free hit counters
 

Kiai Sadrach, Penginjil Mbalelo Tokoh Kristenisasi Tanah Jawa

Redaksi – Selasa, 10 Safar 1442 H / 29 September 2020 12:30 WIB

Eramuslim.com – Konon, ia terlahir dengan nama Radin, dan tetap menggunakan nama itu pada masa-masa muda, sebelum masuk pesantren di Jombang.

Sebuah sumber menyebutkan ia lahir pada 1835 di sebuah desa di Demak. Sebagaimana umumnya pribumi saat itu yang belum mengenal catatan, wajar bila ada pula yang menyebutnya lahir di Desa Loering, Karesidenan Semarang, dari keluarga petani miskin.

Pada usia awal ia sudah meninggalkan rumah, mengembara. Didorong tekad untuk belajar, sembari menemukan tempat bernaung dan makan, ia pun keluar-masuk pesantren. Memang, pesantrenlah saat itu tempat orang-orang menuntut ilmu secara ‘kaffah’—total, dalam arti ya belajar, ya hidup, ya cari makan, di situ-situ juga. Pesantren (zaman dulu) tak pernah menolak siapa pun yang mau jadi santri atau murid, sekali pun ia datang tanpa bekal, tanpa siap memberikan uang bangunan dan iuran bulanan. Bahkan tanpa catatan kelahiran!

Seringkali hidup dari belas kasihan sesama, Radin muda beberapa kali dipungut oleh orang Belanda.  Saat belajar di sebuah pesantren di Jombang, Radin menambahkan namanya menjadi Radin Abas, mungkin karena terpengaruh nama-nama Arab. Di kemudian hari ia menjadi seorang pengkhotbah, menarik pengikut di antara warga berbagai desa yang ia singgahi.  Sejak itulah ia disebut kyai, lengkapnya Kyai Sadrach Surapranata.

Tak banyak, bahkan terlalu Sang Kyai meninggalkan barang warisan. Salah satu yang langka itu sebuah buku kecil setebal sekitar 200 halaman, disimpan ahli warisnya di Karangjoso, Purworejo. Buku itu ditulis tangan dalam aksara Arab (kemungkinan Arab pegon), berisi uraian tentang tasawuf, silsilah raja-raja Islam, transkripsi mistik dari nama Nabi Muhammad SAW (mengulas huruf-hurufnya yang mengandung banyak makna), dan dialog antara Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang mengenai kehidupan di alam kubur.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru