free hit counters
 

Haji Princen: Tentara Belanda Pro Indonesia Yang Kelabui Pao An Tui

Redaksi – Selasa, 20 Muharram 1439 H / 10 Oktober 2017 14:00 WIB

Eramuslim.com – Setiap bangsa memiliki definisinya sendiri tentang siapa yang disebut pahlawan. Setiap bangsa tentu juga memiliki definisinya sendiri tentang siapa yang disebut sebagai penghianat. Tapi dimana sebetulnya beda antara pahlawan dan penghianat itu. Dalam setiap pertempuran, seorang serdadu hanya memiliki dua pilihan: menjadi pahlawan atau penghianat.

Jan Cornelis Princen adalah sebuah perkecualian. Lelaki kelahiran Den Haag, Belanda, 21 November 1925 mengecap dua pilihan itu. Pada jamannya di negeri asalnya di Belanda sana, dia dikecam, dicacimaki dan berkali-kali diancam akan dibunuh sebagai disertir. Begitulah memang hukum perang. Bagaimana tidak, ketika perang kemerdekaan melawan Belanda pecah di negeri ini, seorang serdadu bule membelot, bergabung dengan tentara-tentara republiken.

Tapi toh, dia punya alasan. “Saya ini kan mengenal Symphoni ke-9 ciptaan Beethoven. Bunyi syairnya antara lain semua anak manusia harus bersaudara. Mengenai perasaan sesama saudara itu, saya rasakan ketika saya mendekam di kamp konsentrasi Jerman. Saya pernah mau dihukum mati. Dan itulah pengalaman dari sebuah negara yang pernah menjajah, yang kemudian dijajah negara lain,” katanya dalam sebuah perbincangan (Kompas, 26/11/95).

Poncke, demikian dia akrab dipanggil, memang bukan serdadu biasa. Ketika 100-an ribu serdadu Belanda manut taat pada komando parlemen selama masa kolonialisme di Indonesia, serdadu Poncke berpikir keras tentang realitas politik di tanah jajahan itu. Sejak awal serdadu bule ini memang gerah dengan perang. Tak heran ketika ada pendaftaran prajurit dia memilih untuk tidak mendaftarkan diri, lari ke Perancis. Lebih baik menjadi buruh pemetik anggur daripada membunuh para pejuang Indonesia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus