free hit counters
 

Barisan Wanita Pelatjoer, Senjata Biologi Yang Makan Tuan di Zaman Revolusi

Redaksi – Kamis, 23 Rajab 1441 H / 19 Maret 2020 18:25 WIB

Eramuslim.com – Sekelompok pekerja seks komersial diorganisir oleh seorang jenderal Republik untuk menyebarkan penyakit dan menurunkan moral serdadu Belanda.

*

Satya Graha masih ingat bagaimana pada 1946-1947, perang telah membuat Yogyakarta begitu kumuh. Seiring membanjirnya para pengungsi, kota itu menjadi kawasan yang rawan tindak kejahatan. Para maling berkeliaran bukan saja di malam hari juga di siang hari bolong. Namun yang paling memusingkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Yogyakarta pun menjadi wilayah teraktif dalam soal transaksi seks.



“Praktek pelacuran marak di berbagai sudut kota hingga Yogyakarta saat itu terancam serangan penyakit kelamin,”kenang jurnalis tua yang pernah menghabiskan masa remajanya di kota gudeg tersebut.

Situasi itu pula yang dikeluhkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX di hadapan Mayor Jenderal Moestopo. Kepada penasehat khusus militer Presiden Sukarno itu, Sri Sultan meminta solusi supaya kota yang dipimpinnya kembali aman dan tentram.

Entah bagaimana awalnya, Moestopo kemudian memiliki ide nyeleneh: memberdayakan para  pekerja seks komersial itu untuk terlibat dalam revolusi. Caranya: dengan mengirimkan mereka ke daerah pendudukan Belanda dan berpraktek di sana. Tujuannya selain mengacaukan kondisi sosial juga untuk menurunkan daya tempur para prajurit Belanda.

“Istilah Pak Moes, mereka itu dilibatkan dalam psywar (perang psikologis),” ujar sejarawan Moehkardi kepada Historia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru