free hit counters
 

Kisah Tiga Mahasiswa Indonesia Selamat Dari Bom Atom di Hiroshima

Redaksi – Selasa, 15 Zulhijjah 1439 H / 28 Agustus 2018 11:30 WIB

Eramuslim.com – Kampus Bunridai Tokubetsu Gakka di Horishima, Jepang, kelihatan lengang pada pagi, 6 Agustus 1945. Banyak kelas kosong tanpa mahasiswa dan dosen-dosen muda. Mereka bergabung secara berkala ke angkatan perang Jepang sebagai tenaga bantuan untuk menghadapi serangan tentara Amerika Serikat di kota-kota utama Jepang sejak awal 1945.

Sebuah sungai membentang di dekat kampus. Suara aliran sungai biasanya mudah terdengar oleh mahasiswa. Tapi tidak pagi itu. Pesawat pengebom Amerika Serikat terbang di atas kampus. Petugas keamanan Jepang membunyikan sirine peringatan tanda bahaya. Suaranya meraung-raung, menelan suara aliran sungai.

Empat mahasiswa, dua dari Indonesia (Arifin Bey dan Hasan Rahaya) dan dua asal Malaya, berada dalam kelas ketika suara pesawat pengebom dan sirine bersahutan. Mereka masih anyar sekaligus orang asing sehingga harus tetap menjalani perkuliahan di kampus. Dosen mereka berusia lanjut. Perawakannya kurus selaik orang kurang gizi. Langkah-langkahnya pun payah.

“Staf pengajar seperti inilah yang tinggal di kampus,” kenang Arifin dalam Pertiwi No. 4, 16-29 Juni 1986.

Dosen tua itu baru muncul di kelas usai suara pesawat pengebom dan sirine lenyap dari pendengarannya. Dia sempat bersembunyi di ruang bawah tanah kampus begitu mendengar suara pesawat pengebom dan sirine, sesuai instruksi keselamatan dari pihak kampus.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus