free hit counters
 

Cara Penguasa Jawa Melawan Tiongkok

Redaksi – Minggu, 12 Januari 2020 09:00 WIB

Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, walaupun dalam Nagarakrtagama disebut menundukkan bukan berarti ada pertempuran. “Kalau ada (pertempuran) itu akan mempermudah Mongol masuk, karena energi berkurang,” ujarnya.

Khususnya ekspedisi ke Malayu pada 1275. Untuk mempererat hubungan dengan Malayu, pada 1286 Kertanegara mengirimkan hadiah berupa arca Buddha Amoghapasa. Penempatannya di Dharmasraya dipimpin oleh empat pejabat tinggi dari Jawa.

Menurut Dwi itu bukan ekspedisi militer melainkan untuk merekut mitra sejajar. “Menurut saya ini semacam MoU (memorandum of understanding). Jika dua kekuatan itu berkoalisi, diharapkan dapat mengontrol Selat Malaka dan menghadapi musuh bersama, khususnya menghadapi serangan Mongol,” kata Dwi.

Selain di kawasan Nusantara, Kertanegara juga bersekutu dengan Kerajaan Champa. Tujuannya sama: untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Jawa untuk Mongol.

Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Adik Kertanegara itu menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307).

Kerja sama itu menguntungkan bagi Jawa ketika Kubilai Khan mengirim pasukan pada 1292 untuk menghukum Kertanegara. Raja Jaya Singhawarman III tidak mengizinkan mereka menurunkan jangkar di pelabuhan Champa untuk mengisi perbekalan. Apalagi selama berlayar ke Jawa, mereka menghadapi banyak kesulitan.



Shi Bi, salah satu komandan ekspedisi dalam catatannya di Sejarah Dinasti Yuan, menyebut angin selama pelayaran bertiup sangat kencang. Lautan begitu bergelombang membuat kapal terombang-ambing. Para prajurit pun tak makan selama berhari-hari.

Ditambah lagi, menurut W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, armada Mongol yang berlayar dari Quanzhou di Fujian itu tidak mengikuti rute biasanya yang menyusuri pesisir Malaka dan Sumatra. Mereka justru berlayar di tengah lautan dan dengan berani atau mungkin nekat mengambil rute lurus terdekat menuju tujuannya.

Akibatnya, dari ribuan kapal, yang berhasil sampai Jawa Timur hanya sebagian kecilnya. Banyak yang tewas. Baik karena serangan bajak laut, maupun penyakit. “Mongol itu tidak jago berlayar. Apalagi paling sulit melintasi Laut Cina Selatan,” kata Dwi.

Supremasi Tiongkok

Banyak yang yakin ekspedisi Khubilai Khan ke Jawa sebenarnya demi menguasai perdagangan laut. Namun, David W. Bade, ahli perpustakaan di Joseph Regenstein Library Universitas Chicago, dalam Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century, menjelaskan bahwa saat itu Jawa menjadi negara terakhir di selatan Tiongkok yang menolak tunduk. Pengaruh Jawa semakin besar setelah mengirim utusan ke Malayu dalam ekspedisi Pamalayu. Apalagi pengaruh Sriwijaya, yang berhubungan baik dengan Tiongkok, sudah pudar.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru