free hit counters
 

Kota Benteng Menunggu Penelitian Serius Sejarawan

Redaksi – Selasa, 9 Zulqa'dah 1438 H / 1 Agustus 2017 06:30 WIB

Eramuslim.com – Banyak orang tidak tahu ketika ditanya dimana Kota Benteng? Namun ketika mendengar Kota Tangerang, nyaris semua pernah mendengarnya. Padahal, Kota Benteng adalah nama asli dari kota yang pusatnya berada di sisi kanan dan kiri aliran sungai Cisadane yang berbatasan langsung di sebelah timurnya dengan wilayah Ibukota Jakarta.

Dahulu, sebelum VOC berkuasa, wilayah ini masih hutan perawan dengan sedikit pribumi yang tinggal di tanahnya dengan hidup sebagai petani. Tanah ini masih masuk ke dalam kekuasaan Kesultanan Banten dan menjadi bagian dari Sunda Kalapa, sebelum diubah namanya oleh Fatahillah dengan nama Jayakarta. Namun setelah VOC datang dan merebut sebagian wilayahnya, aliran sungai Cisadane menjadi batas teritori. Sebelah barat Cisadane berada dalam kekuasaan Kesultanan Banten dan sebelah timur aliran sungai berada dalam genggaman kekuasaan VOC.

Ahad akhir Juli kemarin, saya berkesempatan mengunjungi kota tua ini yang memiliki sejarah dan warisan budaya yang sangat unik. Setelah mengunjungi beberapa destinasi wisata alam dis ekitaran Tangerang, saya berkesempatan menapaki kaki di wilayah Pasar Lama dimana di sini juga berdiri tugu jam yang menjadi titik nol dari Kota Tangerang.

Dari Tugu Jam yang penampilannya sama sekali tidak eye-catching, melewati gang selebar satu mobil di antara tenda dan lapak pasar lama yang berbau kurang sedap dan ada ceceran darah hewan potong serta sampah sayur dan buah busuk yang tertinggal, menyempil di sebelah kanan sebuah rumah indah dengan arsitektur Cina klasik dengan sebuah papan nama yang lagi-lagi tidak mencolok bertuliskan: Museum Benteng Heritage.

Museum Benteng Heritage tampak depan

Museum ini awalnya sebuah rumah tinggal dua lantai yang kemudian dijadikan tempat pemeliharaan tradisi dan budaya orang-orang Cina Tangerang, termasuk benda-benda khasnya, yang dikumpulkan dalam bilangan tahun. Walau menyandang nama “Museum Benteng” namun jangan menyangka bangunan ini laksana sebuah benteng dengan tembok tebal dan menara pengawas di tiap sudutnya. Ini hanya sebuah rumah dengan sejarah yang panjang dan aneka barang-barang koleksi peninggalan sang empunya rumah yang memang memiliki riwayatnya masing-masing.

Berdasarkan data dari Museum Benteng Herritage di Pasar Lama, keberadaan orang-orang Cina pertama kali di Kota Benteng diawali dengan mendaratnya sebagian anak buah laksamana Cheng Ho pada tahun 1407 yang dipimpin Chen Ci Lung alias Halung. Mereka inilah pioneer dan leluhur orang Cina Benteng sampai sekarang. Para pendatang ini bisa berbaur dengan baik dengan orang-orang pribumi yang kebanyakan berbahasa Sunda-Betawi.

Tiga abad kemudian, pada tahun 1740, pecah Tragedi Pecinan di Batavia dimana puluhan ribu orang Cina dibantai VOC dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier. Puluhan ribu orang Cina di Batavia menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka meninggalkan Batavia dan bersembunyi di barat kota yang sekarang menjadi Tangerang.

VOC membangun sebuah Benteng di pinggir kali Cisadane yang menghadap ke seberang sungai. Benteng ini sebagai tempat penjagaan maupun konsentrasi pasukan menghadapi kekuatan kesultanan Banten yang berada di seberang sungai. Benteng ini sekarang telah rata dengan tanah dimana dibangun Plaza Tangerang. Benteng inilah yang menjadi penamaan kota Tangerang dulu.

Klenteng Boen Tek Bio di halaman depan

Tidak jauh dari Museum Benteng Heritage, terdapat sebuah Klenteng Boen Tek Nio yang juga sangat bersejarah. Bagi yang ingin mengetahui sejarah Klenteng Boen Tek Bio silakan menelusuri berbagai artikel di www.boentekbio.org.

Museum Benteng Heritage, Menara Jam sebagai Titik Nol Tangerang, dan Klenteng Boen Tek Bio berada dalam wilayah Pasar Lama yang juga merupakan pusat wisata kuliner di Tangerang Kota. Bagi Muslim, sebelum membeli sesuatu lebih baik bertanya dulu apakah penganan yang disajikan halal atau tidak.

Yang unik dan mengundang rasa penasaran, jalan utama di pasar lama yang dikenal sebagai kawasan pecinan di Tangerang ini, nama jalannya adalah Jalan Kisamaun. Menurut beberapa orang yang ditanyakan, Ki Samaun atau Kiai Haji Samaun atau Semaun, merupakan salah satu pendekar atau jawara Banten yang tentu saja menjadi tokoh bagi Kota Benteng. Keterangan ini memang masih sangat prematur, diperlukan riset lebih mendalam tentang sejarah Kota Benteng ini. Tidak bisa dilakukan sambil lalu saja. Tangerang menunggu keseriusan peneliti sejarah agar kelak didapat sejarah yang benar-benar asli, bukan karangan bebas dari buku-buku yang ditulis para tukang tulis kompeni. (Rizki Ridyasmara)

Resensi Buku : Telah Terbit Edisi 9 cet 3, Eramuslim Digest, Untold History Sejarah Indonesia Pra Islam Hingga Abad 19

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus