free hit counters
 

Kisah Laskar Perempuan di Bandung Pemenggal Kepala Tentara Gurkha

Redaksi – Jumat, 12 Juli 2019 05:55 WIB

Begitu sampai di depan pintu, perempuan yang tak lain adalah Soesilowati itu, masuk dan langsung menemui Nasution. Tanpa banyak cakap, dia melemparkan sebuah bungkusan di atas meja Kepala Staf Panglima Komandemen Jawa Barat tersebut.

Begitu Nasution membukanya, langsung terperanjat. Di dalam bungkusan, nampak kepala seorang perwira Gurkha yang masih segar lengkap dengan pita-pita tanda kepangkatannya.

“Wajahnya simpatik dan nampak dia masih sangat muda namun sayang harus menjadi korban pergolakan politik negeri orang lain yang tak memiliki hubungan apapun dengan negaranya…” ujar Nasution.

Sejak itulah Nasution paham akan keberanian para mojang Bandung. Dia tak ragu lagi melibatkan mereka dalam setiap tugas dan pertempuran. Soesilowati sendiri, kata Nasution, secara sukarela kadang menjadi pengawal Nasution dalam setiap kegiatan komandemen.

“Yang saya masih ingat dari dia adalah kebiasaannya jika tengah melakukan pengawalan: duduk  tegap di atas kap mobil, ”kenang sang jenderal.



Selain Soesilowati, satu lagi anggota LASWI yang dikenal sebagai tukang penggal kepala tentara Gurkha di front Bandung adalah Willy Soekirman. Dalam buku Saya Pilih Mengungsikarya Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo dan Ummy Latifah Widodo, disebutkan nyaris pada setiap pertempuran kota di Bandung, Willy yang menggunakan sebilah pedang kecil sering terlibat perkelahian satu lawan satu dengan prajurit Gurkha yang bersenjata khukri (sejenis pisau tajam yang berbentuk melengkung) dan selalu berhasil memenggal kepala lawannya.

“Saya selalu tak sadar jika sedang memenggal kepala musuh. Tahu-tahu aja ada darah segar mengalir di tangan saya dan kawan-kawan di sekitar berteriak histeris menyemangati saya” ungkapnya.

Willy masih ingat sebuah duel yang dilakukannya dengan seorang prajurit Gurkha yang terus memburunya di dekat jembatan Viaduct. Ceritanya, Willy bersama pasukannya dalam suatu pertempuran terdesak dan menghindar. Namun begitu sampai jembatan Viaduct, dia sadar tak ada jalan lain. Tanpa banyak cakap, Willy mengeluarkan pedang kecilnya dan mengamuk. Perkelahian satu lawan satu pun dimenangkan Willy dengan disaksikan para pejuang lainnya. Sejak itulah nama Willy menjadi terkenal di kalangan pejuang Bandung.(kk/historia)

Penulis: Hendi Johari

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus