free hit counters
 

Jejak Historis Kuliner Negeri-Negeri Muslim

zahid – Rabu, 27 Muharram 1442 H / 16 September 2020 15:00 WIB

Eramuslim – Mulai dari kebab Turki yang merupakan salah satu fast food ternama di seantero bumi hingga rendang dari Sumatra Barat yang diberi gelar makanan terenak di dunia versi CNN, kuliner dari negeri-negeri Muslim tampaknya merupakan bintang baru dalam beberapa dekade terakhir. Para turis kini dengan mudah bisa menemukan restoran berlabel halal di negara-negara yang penduduknya mayoritas non-Muslim di Asia Timur, Eropa hingga Amerika Serikat (AS).

Apakah fenomena mengglobalnya kuliner Muslim ini adalah fenomena baru? Bagaimana sebenarnya jejak kuliner Islam di masa lalu dan dinamikanya hingga kini?

Orang Arab di zaman Nabi Muhammad hidup di zaman ketika bahan pangan dan lauk pauk jarang didapat. Kondisi geografis berupa gurun tidak memungkinkan surplus makanan.

Adakalanya selama berhari-hari mereka hanya memakan kurma dan air. Nabi Muhammad sendiri sangat jarang melihat roti putih. Tak heran bila dalam berbagai hadits, Nabi menekankan tentang perlunya bersikap hemat dengan makanan.



Orang Arab mengolah gandum secara minimal, dengan hanya menambahkan sedikit garam atau bumbu lainnya. Nabi Muhammad, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, bahkan pernah bersabda, “Garam adalah bagian penting dari makananmu”. Pendeknya, orang Arab kala itu, kata sejarawan David Waines (2011) tidak punya keragaman dalam hal makanan.

Kuliner Arab

Masyarakat Arab-Muslim baru mengenal diversifikasi makanan ketika Islam tersebar ke luar jazirah Arab. Kontak dengan daerah-daerah baru memungkinkan terjadinya pertukaran bahan makanan.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru