free hit counters
 

Futuh Jakarta 1 Syawal 933 Hijriyah

Redaksi – Kamis, 12 Syawwal 1438 H / 6 Juli 2017 09:30 WIB

Eramuslim.com – Pada 1 Syawal 933 Hijriyah, setelah langit mengumandangkan takbir dan tahmid semalaman, Al-Haj Fatahillah terbangun di duapertiga malam untuk menunaikan sholat tahajud. Setelah menyelesaikan rakaat terakhir, ulama asal Samudera Pasai yang memimpin pasukan gabungan, para Mujahidin Demak, Cirebon, dan Banten, ini menengadahkan tangan ke atas, meminta pada Illahi Rabbi agar memberikan sebuah nama bagi bandar Sunda Kelapa yang pagi nanti akan diterimanya dengan damai dari Ratu Nara.

Di tengah kekhusyukannya, tiba-tiba sebuah ayat suci al-Qur’an terlintas di benak Al-Haj Fatahillah. “Inna Fatahna Laka Fathan Mubina…”

“Sesungguhnya Kami telah membentangkan kepadamu (Wahai Muhammad) kemenangan yang nyata…” Itulah bunyi ayat pertama dari surat al-Fath (QS.48). Fatahillah sujud syukur dan bangkit dari sajadahnya.

Ba’da Subuh, takbir dan tahmid kembali bergema ke seantero Sunda Kalapa. Ratu Nara, seorang Muslim kepercayaan Raja Pajajaran, menyerahkan dengan damai Bandar Sunda Kalapa kepada Al-Haj Fatahillah. Dan Fatahillah pun memberi nama baru bagi bandar ini: Jayakarta. Kota Kemenangan. Nama yang diinspirasikan dari ayat pertama Qur’an surat al-Fath.

Di utara Jayakarta, ratusan kapal bermeriam yang diawaki Mujahidin Laut dari Kerajaan Islam Banten, Demak, dan Cirebon, yang telah disebar di beberapa pulau strategis di Kepulauan Seribu pagi itu mulai melihat tiang layar armada perang kafir-Portugis muncul di kejauhan. Mereka bersiap menyongsong dengan laras meriam mengarah ke sana. Ketika seluruh armada perang Portugis atau Paringgi yang menggunakan layar besar dengan salib merah masuk dalam jangkauan tembak. Maka serentak ratusan mulut meriam dari kapal-kapal perang Mujahidin memuntahkan bola-bola api dan melantakkan sebagian besar armada Portugis yang ditakuti di Selat Malaka dan belahan laut lainnya.

Armada kafir Portugis sama sekali tak menyangka. Kapal-kapal perang mereka hancur terbakar dengan hebat. Mereka panik. Dan hanya sebagian kecil yang berhasil  putar haluan dan kembali ke lautan lepas. Itu pun dikejar oleh sampan-sampan kecil berlayar lebar milik para Mujahidin yang bisa bergerak lebih cepat dan gesit.

Sunda Kelapa yang telah berganti nama menjadi Jayakarta, telah dibebaskan seluruhnya. Kafir Potugis yang bernafsu menguasai bandar ramai dan strategis ini telah hancur dan dipukul mundur dengan kekalahan yang dahsyat. Sejak saat itu, sejarah mencatat, Portugis tidak pernah kembali lagi ke Jakarta.

1 Syawal 933 Hijriyah, Jayakarta dibebaskan dalam kumandang takbir dan tahmid yang memenuhi langit. Inilah yang dicatat oleh Kitab Al-Fatawi, sebuah kitab tua tulisan para ulama dan sesepuh Jayakarta asli, yang ditulis secara turun-temurun dengan sanad yang shahih oleh para mushonif, yang sampai saat ini tidak diketahui oleh mereka yang bangga dengan sebutan “Sejarawan Jakarta”. Adalah ulama Jayakarta bernama Ratubagus Ahmad Syari Mertakusumah, yang menyalin ulang kitab ini di awal abad ke-20, dengan huruf Arab Melayu dengan gaya yang khas, berikut peta wilayah, gambar rumah dan keraton Jayakarta yang asli, aneka senjata Mujahidin Jayakarta, dan sebagainya.

Berabad kemudian, sore hari, bada asar, hari Rabu, 19 April 2017, bertepatan dengan 23 Rajab 1438 Hijriyah, takbir dan tahmid kembali bergema di langit seluruh Jakarta. Warga Jakarta dengan gembira dan penuh syukur merayakan kembalinya Kota Kemenangan ini dari cengkeraman kekuatan asing yang berlawanan dengan nafas dan fitrah Jayakarta. Jakarta telah bebas dan kembali ke pangkuan umat Islam. Jakarta telah kembali ke jati dirinya.

Dan malam takbiran 1 Syawal 1438 Hijriyah kemarin, alhamdulillah berlangsung dengan semarak dan relatif aman. Jakarta telah kembali ke pangkuan umat Muslim. Dan mudah-mudahan, Jakarta bisa kembali kepada jati dirinya sebagai Benteng Tauhid bagi bangsa dan negara ini. Amien ya Rabb al amiin. []

Penulis: Rizki Ridyasmara

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus