Babi) melanda peternakan babi di Sumatra Utara. Untuk mengatasinya, pemerintah didesas-desukan akan memusnahkan babi dan menertibkan peternakannya.

Aksi #savebabi tersebut dilakukan di depan kantor DPRD Sumatra Utara di Jalan Imam Bonjol, Medan. Para pengunjuk rasa umumnya berasal dari suku Batak sebab mereka mengenakan ulos – kain khas Batak – sebagai penanda identitas. Bagi mereka babi mempunyai nilai penting. Selain mata pencaharian, beternak babi tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Batak.

“Kami menentang keras pemusnahan babi, karena kalau babi dimusnahkan berarti sudah menghilangkan budaya Batak. Karena sejak lahir sampai mati, babi jadi budaya di tanah Batak,” kata Boasa Simanjuntak, Ketua Aksi #savebabi dikutip merdeka.com.

Jauh sebelum masuknya pengaruh agama Islam dan Kristen, suku Batak Toba (selanjutnya akan disebut Batak saja) memang telah mengenal tradisi beternak babi. Orang Batak yang tinggal di rumah bolon (rumah panggung Batak) menjadikan kolongnya yang lapang sebagai tempat babi berkandang. Dalam bahasa Batak, babi disebut pinahan. Sementara babi yang berumur di bawah tiga bulan disebut lomok-lomok. Binatang ini termasuk cepat perkembangbiakannya dan gampang merawatnya.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru