free hit counters
 

Jurus Muhammad Roem Menolak Sukarno

Redaksi – Rabu, 28 Jumadil Awwal 1442 H / 13 Januari 2021 13:45 WIB

eramuslim.com – Pada 1967, upaya Mohamad Roem menghilangkan kenangan pahitnya bersama Sukarno terancam gagal. Pembicaraan dengan calon besannya (Mas Suryo) tentang tamu undangan di acara pernikahan putrinya malah membuka luka lama bagi Roem. Belum juga genap setahun terbebas dari tahanan, dia harus kembali berurusan dengan sosok si pemberi trauma.

Peristiwa penangkapan beberapa tokoh oleh Sukarno, termasuk Roem, pada 1962 akibat perbedaan pandangan politik masih begitu membekas di ingatan Roem. Diceritakan di dalam bukunya Bunga Rampai dari Sejarah, dia hampir mendekam di penjara selama empat tahun sebelum akhirnya bebas pada 1966. Meski sudah berusaha memaafkan perbuatan Sukarno di masa lalu, Roem tetap menyimpan sedikit rasa tidak suka.

Pembicaraan tentang siapa saja yang akan diundang di acara sakral itu awalnya berjalan menyenangkan bagi Roem. Dia dan Mas Suryo saling memberi rekomendasi tamu undangan yang sama-sama dikehendaki. Sampai kemudian mantan Menteri Luar Negeri Kabinet Natsir ini dihadapkan dengan satu nama: “Mas Karno”.

header img



“Bagi saya akan sulit sekali untuk tidak mengundang Mas Karno. Mas Roem tahu hubungan saya sekeluarga selama ini dengan Mas Karno. Dalam politik kami sudah jauh terpisah. Malah waktu akhir ini semakakin jauh, dan sering saya memperingatkan dia. Di samping itu hubungan sudah seperti hubungan famili. Dalam keadaam dia seperti sekarang ini, mungkin dia akan sakit hati kalau tidak saya undang. Saya harap dengan sangat Mas Roem mempunyai pengertian untuk kesulitan saya ini. Mungkin dia tidak akan datang. Bagi saya sudah cukup kalau saya menyampaikan undangan,” ujar Mas Suryo coba membujuk Roem.

Roem awalnya tidak tahu menahu siapa sosok yang disebut oleh calon besannya ini. Tidak sedikitpun dia mengira Mas Karno ini adalah seseorang yang dikenalnya. “Siapa Mas Karno?” tanya Roem.

Mas Suryo agak keherananan mendengar pertanyaan Roem. “Mas Karno, Presiden Sukarno,” jawabnya.

Roem terdiam. Tak disangka dia akan mendengar nama itu dari mulut calon besannya. Roem mengaku sudah tidak memiliki kebencian terhadap Sukarno, tetapi baginya agak sulit untuk menghormati Sukarno sebagai tamu di rumah sendiri. Dia pun merasa tidak memiliki kedekatan secara khusus dengan Presiden RI yang pertama itu. Karenanya bukan sebuah kewajiban untuk memberi undangan kepadanya.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Historia Terbaru