free hit counters
 

Kisah Mahathir: Jualan Pisang Goreng dan Kopi di Masa Perang

Redaksi – Kamis, 2 Rajab 1441 H / 27 Februari 2020 00:01 WIB

Eramuslim.com – Menjajakan kopi dan pisang goreng di masa perang, Mahathir Mohamad bermanuver di panggung politik hingga disegani di Negeri Jiran.

*

PERDANA Menteri Malaysia Mahathir Mohamad melepaskan jabatannya pada Senin, 24 Februari 2020. Koalisi Pakatan Harapan yang ia bentuk bersama Anwar Ibrahim pada 2018 pun turut bubar. “Dr. M”, julukan Mahathir, juga mundur dari kursi tertinggi Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), kendaraan politik yang didirikannya pada 2016.

Mahathir memang bukan termasuk jajaran “Bapak Pendiri Bangsa” negeri jiran. Namun 22 tahun pemerintahannya begitu sarat kontroversi, membuatnya dikenang bak “Macan dari Negeri Jiran”.



Didikan Keras Zaman Sulit

Keras dan kontroversial. Dua karakter itu melekat pada sosoknya sepanjang 22 tahun memimpin Malaysia. Dua karakter itu jelas buah dari pertautan sifat pribadinya dan pendidikan serta lingkungan tempat masa kecilnya bertumbuh.

Dalam memoarnya, A Doctor in the House, ia mengisahkan garis keluarganya. Ia lahir pada 10 Juli 1925 dari pasangan Mohamad Iskandar asal Penang dan Wan Tempawan yang masih kerabat dengan Kesultanan Kedah. Mahathir lahir sebagai anak kesembilan dari 10 bersaudara di rumah sederhana di perkampungan Seberang Perak, Alor Setar yang merupakan ibukota Kesultanan Kedah.

Meski bukan bangsawan, Iskandar punya kedudukan lumayan tinggi. Kesultanan Kedah mendatangkannya khusus dari Penang Free School pada 1908 untuk mengepalai sekolah menengah (SMP, red.) berbahasa Inggris pertama di Kedah, Government English School (kini Kolej Sultan Abdul Hamid). Sekolah itu merupakan sekolah khusus kaum elit dan aristokrat Kedah.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Historia Terbaru