free hit counters
 

Kokam: Pasukan Antikomunis, Penjaga Aset Muhammadiyah (Tamat)

Redaksi – Selasa, 17 Safar 1442 H / 6 Oktober 2020 13:00 WIB

Eramuslim.com – Pada saat yang sama, pemuda Muhammadiyah juga ambil bagian dalam perlawanan terhadap PKI, termasuk dalam memenangkan hati dan pikiran penduduk dengan menyebarkan pamflet anti-PKI di berbagai tempat di Jawa Tengah. Yogyakarta dan Jawa Tengah tergolong hotspot karena selain terjadinya pembunuhan dua perwira tinggi Korem 72/Pamungkas, pada awal Oktober 1965 Ketua CC PKI, DN Aidit dikabarkan melarikan diri ke Yogyakarta. Rencananya, Jawa Tengah dan Yogyakarta akan dijadikan basis PKI selanjutnya untuk melanjutkan coup yang telah gagal di Jakarta.

Pawai keliling merupakan agenda yang kerap dilakukan KOKAM untuk show of force. Pada 26 Juli 1966, misalnya, di Alun-alun Utara Yogyakarta, Angkatan Muda Muhammadiyah mengadakan apel akbar serta dilanjutkan dengan pawai keliling kota. Besarnya jangkauan apel ini ditunjukkan oleh unsur yang hadir. Semua elemen dalam AMM ambil bagian, termasuk KOKAM, Bimasena, Tapak Suci, IMM, Pemuda Muhammadiyah, IPM, NA, serta murid-murid sekolah Muhammadiyah.

KOKAM dari berbagai Daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur turut meramaikan pawai tersebut. Juga kelompok-kelompok Islam lainnya, seperti HMI, PMII, PII dan Banser. Acara itu dihadiri oleh KH A Badawi dan Brigjen Sucipto, menteri pertanian dalam Kabinet Ampera yang sebelumnya kerap menyambangi Muhammadiyah guna mencari dukungan memberantas PKI.

Simbol Semangat

Di luar fungsi pengamanannya dan pascamenurunnya tensi setelah G 30 S, KOKAM juga menjadi simbol semangat dan energi, terutama bagi cabang Muhammadiyah yang baru tumbuh. Muhammadiyah Cabang Paciran/Blimbing, Lamongan, misalnya, berdiri pada awal 1966.

Sebelum diresmikan pendiriannya, warga Muhammadiyah telah aktif di sana, sehingga ketika diresmikan mereka sudah mempunyai TK, Madrasah Ibtidaiyah, dan PGAA dengan siswa mencapai 1.500 orang. Seiring dengan peresmian Cabang baru itu, di sana kemudian didirikan pula KOKAM dan PS Pemuda Muhammadiyah dengan tujuan “guna meningkatkan daya juang Muhammadiyah setempat”. Tampaknya, KOKAM mendapat keuntungan dari citra tentara yang baru saja memberantas kaum komunis, citra tentara yang identik dengan Pancasilais, anti-komunis, dan merakyat.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Historia Terbaru