free hit counters
 

Merayakan Lebaran di Masa Lampau

Redaksi – Minggu, 24 Mei 2020 11:00 WIB

Eramuslim.com -Beragam cara orang merayakan lebaran di beragam tempat pada masa lampau.

*

LEBARAN telah tiba. Orang-orang mengisi lebaran dengan beragam cara perilaku. Mereka beranjangsana ke kerabat dan tetangga, berekreasi ke tempat wisata, membagi amplop berisi uang, atau sekadar berkirim ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf melalui gawai elektronik. Sebagian merupakan tradisi turun-temurun dari lebaran masa lampau. Berikut ini cara orang merayakan lebaran sekira setengah hingga satu abad lampau di beragam kota.

Banyuwangi, Jawa Timur



Pagi hari, cara Orang Osing, penduduk tempatan di Banyuwangi, mengisi lebaran tiada beda dengan kebanyakan orang di berbagai tempat. Pergi sembahyang ke masjid atau tanah lapang. “Tetapi perayaan yang lebih menarik dan lebih dibesar-besar ialah sesudahnya. Dan biasanya dilakukan sore hari,” catat Terang Boelan, Nomor 7-8, 1954.

Wong Osing meramaikan jalan antara pukul 15.00 sampai 18.00. Mereka menggelar arak-arakan dengan bermacam-ragam kendaraan. Antara lain dokar, sepeda, dan mobil open kap. “Semua dihias dengan seindah-indahnya,” lanjut Terang Boelan.

Kebanyakan peserta arak-arakan adalah perempuan. Sisanya anak-anak kecil. Para pemuda berjejeran di tepi jalan menyaksikan arak-arakan. “Akibat yang biasanya menyusul dari arak-arakan itu ialah sesudah selesai perayaan Idul Fitri banyak terjadi di sana-sini pertunangan,” tulis Terang Boelan.

Terang Boelan tak bisa memastikan sejak kapan tradisi ini bermula. Tapi mereka menyebut kebiasaan ini berakar dari karakter Wong Osing yang patuh dan taat agama. “Karena yang demikian itu, maka di dalam pergaulan hidup sehari-hari, artinya penduduk dari masyarakat biasa, ada batas-batas yang sangat keras. Terutama antara si gadis dan jejaka.”

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru